Anak Ahmad Ali Hengkang dari NasDem ke PSI, Singgung Janji Tanpa Mahar
Baca dalam 60 detik
- Muhammad Anugerah Pratama, putra Ahmad Ali, resmi meninggalkan NasDem dan bergabung dengan PSI.
- Ia menyoroti ketidaksesuaian antara jargon partai tanpa mahar dengan pengalaman pribadinya.
- Langkah ini berpotensi memengaruhi dinamika politik di Sulawesi Tengah dan citra NasDem.

Muhammad Anugerah Pratama, yang akrab disapa Nugie, memutuskan untuk mundur dari Partai NasDem dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Keputusan ini diumumkan setelah ayahnya, Ahmad Ali, yang kini menjabat sebagai Ketua Harian DPP PSI, lebih dulu meninggalkan partai besutan Surya Paloh tersebut. Pengunduran diri Nugie juga secara otomatis mengakhiri masa jabatannya sebagai anggota DPRD Kota Palu periode 2024-2029, yang ia tinggalkan sejak 5 Agustus lalu.
Sekretaris Jenderal NasDem, Hermawi Taslim, membenarkan langkah tersebut. Menurutnya, proses pengunduran diri Nugie telah disetujui oleh Ketua DPW NasDem Sulawesi Tengah, Nilam Sari Lawira, yang tak lain adalah ibunda Nugie sendiri. "Sudah disetujui oleh Ketua DPW Sulteng, dan diamini oleh DPP," ujar Hermawi saat dikonfirmasi, Rabu (30/9). Ia menambahkan bahwa DPP selalu sejalan dengan keputusan DPW, terutama karena Ketua DPW Sulteng adalah ibu kandung Nugie dan juga anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Tengah.
Dalam pernyataannya, Nugie mengungkapkan bahwa keputusan ini didasari oleh keinginan untuk lebih fokus pada karier politiknya ke depan. Namun, ia juga menyentuh alasan yang lebih mendasar: perjalanan politik ayahnya di NasDem. "Yang paling mendasar itu karena bapak saya yang sudah mengurus NasDem selama 11 tahun. Menurut saya, sebagai sebuah partai penting untuk menghargai kadernya," kata Nugie. Ia menilai bahwa kontribusi panjang Ahmad Ali seharusnya mendapat apresiasi yang setimpal.
"NasDem dari awal jargonnya partai tanpa mahar. Setelah saya masuk di dalam, menurut saya tidak sesuai," ungkap Nugie, menyoroti ketidaksesuaian antara citra partai dan realitas yang ia alami.
Nugie juga menegaskan bahwa kepindahannya ke PSI bukan semata-mata karena persoalan pribadi. Ia melihat PSI sebagai wadah yang memberikan ruang lebih besar bagi generasi muda untuk terlibat dalam politik. Salah satu fokusnya ke depan adalah mendorong anak muda agar lebih memahami dan aktif dalam proses politik. "Saya lebih fokus ke karier saya ke depan. Untuk perasaan, belakangan," ujarnya, menegaskan prioritasnya.
Keputusan Nugie untuk hengkang dari NasDem dan bergabung dengan PSI menjadi cerminan dinamika politik yang lebih luas, terutama di Sulawesi Tengah. Sebagai anak dari tokoh politik yang memiliki pengaruh signifikan, langkah ini dapat memengaruhi peta kekuatan partai di daerah tersebut. NasDem, yang selama ini mengusung narasi sebagai partai reformis tanpa mahar, menghadapi tantangan untuk membuktikan konsistensinya. Sementara itu, PSI semakin memperkuat posisinya sebagai partai yang ramah terhadap kaum muda, dengan merekrut figur-figur seperti Ahmad Ali dan sekarang Nugie.
Pengamat politik menilai bahwa perpindahan ini bisa menjadi sinyal adanya pergeseran loyalitas di kalangan kader muda NasDem. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin NasDem kehilangan lebih banyak kader potensial di daerah. Di sisi lain, PSI berpotensi mendapatkan energi baru untuk memperluas basis dukungan, terutama di kalangan pemilih muda yang selama ini menjadi target utama partai tersebut.
Ke depan, publik akan menyaksikan bagaimana Nugie mengimplementasikan gagasannya di PSI, serta apakah partai-partai lain akan terinspirasi untuk lebih serius dalam memberikan ruang bagi generasi muda. Yang jelas, langkah politik ini menambah warna dalam lanskap perpolitikan nasional menjelang tahun-tahun krusial mendatang.



