Max Verstappen Debut di GT World Challenge Europe: Ujian Baru di Tengah Jadwal F1 Padat
Baca dalam 60 detik
- Verstappen akan tampil perdana di GT World Challenge Europe akhir pekan ini di Portimao, mengemudikan Mercedes-AMG GT3 bersama Chris Lulham dan Ben Barnicoat.
- Kehadiran juara dunia F1 empat kali itu dipicu oleh bentrok jadwal WEC di Barcelona yang membuat dua pembalap reguler Verstappen Racing absen.
- Debut ini diprediksi menyedot perhatian global ke GT3 dan menjadi tolok ukur adaptasi pembalap F1 di disiplin balap yang berbeda.

Max Verstappen akan mencatatkan debut di GT World Challenge Europe (GTWC Europe) pada seri penutup musim di Portimao, Portugal, akhir pekan ini. Pembalap Red Bull Racing itu turun di kelas Pro dengan Mercedes-AMG GT3 bernomor #3 milik Verstappen Racing, didampingi Chris Lulham dan Ben Barnicoat.
Keputusan ini muncul setelah dua pembalap reguler Verstappen Racing, Daniel Juncadella dan Jules Gounon, harus memenuhi komitmen di World Endurance Championship (WEC) di Barcelona—balapan pengganti 6 Hours of Qatar yang dibatalkan. Juncadella membela Genesis di kelas Hypercar, sementara Gounon memperkuat Alpine. Alhasil, Verstappen yang juga pemilik tim memilih turun langsung memanfaatkan jeda di antara rangkaian triple-header Formula 1.
GTWC Europe yang dikelola SRO Motorsports Group dianggap sebagai puncak balap GT3 global. Formatnya terbagi menjadi Sprint Cup (dua balapan 60 menit per akhir pekan) dan Endurance Cup (balapan 3, 6, dan 24 jam). Banyak bos tim menilai Endurance Cup sebagai kejuaraan GT3 paling berat karena sekitar 20 mobil berbeda berpeluang bersaing memperebutkan kemenangan umum di grid yang mencapai 50–60 entri.
Bagi Verstappen, ini bukan pengalaman pertamanya mengemudikan GT3. Ia sempat tampil di Nurburgring 24 Hours dan nyaris menang sebelum masalah teknis menggagalkan upayanya. Namun, karakter GTWC Europe berbeda: tidak ada lalu lintas multi-kelas seperti di Nordschleife, dan setelan mobil lebih agresif karena balapan berlangsung di sirkuit grand prix modern. Kualifikasi pun menggunakan sistem agregat waktu dari tiga sesi (Q1, Q2, Q3) yang harus dilalui masing-masing pembalap, lalu diambil rata-ratanya untuk menentukan posisi start.
Dari sisi teknis, mobil GT3 jauh lebih berat (sekitar 1.300 kg) dan bertenaga lebih kecil (550 hp) dibanding F1 yang berbobot di bawah 800 kg dengan tenaga hybrid mendekati 1.000 hp. Selisih waktu putaran bisa mencapai 15–25 detik per lap, tergantung sirkuit. Sebagai gambaran, di Monza, F1 mencatat 1 menit 21,786 detik sementara GT3 1 menit 45,323 detik—terpaut 23,537 detik. Gaya mengemudi pun berbeda: pembalap GT3 dituntut lebih halus, mengelola ABS dan kontrol traksi, serta menjaga suhu ban agar tidak overheat.
"Kehadiran Verstappen membawa perhatian global yang belum pernah terjadi sebelumnya ke kejuaraan ini," ujar seorang pengamat balap. "Seorang juara dunia F1 aktif yang turun di disiplin lain di tengah musim adalah hal langka di motorsport modern."
Verstappen tidak sendirian. Grid Portimao juga dihuni nama-nama besar seperti Valentino Rossi (BMW M4 GT3 Team WRT), Arthur Leclerc (adik Charles Leclerc), serta para juara DTM seperti Thomas Preining, Mirko Bortolotti, Maximilian Goetz, dan Marco Wittmann. Verstappen juga akan bertemu kembali dengan Christopher Haase, rival yang sempat terlibat pertarungan ketat di Nordschleife awal tahun ini. Kombinasi ini menjadikan Portimao sebagai salah satu grid GT3 paling bertabur bintang dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, Verstappen Racing tidak berada dalam perburuan gelar. Mahkota juara sudah dikunci Winward Racing #48 pada putaran sebelumnya. Fokus Verstappen lebih pada adaptasi dan kontribusi bagi tim, sekaligus mengukur kemampuannya di platform yang berbeda. Balance of Performance (BoP) yang diterapkan SRO—melalui penyesuaian bobot, restriktor udara, kurva boost, dan tinggi minimum kendaraan—memastikan tidak ada satu pabrikan yang mendominasi secara mutlak.
Dari kacamata Indonesia, debut Verstappen di GTWC Europe bisa menjadi cermin bagaimana pembalap papan atas dunia mengelola jadwal lintas disiplin. Ajang GT3 sendiri semakin populer di Asia Tenggara, dengan beberapa seri balap regional yang mulai mengadopsi regulasi serupa. Kehadiran Verstappen berpotensi menarik minat sponsor dan penonton dari kawasan ini, membuka peluang bagi pembalap muda Indonesia untuk menimba pengalaman di kompetisi GT3 internasional.
Pertanyaannya, akankah Verstappen mampu beradaptasi cepat dengan karakter GT3 yang menuntut kesabaran dan manajemen ban, atau justru gaya balap agresifnya menjadi bumerang di tengah padatnya lalu lintas 60 mobil? Jawabannya akan terlihat di Portimao, sekaligus menjadi indikasi apakah fenomena "pembalap F1 turun di GT3" akan menjadi tren di masa depan.



