Persik Kediri Andalkan Duet Djalo-Jun-heong, Ujian Kedalaman Skuad Jelang League Cup
Baca dalam 60 detik
- Persik Kediri mencatat rekor pertahanan terbaik di BRI Super League 2026/2027 dengan hanya kebobolan tiga gol berkat duet Marcelo Djalo dan Park Jun-heong.
- Kedalaman lini belakang Macan Putih akan diuji saat League Cup bergulir November mendatang karena regulasi hanya mengizinkan tiga pemain asing, sehingga Daffa Salman harus siap tampil.
- Konsistensi duet asing di jantung pertahanan menjadi kunci ambisi Persik bersaing di papan atas sekaligus menghadapi jadwal padat dua kompetisi.

Persik Kediri membuktikan bahwa perekrutan pemain pada bursa transfer lalu tidak sekadar formalitas. Hingga pekan kelima BRI Super League 2026/2027, gawang Macan Putih baru kemasukan tiga gol โ catatan terbaik di kompetisi โ dan rapor itu tak lepas dari peran duet Marcelo Djalo (Spanyol) dan Park Jun-heong (Korea Selatan) di jantung pertahanan.
Kombinasi keduanya memberi stabilitas yang jarang dimiliki tim promosi maupun kontestan lain. Pelatih Marcos Reina, yang juga berasal dari Spanyol, tampak sengaja membangun fondasi permainan dari lini belakang: dua bek asing berpengalaman dipadukan dengan kiper Andhika Ramadhani serta sejumlah nama lokal seperti Daffa Salman, Dzaky Asraf, Althaf Indie, Zanadin Fariz, dan Eduardo Barbosa. Hasilnya, Persik tidak hanya solid saat bertahan, tetapi juga lebih tenang ketika membangun serangan dari bawah.
Namun ujian sesungguhnya baru akan datang pada awal November. Persik dijadwalkan tampil di League Cup, kompetisi yang menerapkan regulasi berbeda: hanya tiga pemain asing yang boleh diturunkan. Artinya, Marcos Reina mesti merelakan salah satu dari duet Djalo-Jun-heong atau memutar opsi lain di lini belakang. Di sinilah nama Daffa Salman menjadi krusial. Bek yang pernah memperkuat Timnas Indonesia U-23 itu memang sempat diberi menit bermain saat Persik unggul, dan ia tercatat mampu beradaptasi cepat ketika dipasangkan dengan Djalo maupun Jun-heong.
Bagi Persik, keputusan belanja pemain yang tepat di awal musim tampaknya mulai berbuah. Klub yang bermarkas di Kediri ini tidak hanya mendatangkan nama-nama populer, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan taktis jangka panjang. Kehadiran Djalo dan Jun-heong, misalnya, memberi fleksibilitas bagi Reina untuk menerapkan garis pertahanan tinggi tanpa kehilangan kecepatan antisipasi. Sementara itu, keberadaan pemain muda seperti Daffa Salman dan Dzaky Asraf menjadi investasi untuk rotasi di tengah jadwal padat.
โKami memiliki kedalaman skuad yang cukup, tetapi kompetisi seperti League Cup menuntut adaptasi cepat. Pemain lokal harus siap mengambil peran lebih besar,โ ujar Marcos Reina seperti dikutip dari pernyataannya kepada media.
Pernyataan itu menggarisbawahi tantangan yang dihadapi tim-tim peserta League Cup: regulasi tiga pemain asing memaksa pelatih untuk lebih banyak mengandalkan pemain domestik, terutama di lini belakang yang biasanya menjadi area paling sensitif. Bagi Persik, ini bisa menjadi peluang emas untuk menguji mental dan kualitas pemain seperti Daffa Salman, yang selama ini lebih sering menjadi pelapis. Jika ia mampu tampil konsisten, bukan tidak mungkin posisinya di starting eleven liga juga ikut terangkat.
Di sisi lain, ketergantungan pada duet asing di liga tetap menjadi pisau bermata dua. Cedera atau akumulasi kartu bisa mendadak mengubah peta kekuatan pertahanan Persik. Marcos Reina pun dituntut cermat mengelola menit bermain, terlebih ketika kompetisi berjalan beriringan. Rotasi yang tepat akan menentukan apakah Macan Putih mampu mempertahankan rekor kebobolan minimnya atau justru kehilangan momentum di tengah jadwal yang menumpuk.
Pertanyaan ke depan: mampukah Persik menjaga keseimbangan antara ambisi di liga dan tuntutan regulasi di League Cup? Jawabannya akan mulai terlihat pada awal November, ketika Marcos Reina harus memilih antara mempertahankan tembok asingnya atau memberi kepercayaan penuh kepada pemain lokal.



