Trump Tolak Senjata Nuklir ke Iran, tapi Siapkan Opsi Bom Non-Nuklir Terbesar
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan menggunakan senjata nuklir dalam konflik dengan Iran dan tidak berencana mengirim pasukan darat ke wilayah tersebut.
- Pernyataan ini muncul setelah laporan CNN mengungkap opsi serangan baru yang mencakup penggunaan bom non-nuklir terbesar milik AS, GBU-43/B MOAB, terhadap infrastruktur energi dan situs nuklir Iran.
- Ketegangan di Selat Hormuz meningkat tajam dengan delapan serangan terhadap kapal dagang sejak 11 Oktober, mengancam jalur pelayaran yang krusial bagi perekonomian global.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menggunakan senjata nuklir dalam menghadapi Iran, seraya menyatakan tidak melihat kebutuhan untuk mengerahkan pasukan darat ke negara tersebut. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan Newsmax yang disiarkan Kamis malam waktu setempat, merespons spekulasi mengenai eskalasi militer Washington terhadap Teheran.
"Saya tidak akan menggunakan nuklir. Kami tidak perlu. Kami adalah kekuatan nuklir terbesar di dunia," ujar Trump, seperti dikutip dari wawancara tersebut. Ia juga menepis anggapan bahwa Amerika Serikat akan mengirim tentara ke Iran, meski tidak merinci lebih lanjut strategi militer yang mungkin ditempuh.
Pernyataan ini muncul setelah CNN melaporkan bahwa militer AS telah mengembangkan rencana serangan baru yang menyasar infrastruktur energi dan situs nuklir Iran. Serangan tersebut dapat dilancarkan jika Trump memerintahkan operasi tempur dilanjutkan, baik sebelum maupun sesudah pemilihan tengah masa (midterm) pada 3 November mendatang. Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan konfirmasi dari CNBC.
Dalam wawancara tersebut, Trump juga menyinggung soal MOAB ketika ditanya mengenai laporan opsi serangan. "Mother of all bombs itu bukan nuklir. Sama sekali bukan nuklir. Itu hanya bom yang sangat besar. Mirip dengan bom nuklir kecil. Tapi mother of all bombs adalah satu bom besar, bukan nuklir," katanya, tanpa mengonfirmasi atau membantah secara spesifik rencana penggunaan senjata tersebut.
MOAB merupakan senjata non-nuklir paling besar yang dimiliki militer AS. Bom ini pernah digunakan dalam pertempuran pada 2017 untuk menargetkan militan ISIS di Afghanistan. Jika benar digunakan terhadap Iran, langkah itu akan menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang selama ini lebih banyak bersifat proksi dan sanksi ekonomi.
Sementara itu, risiko bagi pelayaran dagang di Selat Hormuz terus meningkat. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menyatakan bahwa ancaman di jalur strategis tersebut masih berada pada level "severe" atau berat. Pernyataan ini menyusul serangan proyektil tak dikenal terhadap kapal kontainer berbendera Singapura, GFS Pride, yang kemudian terbakar dan tenggelam. UKMTO menambahkan bahwa "tindakan bermusuhan yang disengaja" sangat mungkin terjadi, dan telah mencatat delapan serangan di perairan kritis itu sejak 11 Oktober.
"Ancaman di Selat Hormuz tetap severe setelah serangkaian serangan terhadap kapal dagang. Delapan insiden sejak 11 Oktober menunjukkan pola yang mengkhawatirkan," demikian pernyataan UKMTO.
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran tersibuk di dunia dan menjadi urat nadi bagi ekspor minyak dari kawasan Teluk. Setiap gangguan di perairan ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah global, yang pada gilirannya akan menekan biaya energi dan transportasi di banyak negara, termasuk Indonesia. Sebagai importir minyak bersubsidi, Indonesia sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak akan memperlebar defisit anggaran akibat subsidi energi dan mengancam stabilitas rupiah.
Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dengan saksama. Ketegangan di Timur Tengah yang berkepanjangan dapat memaksa pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi atau menambah beban APBN. Selain itu, gangguan pasokan minyak dari Teluk akan mendorong diversifikasi sumber energi, termasuk mempercepat transisi ke energi terbarukan dan memperkuat kerja sama dengan negara produsen alternatif.
Dari sisi geopolitik, pernyataan Trump yang menolak nuklir namun tetap membuka opsi serangan konvensional mencerminkan strategi "tekanan tanpa eskalasi penuh". Ia berupaya menyeimbangkan antara menunjukkan ketegasan terhadap Iran dan menghindari perang besar yang tidak populer menjelang pemilu. Namun, rencana serangan yang bocor ke publik justru dapat memperkeruh situasi dan memicu respons balik dari Teheran.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa jauh Amerika Serikat akan melangkah jika serangan terhadap kapal dagang terus berlanjut. Apakah Trump akan benar-benar memerintahkan operasi militer setelah pemilu, atau justru memilih jalur diplomasi? Sementara itu, dunia menanti apakah Selat Hormuz akan tetap menjadi jalur pelayaran aman atau berubah menjadi medan konflik terbuka yang mengancam perekonomian global.



