Starlink Dibatasi, Rusia Serang Infrastruktur Ukraina: Musim Dingin di Ambang Krisis
Baca dalam 60 detik
- Pembatasan Starlink oleh AS dimanfaatkan Rusia untuk menggempur jembatan dan jaringan energi Ukraina.
- Warga Ukraina sudah mengalami pemadaman listrik 4-12 jam per hari, dan serangan diperkirakan meningkat.
- Zelenskyy meminta dukungan darurat dari Uni Eropa saat hubungan dengan Trump memanas.

Ukraina bersiap menghadapi musim dingin terberat sejak invasi Rusia dimulai, setelah pembatasan penggunaan layanan satelit Starlink oleh Amerika Serikat dimanfaatkan Moskow untuk melancarkan serangan lebih intensif ke infrastruktur sipil dan energi. Serhiy Derkach, Wakil Menteri Pertama untuk Pemulihan, Infrastruktur, dan Transportasi Ukraina, mengungkapkan bahwa Rusia telah meningkatkan serangan terhadap jembatan di Kyiv yang berpotensi mengisolasi hampir 2 juta penduduk di tepi timur Sungai Dnipro.
Menurut Derkach, target serangan juga mencakup jaringan kereta api dan pos lintas batas, dengan tujuan melumpuhkan transportasi dan menebar kepanikan di kalangan warga. “Dengan AS membatasi penggunaan Starlink di medan perang, Rusia merasa inilah momen mereka untuk menimbulkan lebih banyak penderitaan pada infrastruktur sipil Ukraina,” ujarnya kepada CNBC, Jumat (16/10/2026). Ia menambahkan bahwa pemadaman listrik yang berlangsung 4 hingga 12 jam sehari sudah menjadi kenyataan pahit bagi warga.
Pembatasan Starlink oleh SpaceX menjadi pemicu ketegangan baru antara Washington dan Kyiv. Layanan internet satelit yang selama ini menjadi tulang punggung komunikasi militer Ukraina itu dilaporkan dibatasi penggunaannya di medan perang, memperlambat kemampuan Ukraina dalam mengoordinasikan pertahanan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam pertemuan puncak Uni Eropa di Brussels pada Jumat memuji “para pemimpin sejati” Eropa yang tetap mendukung Kyiv, sembari menyindir sikap Amerika Serikat yang mulai menjauh.
“Kami sangat berterima kasih atas dukungan besar dari Komisi dan para pemimpin Uni Eropa – para pemimpin sejati,” kata Zelenskyy, seraya menekankan bahwa Eropa telah menjadi penopang utama sejak awal perang.
Zelenskyy juga menyatakan bahwa Ukraina ingin mengakhiri perang secepat mungkin, namun tidak melihat sinyal dari Rusia untuk menghentikan agresi. “Kami ingin perang ini berakhir secepat mungkin. Kami tidak melihat sinyal dari pihak Rusia bahwa mereka siap mengakhirinya,” ujarnya kepada wartawan di Brussels.
Ketegangan antara Zelenskyy dan Presiden AS Donald Trump semakin membara. Trump pekan lalu mengumumkan kesepakatan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina, yang disebutnya sebagai upaya menstabilkan harga minyak dan diesel menjelang pemilihan sela November di AS. Namun, Rusia tidak pernah mengonfirmasi kesepakatan tersebut dan hanya menyatakan bahwa pembicaraan masih “berlangsung.” Zelenskyy menyebut kesepakatan pasokan diesel ke pasar global itu “lemah” dan mengungkapkan bahwa Ukraina menahan serangan terhadap target energi Rusia selama tiga hari untuk menghormati permintaan Washington.
Di balik layar, tiga pejabat yang mengetahui persiapan KTT Uni Eropa mengatakan kepada Financial Times bahwa para pemimpin Eropa akan secara pribadi mendesak Zelenskyy untuk mengurangi kritik publiknya terhadap Trump. Seorang diplomat Uni Eropa menilai kritik terbuka Zelenskyy “tidak membantu” dalam upaya menjaga hubungan dengan Washington. Situasi ini menempatkan Kyiv dalam posisi sulit: di satu sisi membutuhkan dukungan militer dan finansial dari AS, di sisi lain harus menghadapi kenyataan bahwa Washington semakin tidak dapat diandalkan.
Bagi Indonesia, eskalasi ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada teknologi asing—terutama dalam sektor strategis seperti komunikasi dan pertahanan—memiliki risiko geopolitik yang tinggi. Pembatasan Starlink menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi swasta dapat menjadi instrumen kebijakan luar negeri negara asalnya. Indonesia yang tengah mengembangkan satelit komunikasi sendiri dan memperluas infrastruktur digital di daerah terpencil perlu memperhitungkan skenario serupa, terutama jika terjadi ketegangan dengan negara pemasok teknologi.
Dengan musim dingin yang semakin dekat, Ukraina menghadapi ujian berat: apakah Eropa dapat mengompensasi berkurangnya dukungan AS, dan seberapa jauh Rusia akan memanfaatkan celah yang ada? Pertanyaan besarnya, apakah solidaritas Eropa cukup untuk menahan gempuran yang semakin brutal, atau justru menjadi babak baru yang lebih gelap bagi rakyat Ukraina?



