Aliansi Kuantum Dibentuk, 6,4 Juta Bitcoin Terancam Dibobol Komputer Masa Depan
Baca dalam 60 detik
- Sembilan perusahaan kripto meluncurkan Quantum Alliance untuk menyusun standar keamanan menghadapi ancaman komputer kuantum.
- Sekitar 6,4 juta BTC atau 30,2% dari total pasokan dinilai rentan karena kunci publiknya telah terekspos.
- Perdebatan memanas soal nasib 1,1 juta bitcoin milik Satoshi Nakamoto: dibekukan, dipindahkan, atau disita negara.

Ancaman komputer kuantum terhadap Bitcoin bukan lagi wacana akademis. Sembilan perusahaan kripto resmi membentuk Quantum Alliance guna merumuskan protokol keamanan bersama, menyusul estimasi bahwa 6,4 juta BTC—setara 30,2% dari total pasokan—berada dalam posisi rawan karena kunci publiknya sudah terbuka. Angka itu mencakup sekitar 1,1 juta koin yang diduga kuat milik pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto.
Kekhawatiran utamanya bukan pada pencurian hari ini, melainkan pada skenario ketika komputer kuantum yang cukup kuat—disebut Cryptographically Relevant Quantum Computer (CRQC)—mampu membalik kunci publik menjadi kunci privat. Christopher Smith, CEO Quantus, sebuah blockchain layer-1 yang diklaim tahan kuantum, memperkirakan pihak yang pertama menguasai teknologi itu berpotensi menyapu bersih koin-koin tersebut, bahkan dengan restu pemerintah nasional. "Skenario paling mungkin adalah siapa pun yang lebih dulu memiliki CRQC akan mengambilnya, mungkin dengan berkah negara," ujarnya kepada CoinDesk. "Semoga saja negara yang menyukai Bitcoin."
Quantum Alliance—beranggotakan antara lain Hacken, Midnight Foundation milik Charles Hoskinson, Quantus, dan Postquant Labs—berencana menerbitkan uji keamanan standar serta panduan migrasi jaringan yang ada menuju sistem tahan kuantum. Namun, pertanyaan paling mendesak justru soal waktu. Bryn Bennett, chief revenue officer The Vault, menilai tanggal pasti tidak diketahui, tetapi estimasi terus bergeser maju. "Pertanyaannya bukan apakah 2028 atau 2035, melainkan apakah kustodian mampu bermigrasi tepat waktu jika ancaman datang lebih cepat," katanya. Richard Carback dari Postquant Labs bahkan menyebut 2028 sebagai target realistis untuk mesin pemecah kriptografi saat ini.
Isu ini memicu dilema tata kelola yang pelik: haruskah pengembang membekukan aset rentan sebelum komputer kuantum menyentuhnya? Carback lebih memilih memindahkan koin tersebut, sementara Bennett menyoroti absennya otoritas yang bertanggung jawab. "Tidak ada yang memiliki masalah ini, dan itulah persoalannya. Kustodian melindungi aset klien, bukan aset terlantar. Membekukan koin adalah keputusan tata kelola jaringan Bitcoin, bukan industri," tegas Bennett. Ia menambahkan, pembekuan apa pun akan menukar risiko kuantum dengan preseden hak milik dan netralitas.
Wacana ini bukan hal baru. Pendiri Binance, Changpeng Zhao, pernah mengusulkan pembekuan 1,1 juta bitcoin milik Satoshi jika koin itu tetap tidak tersentuh seiring kemajuan teknologi kuantum. Pengembang Bitcoin, Jameson Lopp, juga mengajukan pembatasan serupa. Kritikus berpendapat, langkah itu bertentangan dengan janji Bitcoin sebagai aset yang tidak bisa disita siapa pun.
Membuat Bitcoin tahan kuantum berarti mengganti tanda tangan digital yang mengesahkan transaksi—sebuah perubahan yang menuntut konsensus pengembang, penambang, penyedia dompet, bursa, dan pengguna. Bennett menilai biaya sesungguhnya bukan pada kriptografi, melainkan pada koordinasi antar-pemangku kepentingan. Tanda tangan pengganti juga berpotensi memakan ruang blok lebih besar, yang bisa menaikkan biaya transaksi atau menurunkan kapasitas jaringan. Para peneliti tengah mengupayakan mitigasi dampak tersebut.
"Siapa pun yang lebih dulu memiliki komputer kuantum yang relevan secara kriptografis akan mengambil koin itu, mungkin dengan restu pemerintah negaranya." — Christopher Smith, CEO Quantus
Bagi Indonesia, implikasinya tidak bisa diabaikan. Bursa kripto domestik yang terdaftar di Bappebti menyimpan aset klien dalam jumlah signifikan, dan sebagian besar masih menggunakan skema kriptografi klasik. Tanpa peta jalan migrasi ke algoritma pasca-kuantum, risiko sistemik bisa menumpuk di tingkat kustodian dan exchange lokal. Regulator perlu mulai memasukkan standar tahan kuantum ke dalam kerangka uji kelayakan sistem, bukan sekadar menunggu standar global matang.
Yang tersisa adalah pertanyaan mendasar: dapatkah jaringan Bitcoin melindungi dana pengguna tanpa mengubah aturan yang justru membuatnya menarik sejak awal? Jika Quantum Alliance berhasil merumuskan standar bersama, tekanan akan beralih ke komunitas Bitcoin untuk memutuskan apakah netralitas protokol masih bisa dipertahankan di era komputer kuantum.



