James McAvoy Ungkap 'Split' Jadi Satu-satunya Film yang Terus Hasilkan Royalti
Baca dalam 60 detik
- James McAvoy menyebut Split sebagai satu-satunya proyek filmnya yang masih memberikan pembayaran residual secara konsisten.
- Struktur anggaran rendah film garapan M. Night Shyamalan itu membuatnya balik modal dalam hitungan hari, berbeda dari film-film besar McAvoy lainnya.
- Kisah ini menyoroti ketimpangan sistem royalti Hollywood yang jarang dibahas publik, sekaligus memicu diskusi soal posisi pekerja kreatif di industri hiburan Indonesia.

Aktor asal Skotlandia James McAvoy mengungkap bahwa dari puluhan judul yang pernah ia bintangi, hanya Split (2017) yang secara rutin mengirimkan cek residual ke rekeningnya. Pengakuan itu disampaikannya dalam podcast Happy Sad Confused yang dipandu Josh Horowitz, dan langsung menarik perhatian karena membuka tabir sisi bisnis Hollywood yang jarang dibicarakan aktor papan atas.
McAvoy, yang dikenal lewat peran Professor Charles Xavier dalam seri X-Men serta film drama seperti Atonement dan The Last King of Scotland, menyebut nominal yang ia terima dari sebagian besar filmnya sangat kecil. Menurutnya, tidak jarang ia hanya menerima bayaran tambahan senilai beberapa ratus pound, bahkan ada kalanya hanya 25 sen. Kondisi itu kontras dengan ekspektasi publik yang sering menganggap bintang film besar terus menuai keuntungan dari karya lama mereka.
Ia secara khusus membantah anggapan bahwa Wanted (2008), film aksi yang dibintanginya bersama Angelina Jolie, menghasilkan residual besar. Meski sukses secara internasional, McAvoy menilai film tersebut tidak memberikan aliran pendapatan yang signifikan baginya. Sebaliknya, ia justru menunjuk Split sebagai anomali yang menguntungkan.
McAvoy menjelaskan bahwa kunci keuntungan Split terletak pada struktur pembiayaan yang dirancang sutradara M. Night Shyamalan. Dengan modal produksi yang relatif mungil, film itu tidak perlu menunggu waktu lama untuk melewati titik impas. Ia menyebut skema tersebut sebagai hal yang "gila" dan memuji Shyamalan sebagai sosok yang cerdas dalam mengelola produksi.
"Kami membuatnya dengan biaya sekitar 6 juta dolar. Mereka menghabiskan 30 juta dolar untuk promosi. Akhir pekan pertama kami meraup 40 juta dolar, jadi kami sudah untung. Cek residual pertama datang di akhir pekan pertama itu," ujar McAvoy.
Dalam Split, McAvoy memerankan Kevin Wendell Crumb, pria dengan gangguan identitas disosiatif yang memiliki sejumlah kepribadian berbeda. Peran itu menuntutnya berpindah cepat antara karakter dengan suara, gestur, dan perilaku yang saling bertolak belakang. Film tersebut kemudian berlanjut ke Glass (2019), yang menyatukan semesta cerita dengan Unbreakable.
Meski penampilannya banyak dipuji, McAvoy tidak pernah masuk nominasi di ajang penghargaan besar Hollywood. Ia mengaku tidak terlalu berharap peran bergenre horor atau thriller diterima di lingkaran itu. Menurutnya, beberapa tahun terakhir memang ada aktor horor yang mulai menembus nominasi, tetapi jumlahnya masih sangat sedikit dibandingkan volume karya berkualitas di genre tersebut.
Kritik McAvoy menyentuh persoalan yang lebih luas: cara industri penghargaan menilai akting berdasarkan genre. Ia menilai masih banyak penampilan kuat yang luput dari perhatian karena jenis filmnya dianggap kurang prestisius. Pandangan itu sejalan dengan keluhan sejumlah pekerja seni di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang menghadapi bias serupa antara film komersial dan film festival.
Bagi industri hiburan Indonesia, pernyataan McAvoy relevan untuk membaca ulang sistem bagi hasil dan royalti. Aktor dan kru di dalam negeri kerap hanya menerima bayaran sekali di muka, tanpa hak residual ketika karya mereka diputar ulang di platform streaming atau televisi. Padahal, platform digital terus menayangkan konten lama dan meraup pendapatan berulang dari karya tersebut. Ketimpangan ini menjadi salah satu isu yang mulai didorong oleh serikat pekerja kreatif di berbagai negara.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya soal berapa besar cek residual yang diterima seorang bintang Hollywood, melainkan seberapa adil ekosistem hiburan global dan domestik membagi keuntungan dari karya yang terus dikonsumsi publik. Jika film berbiaya rendah seperti Split bisa menjadi sumber pendapatan jangka panjang, mengapa banyak pekerja kreatif lain justru tidak mendapat manfaat serupa?



