Generasi Muda Makin Kesepian: Pendidikan Kompetitif hingga Ruang Sosial yang Menyusut
Baca dalam 60 detik
- Survei global menunjukkan 17–21% anak muda usia 13–29 tahun merasa kesepian, proporsi tertinggi dibanding kelompok usia lain.
- Tekanan akademik, pembelajaran hibrida, dan hilangnya ruang berkumpul menjadi pemicu utama melemahnya keterampilan sosial generasi muda.
- Indonesia menghadapi tantangan serupa, terutama di kota-kota besar, dengan tambahan beban kesehatan mental dan keterbatasan ruang publik.

Kesepian di kalangan generasi muda bukan lagi sekadar keluhan sesaat. Laporan Komisi Koneksi Sosial Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2025 menempatkan kelompok usia 13–29 tahun sebagai yang paling merasa kesepian di dunia, dengan 17–21% di antaranya melaporkan perasaan tersebut—lebih tinggi dari kelompok usia mana pun. Survei terhadap lebih dari satu juta anak muda di 38 negara juga mencatat kenaikan kesepian di banyak wilayah antara 2002 dan 2022.
Psikolog klinis dan peneliti kesepian dari University of Sydney, Dr Michelle Lim, dalam bukunya The Lonely Generation, menyoroti bahwa sifat masa kanak-kanak telah berubah drastis dalam beberapa dekade terakhir. Ia mengidentifikasi sejumlah faktor yang saling memperkuat: budaya pendidikan yang hiperkompetitif, teknologi digital, efek panjang pandemi, keluarga yang mengecil, menyusutnya ruang publik, biaya hidup tinggi, kerja dan belajar hibrida, serta otomatisasi yang membuat interaksi tatap muka kian jarang.
Lim menilai sistem pendidikan modern menempatkan keunggulan akademik di atas segalanya, dengan biaya tersembunyi. Les tambahan, ujian berisiko tinggi, dan jadwal ekstrakurikuler yang padat membuat anak kehilangan waktu luang untuk bermain bebas dan berinteraksi secara organik. "Semakin banyak waktu untuk belajar, semakin berkurang keterampilan penting lainnya," ujarnya. "Kita berisiko mencetak generasi yang kuat secara akademik tetapi tidak siap secara sosial menghadapi tantangan dewasa."
Usha Makkena, mahasiswa 22 tahun di Sydney, merasakan hal serupa. Ia aktif secara sosial dan mengikuti banyak kegiatan, tetapi tetap merasa terputus. "Yang saya rindukan bukan sekadar lebih banyak orang di sekitar, melainkan perasaan dipahami dan terhubung secara mendalam," katanya. Ia menyoroti bahwa koneksi bermakna sering muncul justru di waktu-waktu yang tidak terstruktur dan terkesan tidak produktif.
Transisi dari sekolah ke universitas atau dunia kerja memang selalu menjadi titik rawan kesepian. Namun, Lim menegaskan generasi ini menghadapi dunia yang berbeda. Mahasiswa Sri Lanka berusia 20 tahun, Mihindi Pathinyake, menggambarkan skrip sosial baru: "Mereka mengambil Instagram-mu, lalu tidak pernah bicara lagi." Struktur kuliah hibrida pasca-Covid mempersulit pertemuan rutin yang diperlukan untuk membangun kedekatan alami.
"Yang saya khawatirkan adalah atrofi sosial. Orang-orang mulai terbiasa sendiri," tulis Lim.
Teknologi tidak sepenuhnya menjadi biang keladi. Lim mengakui media sosial dapat memperkuat hubungan bagi mereka yang hidup di komunitas yang tidak menerima, atau membantu belajar tentang dunia. Namun, ia prihatin dengan efek dopamin yang menumpulkan imbalan dari interaksi nyata, serta risiko memperkuat keengganan berinteraksi langsung. Dalam praktik klinisnya, ia bahkan sering menemui pasien yang menjalin hubungan romantis tanpa pernah bertemu secara fisik—sebuah fenomena yang kian umum.
Lim juga memperingatkan adanya "lingkaran kesepian": perasaan kesepian membuat seseorang memandang interaksi sosial sebagai ancaman, lalu menarik diri, dan akhirnya semakin kesepian. Pada tingkat komunitas, ia melihat krisis koneksi sosial yang lebih luas. Ia membayangkan dunia di mana interaksi sosial menjadi seperti olahraga—sesuatu yang dulu dilakukan alami, kini harus dijadwalkan. Layanan berbayar untuk mengatasi kesepian pun bermunculan, yang menurutnya justru mencerminkan terkikisnya kehidupan sosial yang pernah ada.
Konteks Indonesia
Indonesia tidak kebal dari tren ini. Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menunjukkan sekitar 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, dengan kesepian dan kecemasan sebagai keluhan umum. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, tekanan akademik, jarak sosial, dan minimnya ruang publik yang aman memperparah kondisi. Pandemi mempercepat peralihan ke pembelajaran daring, yang hingga kini masih menyisakan pola interaksi terbatas. Biaya hidup yang tinggi juga memaksa banyak keluarga tinggal di hunian sempit tanpa ruang berkumpul yang memadai.
Lim menegaskan kesepian bukan masalah individu, melainkan sinyal bahwa dunia sosial perlu ditata ulang. "Ini masalah 'kita'," katanya. "Jika semua orang berkata 'itu bukan tanggung jawab saya', kita akan hidup dan membesarkan anak di dunia di mana koneksi sosial yang sehat hanya menjadi pelengkap."
Pertanyaannya, apakah Indonesia akan mengambil pelajaran ini dan mulai merancang kebijakan—dari kurikulum sekolah hingga tata kota—yang memprioritaskan koneksi sosial, atau justru membiarkan generasi muda tumbuh dalam keheningan yang semakin dalam?



