China Jamin Pasokan Rare Earth ke Eropa, Sinyal Perang Dagang dengan AS Belum Usai
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Perdagangan China menegaskan komitmen untuk terus mengucurkan lisensi ekspor logam tanah jarang ke Uni Eropa, terlepas dari tenggat perpanjangan gencatan dagang AS-China pada Januari.
- Langkah ini mempertegas upaya Beijing memisahkan front Eropa dari konflik dengan Washington, sekaligus memanfaatkan ketergantungan industri Eropa pada mineral kritis.
- Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi cermin bahwa hilirisasi nikel dan tanah jarang berpotensi menjadi kartu tawar strategis di panggung global.

China memastikan aliran ekspor logam tanah jarang (rare earth) ke Uni Eropa tidak akan terganggu oleh ketidakpastian perpanjangan kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat. Juru bicara Kementerian Perdagangan China, He Yadong, menyatakan Beijing siap melanjutkan pemberian lisensi ekspor ke Eropa, menjawab pertanyaan mengenai dampak tenggat Januari dalam gencatan senjata dagang AS-China.
Pernyataan itu muncul di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda. Oktober lalu, China memperketat aturan ekspor seluruh produk yang mengandung setidaknya 0,1% rare earth asal China. Kebijakan tersebut merupakan balasan atas aturan baru AS yang memperluas daftar hitam entitas ke anak perusahaan yang dimiliki mayoritas perusahaan China, berpotensi menjerat sekitar 20.000 entitas.
Namun, kedua negara sepakat menangguhkan tindakan tersebut selama satu tahun dalam pertemuan puncak Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump pada akhir Oktober 2025. Menteri Keuangan AS Scott Bessent kemudian menyebut gencatan itu diperpanjang dua bulan hingga Januari. Kini, dengan tenggat yang kian dekat, China memberi sinyal bahwa Eropa tidak perlu ikut menanggung risiko eskalasi.
Minggu lalu, Ketua Perdagangan Eropa Maroลก Sefฤoviฤ bertemu Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Beijing. Dalam pertemuan itu, China menawarkan mekanisme "jalur hijau" untuk memperlancar ekspor rare earth ke Eropa, sembari meminta dukungan blok tersebut terhadap impor China di sektor barang dual-use. Kesepakatan ini menandai meredanya ketegangan dagang antara Brussels dan Beijing.
"China bersedia terus menyetujui lisensi ekspor rare earth ke Eropa," ujar He Yadong, seperti dikutip CNBC, menegaskan posisi Beijing yang ingin menjaga hubungan dagang dengan Uni Eropa tetap stabil.
Langkah China ini dinilai sebagai strategi memisahkan front Eropa dari konflik dengan AS. Dengan memberi jaminan pasokan, Beijing berupaya mencegah Eropa bergabung dengan Washington dalam front tekanan teknologi dan perdagangan. Di sisi lain, Eropa berada di posisi sulit: mereka membutuhkan rare earth untuk transisi energi, tetapi juga menghadapi tekanan politik untuk mengurangi ketergantungan pada China.
Komisi Eropa dijadwalkan menggelar pertemuan di Brussels pada Kamis dan Jumat untuk membahas rincian negosiasi dagang dengan China. Hasil pertemuan ini akan menentukan seberapa jauh Eropa dapat memanfaatkan tawaran jalur hijau tanpa mengorbankan kepentingan strategisnya di sektor teknologi dan pertahanan.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pelajaran berharga. Sebagai pemasok nikel terbesar dunia dan dengan cadangan rare earth yang belum tergarap optimal, Indonesia memiliki peluang untuk memainkan kartu serupa. Hilirisasi mineral kritis tidak hanya soal nilai tambah ekonomi, tetapi juga daya tawar geopolitik. Jika China mampu menggunakan rare earth sebagai instrumen diplomasi, Indonesia pun berpotensi menjadikan nikel dan logam tanah jarang sebagai alat negosiasi dagang di masa depan.
Pertanyaannya, akankah Eropa benar-benar memanfaatkan jalur hijau China, atau justru mempercepat diversifikasi pasokan demi mengurangi risiko jangka panjang? Dan di tengah persaingan kekuatan besar, mampukah Indonesia mengambil posisi strategis dalam rantai pasok global yang semakin terfragmentasi?



