I.League Ancam Pengurangan Poin: Sanksi Baru untuk Klub Pelaku Kekerasan
Baca dalam 60 detik
- I.League berencana memperberat sanksi bagi klub yang terlibat kekerasan, termasuk opsi pengurangan poin.
- Operator kompetisi menilai denda finansial selama ini tidak menimbulkan efek jera bagi pelanggar.
- Kebijakan ini dibarengi upaya menjaga kehadiran suporter tamu yang baru dipulihkan musim ini.

Operator kompetisi I.League mengisyaratkan bakal menerapkan hukuman yang lebih keras terhadap klub-klub yang tersandung kasus kekerasan. Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menyatakan pihaknya siap berkoordinasi dengan PSSI untuk memperkuat Kode Disiplin, termasuk membuka peluang sanksi pengurangan poin bagi klub yang terbukti bersalah dalam pelanggaran berat.
Langkah ini muncul setelah sejumlah insiden keamanan dalam beberapa waktu terakhir. Ferry menyoroti peristiwa yang menimpa rombongan pemain EPA One U18 Persib Bandung serta suporter Persija Jakarta. Menurutnya, rivalitas antarklub seharusnya menjadi bumbu kompetisi, bukan pemicu aksi yang mengancam keselamatan orang lain.
"Kami sepenuhnya mendukung sikap Ketua Umum PSSI. Sepak bola Indonesia sedang berkembang ke arah yang semakin baik. Kompetisi semakin kompetitif, atmosfer stadion semakin hidup, dan suporter tim tamu akhirnya kembali bisa hadir. Semua kemajuan ini harus kita jaga. Jangan sampai tindakan kekerasan justru membawa sepak bola kita kembali mundur," ujar Ferry.
Dalam pandangan I.League, sanksi finansial yang selama ini dijatuhkan kerap tidak menimbulkan rasa takut bagi klub. Ferry menilai perlu ada terobosan hukuman yang benar-benar membuat pelanggar berpikir dua kali. Karena itu, operator liga membuka diskusi dengan PSSI untuk menambah jenis hukuman, termasuk pengurangan poin jika terjadi pelanggaran serius sesuai regulasi.
"Melihat perkembangan dan potensi konflik yang mulai muncul, kami berpandangan bahwa ketentuan hukuman perlu diperkuat. Sanksi tidak boleh hanya berhenti pada denda atau hukuman yang tidak memberikan efek jera. Kami siap berkoordinasi dengan PSSI untuk mendorong sanksi yang lebih berat, termasuk pengurangan poin bagi klub apabila terjadi pelanggaran serius sesuai dengan ketentuan yang berlaku," tegas Ferry.
Meski demikian, I.League menegaskan bahwa setiap sanksi harus berpijak pada regulasi yang jelas dan melalui proses pembuktian yang sah. Operator juga membedakan antara pelanggaran disiplin di dalam penyelenggaraan pertandingan dengan tindakan kriminal di luar konteks pertandingan. Pelanggaran keamanan di stadion atau area yang diatur regulasi dapat diproses lewat mekanisme disiplin sepak bola, sedangkan tindak pidana seperti penyerangan dan penganiayaan menjadi ranah kepolisian.
Di sisi lain, I.League tetap berkomitmen menjaga keberlanjutan kebijakan yang memungkinkan suporter tim tamu hadir di stadion musim ini. Kehadiran suporter tamu dianggap sebagai bagian dari upaya membangun iklim kompetisi yang lebih terbuka dan kompetitif. Proses pemulihan hak suporter tamu melibatkan koordinasi lintas pihak, termasuk PSSI, FIFA, kepolisian, klub, dan pemangku kepentingan lainnya.
Ferry menekankan bahwa kesempatan suporter tamu harus dijaga bersama agar perilaku segelintir oknum tidak merugikan mayoritas yang tertib. Ia ingin suporter tamu tetap bisa hadir dengan aman selama aturan ditegakkan secara konsisten.
"Kami ingin suporter tamu tetap bisa hadir. Justru karena itulah aturan harus ditegakkan lebih tegas. Jangan sampai kesempatan yang sudah diperjuangkan bersama selama ini kembali hilang hanya karena tindakan segelintir orang. Kami tidak ingin klub dan mayoritas suporter yang sudah tertib ikut menjadi korban," jelas Ferry.
Sebagai langkah lanjutan, I.League akan memperkuat evaluasi kepatuhan klub, mitigasi risiko pertandingan, koordinasi keamanan, serta pembinaan dan komunikasi dengan komunitas suporter. Penguatan ketentuan disiplin akan dikoordinasikan bersama PSSI melalui mekanisme yang berlaku.
Ferry mengimbau seluruh elemen sepak bola nasional menjaga momentum positif kompetisi dengan mengedepankan sportivitas dan keselamatan. "Ketegasan ini bukan untuk menghukum sepak bola Indonesia, melainkan untuk melindungi masa depannya. Kami ingin kompetisi terus maju, stadion semakin ramai, dan suporter bisa mendukung klub kebanggaannya dengan aman. Sepak bola kita sudah melangkah maju, dan kita tidak boleh membiarkannya mundur lagi," tutup Ferry Paulus.
Jika benar diterapkan, sanksi pengurangan poin bisa menjadi preseden baru dalam penegakan disiplin di sepak bola Indonesia. Klub-klub kini dihadapkan pada pilihan sulit: menjaga sportivitas atau menerima konsekuensi yang mengancam posisi di klasemen. Publik menanti seberapa jauh PSSI dan I.League berani mengeksekusi aturan ini tanpa pandang bulu.



