Eli Lilly Klaim Kombinasi Obat Baru Turunkan Berat Badan Hingga 23,3%, Siap Uji Fase 3
Baca dalam 60 detik
- Uji klinis fase 2 menunjukkan kombinasi eloralintide dan tirzepatide dosis rendah menghasilkan penurunan berat badan rata-rata hingga 23,3% pada pasien obesitas dengan diabetes tipe 2.
- Tingkat putus obat akibat efek samping pada kelompok kombinasi mencapai 27%, jauh lebih tinggi dibandingkan 2,9% pada kelompok tirzepatide dosis tinggi.
- Eli Lilly berencana memulai uji fase 3 pada akhir 2026 dan mengembangkan formulasi injeksi tunggal untuk meningkatkan kenyamanan pasien.

Eli Lilly melaporkan hasil uji klinis fase 2 yang menunjukkan kombinasi eksperimental eloralintide—obat yang menargetkan hormon amylin—dengan dosis rendah tirzepatide (bahan aktif Zepbound dan Mounjaro) mampu menurunkan berat badan hingga 23,3% pada pasien obesitas dengan diabetes tipe 2. Capaian ini melampaui efektivitas tirzepatide dosis tinggi yang diberikan tunggal, yang hanya menurunkan 14,8% berat badan.
Uji selama 48 minggu itu melibatkan pasien yang umumnya sulit menurunkan berat badan. Kelompok yang menerima kombinasi dosis tertinggi (9 mg eloralintide + 15 mg tirzepatide) kehilangan rata-rata sekitar 54 pon (24,5 kg). Sebagai perbandingan, kelompok tirzepatide tunggal kehilangan 34,4 pon (15,6 kg), sedangkan eloralintide tunggal hanya 28,6 pon (13 kg).
Selain berat badan, kombinasi ini juga menurunkan kadar A1C—penanda kontrol gula darah—hingga 2,9%, lebih baik dari tirzepatide tunggal (2,4%) dan eloralintide tunggal (1,4%). Data ini dipresentasikan pada pertemuan European Association for the Study of Diabetes di Milan, Italia.
Meski efektif, tolerabilitas menjadi catatan penting. Sebanyak 10,8% hingga 27% pasien yang menerima kombinasi menghentikan pengobatan karena efek samping, terutama gangguan gastrointestinal. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok tirzepatide tunggal yang hanya 2,9%. Namun, Presiden Lilly Cardiometabolic Health, Ken Custer, mengingatkan bahwa tingginya angka putus obat pada fase 2 bukan indikator mutlak. Ia mencontohkan uji fase 2 tirzepatide pada 2018 yang juga menunjukkan angka putus obat sekitar 25%, tetapi pada akhirnya dapat dikelola dengan penyesuaian dosis.
"Pendekatan fisiologis dengan menggabungkan GLP-1, GIP, dan amylin—tiga hormon yang secara alami dilepaskan tubuh sebagai respons terhadap makanan—mungkin menghasilkan obat yang digunakan secara luas," ujar Custer.
Lilly berencana memulai uji fase 3 pada akhir 2026 dan sedang mengembangkan formulasi ko-formulasi kedua obat dalam satu injeksi. Langkah ini diharapkan meningkatkan kepatuhan pasien. Analis Leerink Partners, David Risinger, menilai eloralintide berpotensi menjadi "mega-blockbuster" dengan pasar yang lebih besar dari perkiraan saat ini, mengingat jutaan pasien tidak merespons atau tidak toleran terhadap GLP-1 yang ada.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang akses terapi obesitas yang lebih efektif di masa depan. Namun, harga obat GLP-1 saat ini masih tergolong mahal dan belum terjangkau sebagian besar masyarakat. Regulator seperti BPOM perlu mengantisipasi percepatan uji klinis dan pendaftaran obat baru, sementara industri farmasi dalam negeri dapat menjajaki kemitraan produksi lokal. Selain itu, beban diabetes dan obesitas di Indonesia yang terus meningkat menuntut solusi berkelanjutan, tidak hanya mengandalkan impor obat jadi.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah kombinasi ini efektif, melainkan seberapa cepat aksesnya dapat dinikmati pasien di berbagai negara, termasuk Indonesia, tanpa mengorbankan keamanan dan keterjangkauan.



