Kendalikan Hipertensi, Setengah Juta Nyawa per Tahun Bisa Diselamatkan
Baca dalam 60 detik
- Pemodelan data dari 20 negara memperkirakan perluasan layanan hipertensi hingga 80% pasien dapat mencegah 518.476 kematian kardiovaskular setiap tahun.
- Hanya sekitar 20% penderita hipertensi yang tekanan darahnya terkendali di bawah 140/90 mmHg, menandakan kesenjangan besar dalam perawatan preventif.
- Peneliti menekankan perlunya strategi konkret untuk menjangkau kelompok berisiko, terutama di negara berpendapatan menengah ke bawah yang menyumbang mayoritas kematian akibat penyakit tidak menular.

Sebuah analisis pemodelan yang dipresentasikan pada American Heart Association’s Hypertension Scientific Sessions 2026 di Arlington, Virginia, memperkirakan bahwa perluasan tata laksana hipertensi dapat menyelamatkan lebih dari 518.000 jiwa setiap tahun di 20 negara dengan angka kematian penyakit tidak menular tertinggi. Temuan ini, yang belum melalui telaah sejawat, menyoroti besarnya peluang perbaikan dalam layanan kesehatan preventif global.
Studi yang dipimpin Scott Pilla, MD, MHS, ini mengevaluasi enam jenis layanan preventif, termasuk pengendalian tekanan darah, penggunaan statin untuk kolesterol tinggi, pengelolaan gula darah pada diabetes, serta skrining kanker. Dengan membandingkan cakupan layanan saat ini terhadap target 80% pasien yang memenuhi syarat, para peneliti menghitung potensi penurunan angka kematian. Hasilnya, pengendalian hipertensi memberikan dampak terbesar, diikuti oleh perluasan statin (340.682 kematian tercegah) dan manajemen glukosa (309.520 kematian tercegah).
Hipertensi dikenal sebagai “pembunuh senyap” karena sering tanpa gejala selama bertahun-tahun, namun merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, stroke, dan demensia. Menurut Daniel W. Jones, MD, FAHA, yang tidak terlibat dalam studi, kepatuhan pada pedoman pengobatan berbasis bukti tidak hanya memperpanjang usia tetapi juga meningkatkan kualitas hidup. “Pengobatan hipertensi yang tepat sasaran menghasilkan hidup yang lebih panjang dan lebih sehat,” ujarnya dalam siaran pers.
“Hambatan terbesar dalam perawatan preventif adalah orang sering tidak merasa sakit, sehingga tidak melihat urgensi untuk memeriksakan diri. Hipertensi contoh klasik karena berkembang diam-diam selama bertahun-tahun,” kata Opel Baker, MBChB, dokter umum di Mayfield Clinic, kepada Medical News Today.
Senada, Nissi Suppogu, MD, kardiolog di MemorialCare Heart & Vascular Institute, menambahkan bahwa biaya layanan kesehatan, akses terbatas ke penyedia layanan, dan kesulitan menjaga kebiasaan sehat turut memperparah kesenjangan. Data menunjukkan 73% kematian akibat penyakit tidak menular terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah, namun analisis ini belum mencakup negara berpendapatan rendah.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi hipertensi yang tinggi. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat 34,1% penduduk dewasa mengalami hipertensi, tetapi hanya sekitar 8% yang terdiagnosis dan menjalani pengobatan. Keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan, terutama di daerah terpencil, serta rendahnya kesadaran akan pentingnya cek tekanan darah rutin menjadi tantangan utama. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebenarnya membuka peluang untuk memperluas deteksi dini dan pengobatan, namun implementasinya masih perlu penguatan.
Studi ini tidak memberikan rekomendasi spesifik tentang cara memperluas akses, sehingga penelitian lanjutan diperlukan untuk merancang intervensi yang efektif, terutama di negara dengan sumber daya terbatas. Meski demikian, pesan utamanya jelas: pengelolaan hipertensi yang agresif adalah salah satu intervensi kesehatan paling berdampak. Pertanyaannya, apakah sistem kesehatan di negara-negara dengan beban penyakit tidak menular tertinggi mampu bergerak dari 20% ke 80% cakupan dalam waktu dekat?



