Christian Horner Buka Suara Soal Kepergiannya dari Red Bull: "Mungkin Dianggap Terlalu Berpengaruh"
Baca dalam 60 detik
- Christian Horner mengungkapkan bahwa kepergiannya dari Red Bull diduga karena dianggap memiliki pengaruh berlebihan dalam tim.
- Meninggalnya pendiri Red Bull Dietrich Mateschitz memicu pergeseran budaya manajemen dari pengambilan keputusan personal ke komite korporat.
- Kepergian Horner menandai berakhirnya era kepemimpinan tunggal di Red Bull dan membuka babak baru dinamika kekuasaan di Formula 1.

Christian Horner akhirnya angkat bicara mengenai alasan di balik pemecatannya sebagai principal tim Red Bull Racing pada Juli 2025. Dalam wawancara eksklusif dengan majalah Autosport, ia menduga bahwa persepsi tentang pengaruhnya yang terlalu besar dalam tim menjadi salah satu pemicu keputusan tersebut. "Saya pikir perusahaan hanya ingin mengambil arah yang berbeda, atau mungkin dianggap saya memiliki terlalu banyak pengaruh atas tim," ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa kehidupan setelah kepergian Dietrich Mateschitz sangat berbeda di dalam grup.
Horner bukan sosok sembarangan. Pria asal Inggris itu dipilih langsung oleh pendiri Red Bull, Dietrich Mateschitz, untuk memimpin transformasi tim Jaguar menjadi Red Bull Racing. Di bawah komandonya, tim ini menjelma menjadi kekuatan dominan di Formula 1, mengantarkan Sebastian Vettel meraih empat gelar dunia berturut-turut (2010-2013) dan Max Verstappen mengukir empat gelar pembalap serta tiga gelar konstruktor (2021-2024). Kesuksesan itu menjadikan Horner salah satu principal paling berpengaruh dalam sejarah F1 modern.
Namun, dinamika internal Red Bull mulai berubah setelah Mateschitz wafat pada Oktober 2022. Menurut Horner, kepergian pendiri yang karismatik itu menciptakan kekosongan kepemimpinan yang kemudian memicu perebutan kendali. Dewan merek, yang kini diawasi CEO Oliver Mintzlaff, berupaya mengambil alih kendali atas operasi F1 dari tangan Horner. "Dia adalah Red Bull. Semua keputusan signifikan melewatinya, dia membangun bisnis itu dari nol," kenang Horner tentang Mateschitz. Ia juga menambahkan bahwa setelah kepergian Mateschitz, manajemen berubah menjadi lebih komite dan korporat, berbeda dari gaya pengambilan keputusan satu orang yang selama ini mereka kenal.
Investigasi internal atas tuduhan perilaku tidak pantas sempat mencoreng nama Horner pada 2024, meskipun ia kemudian dibersihkan dari semua tuduhan. Namun, proses tersebut tetap meninggalkan luka dan mempercepat perpecahan di dalam tim. Kepergian tokoh-tokoh penting seperti desainer jenius Adrian Newey dan direktur olahraga Jonathan Wheatley semakin memperkeruh situasi. Performa Red Bull di lintasan pun mulai menurun menjelang musim 2025, yang berujung pada keputusan pemecatan Horner.
"Saya akan selamanya berterima kasih kepadanya. Dia memberi saya kesempatan, dia percaya pada saya, dan dia memberi saya kebebasan untuk menjalankan bisnis ini," ujar Horner mengenang Mateschitz.
Kepergian Horner menandai berakhirnya era kepemimpinan tunggal yang telah membawa Red Bull dari tim papan tengah menjadi dinasti. Ini juga mencerminkan pergeseran lanskap manajemen di F1, di mana tim-tim besar semakin dikelola seperti korporasi multinasional dengan lapisan birokrasi yang lebih tebal. Bagi Red Bull, tantangan ke depan adalah membuktikan bahwa struktur baru mampu mempertahankan daya saing di tengah kompetisi yang semakin ketat, terutama dengan regulasi teknis 2026 yang akan segera berlaku.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, dinamika di Red Bull ini menjadi cermin bagaimana transisi kepemimpinan dapat mempengaruhi performa tim. Apakah Red Bull mampu bangkit tanpa Horner, atau justru semakin tertinggal dari rival seperti McLaren dan Ferrari? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: era keemasan Red Bull di bawah kendali Horner telah resmi berakhir.



