Banjir Bandang Nepal: Ribuan Ibu Hamil Terjebak, Trauma dan Krisis Kesehatan Mengancam
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 5.000 ibu hamil terdampak banjir bandang Nepal, dengan 750 di antaranya mengalami komplikasi dan 550 dijadwalkan melahirkan bulan depan.
- Pemerintah Nepal dan lembaga PBB bergerak cepat menyalurkan bantuan, namun akses ke daerah terpencil dan kurangnya fasilitas kesehatan menjadi kendala utama.
- Krisis ini menyoroti kerentanan kelompok rentan dalam bencana iklim, sekaligus mendesak penguatan sistem kesehatan maternal di kawasan rawan bencana.

Banjir bandang yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada Agustus lalu tidak hanya menghancurkan permukiman, tetapi juga memicu krisis kemanusiaan yang mengancam nyawa ribuan ibu hamil. Data terbaru dari Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) mencatat 5.030 perempuan hamil termasuk dalam kelompok terdampak, dengan 750 di antaranya mengalami komplikasi kehamilan dan 550 dijadwalkan melahirkan dalam waktu dekat. Mereka kini tersebar di berbagai penampungan sementara, jauh dari fasilitas kesehatan yang memadai.
Pooja Pariyal, 21 tahun, adalah salah satu dari mereka. Ia terjebak selama tiga hari di atap Rumah Sakit Trishuli bersama bayinya yang baru berusia tiga bulan. Tanpa makanan, toilet yang layak, dan bantuan untuk merawat bayi, ia bertahan sambil menunggu evakuasi. "Tiga hari itu adalah neraka bagiku," ujarnya. Bayinya kemudian didiagnosis pneumonia setelah diselamatkan. Kini Pariyal tinggal di tenda pengungsian bersama 125 orang lainnya, berbagi 25 tenda di pusat penampungan Lamibagaichha, Bidur.
Kisah serupa dialami Kalpana Nepali, 23 tahun, yang tengah hamil tujuh bulan saat banjir menerjang. Ia sempat pingsan dan hanya ingat terbangun di dalam helikopter bersama sepuluh orang lainnya. "Saya tidak tahu apakah dokter saya selamat atau tidak," tuturnya. Kini ia tinggal di aula penampungan bersama 80 pengungsi lain, dengan akses toilet yang terbatas dan antrean panjang. Ia dijadwalkan melahirkan pada November di pusat kesehatan Nuwakot, namun harus kembali ke penampungan setelahnya.
Lila Pieters Yahia, Koordinator Residen PBB untuk Nepal, memperingatkan bahwa perempuan hamil dan menyusui berisiko lebih tinggi mengalami trauma, syok, dan depresi pascapersalinan akibat pengalaman yang mereka alami. "Mereka menghadapi tekanan fisik dan mental yang luar biasa," katanya. Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya layanan kesehatan mental di lokasi pengungsian.
Renuka Nepali, 27 tahun, nyaris kehilangan nyawa saat menyelamatkan kedua anaknya dari banjir. Ia berlari sambil menggendong bayi perempuannya yang berusia delapan bulan dan menyeret putranya yang berusia 12 tahun. "Saya mendengar teriakan 'lari, lari!' dari jendela. Tanpa berpikir, saya lari secepat mungkin," kenangnya. Ia selamat, tetapi kehilangan tetangganya yang sedang hamil besar karena tidak mampu mengikuti arus. "Kami telah melalui neraka," ujarnya pilu.
Pemerintah Nepal bersama lembaga internasional telah mengerahkan bantuan, termasuk evakuasi udara bagi ibu hamil berisiko tinggi ke rumah sakit bersalin di Kathmandu. Namun, tantangan logistik dan minimnya infrastruktur kesehatan di daerah terpencil menjadi hambatan serius. Banyak pusat kesehatan yang rusak atau tidak berfungsi, sementara akses jalan terputus akibat longsor susulan.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim. Indonesia, sebagai negara kepulauan yang rawan gempa dan banjir, memiliki populasi ibu hamil yang besar di daerah rawan bencana. Penguatan sistem kesehatan maternal dan integrasi layanan kesehatan mental dalam protokol darurat bencana menjadi kebutuhan mendesak. Kerja sama regional di bawah kerangka ASEAN juga dapat menjadi wadah berbagi praktik terbaik dalam mitigasi dan respons bencana.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana komunitas internasional dapat memastikan bahwa kelompok paling rentan—ibu hamil, bayi, dan anak-anak—mendapatkan perlindungan yang layak dalam situasi darurat. Tanpa intervensi yang cepat dan tepat, krisis kemanusiaan di Nepal berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang bagi generasi mendatang.



