Hadapi Indonesia di GBK, Bintang Bangladesh: Kami Tak Gentar, Sudah Move On dari Kegagalan
Baca dalam 60 detik
- Hamza Chowdhury menegaskan Bangladesh tetap fokus meski sudah dipastikan tersingkir dari Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 setelah kalah dari Malaysia dan Singapura.
- Laga melawan Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi penentu bagi Garuda untuk lolos ke final, sementara Bangladesh berburu poin perpisahan.
- Bagi Bangladesh, turnamen ini adalah batu loncatan menuju Piala SAFF 2026 di kandang sendiri, November mendatang.

Timnas Bangladesh dipastikan tidak akan melangkah jauh di FIFA ASEAN Cup 2026 setelah menelan dua kekalahan beruntun di fase grup. Namun, bintang mereka, Hamza Chowdhury, menolak larut dalam kekecewaan. Pemain Sheffield United itu justru menyambut laga terakhir melawan Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (1/10/2026) malam WIB, sebagai ujian berharga.
Bangladesh tiba di turnamen ini sebagai pengganti India yang mundur. Undangan tersebut tidak disia-siakan, meski harus bersaing dengan tim-tim yang peringkatnya jauh lebih tinggi. Kekalahan 0-3 dari Malaysia dan 0-1 dari Singapura membuat langkah mereka terhenti, tetapi pertandingan melawan Indonesia tetap krusial bagi tuan rumah. Skuad Garuda membutuhkan kemenangan untuk menjaga asa lolos ke final, dengan catatan Malaysia gagal mengalahkan Singapura di laga paralel.
Hamza memperkirakan Stadion GBK akan dipenuhi lautan suporter yang mendukung Indonesia. Baginya, atmosfer tersebut bukan ancaman, melainkan kesempatan untuk mengukur kemampuan timnya di level yang lebih tinggi. "Saya menantikan pertandingan ini. Dukungan besar untuk tuan rumah akan menjadi pengalaman berharga bagi kami," ujar pemain berusia 28 tahun itu, dikutip dari laman FIFA.
Meski sudah dipastikan tersingkir, Bangladesh tidak ingin pulang tanpa poin. Mereka bertekad mencuri hasil positif di laga terakhir. Hamza menegaskan timnya lebih banyak mencari pengalaman dan membangun fondasi untuk turnamen yang lebih besar. "Kami memiliki turnamen penting di kandang sendiri pada November. Kami sedang mempersiapkan diri untuk itu," tambahnya.
"Indonesia adalah tim yang sangat bagus; banyak pemain mereka berlaga di liga-liga papan atas Eropa. Ini akan menjadi ujian berat, tetapi itulah tujuan kami datang ke sini," kata Hamza.
Bagi Indonesia, laga ini bukan sekadar formalitas. Kemenangan atas Bangladesh menjadi harga mati untuk menjaga peluang juara Grup A. Tekanan justru ada di pundak pasukan Garuda, yang di atas kertas lebih diunggulkan. Dukungan penuh dari tribun GBK bisa menjadi pedang bermata dua: memompa semangat, tetapi juga meningkatkan ekspektasi.
Di sisi lain, Bangladesh datang dengan misi pembangunan tim. Pelatih Thomas Dooley membawa sejumlah pemain potensial seperti Tarik Kazi, Zayyan Ahmed, Shamit Shome, dan penyerang Sheikh Morsalin. Partisipasi di FIFA ASEAN Cup 2026 diakui sebagai ajang pembelajaran berharga untuk menghadapi Piala SAFF 2026 yang akan berlangsung di Dhaka pada 4โ17 November mendatang.
Hamza menilai masih ada beberapa aspek yang perlu dibenahi. "Masih ada dua atau tiga kepingan teka-teki yang belum terpasang. Semoga kami bisa segera menyusunnya," jelasnya. Ia juga menyoroti kualitas lawan yang tidak terlalu jauh berbeda di lapangan, meski peringkat FIFA mereka lebih tinggi. "Itu berarti kami berada di jalur yang tepat," tandasnya.
Pertandingan di GBK akan menjadi ujian mental bagi Bangladesh, yang harus tampil di hadapan puluhan ribu suporter lawan. Namun, Hamza dan rekan-rekannya memilih untuk tidak gentar. Mereka sudah move on dari kekecewaan di dua laga sebelumnya dan fokus pada peluang meraih hasil positif.
Bagi Indonesia, kemenangan adalah keharusan. Jika gagal, Malaysia bisa merebut tiket final. Laga ini juga menjadi kesempatan bagi para pemain Garuda untuk menunjukkan kematangan di bawah tekanan. Mampukah Indonesia memanfaatkan dukungan GBK, atau justru Bangladesh yang mencuri perhatian? Jawabannya akan terungkap pada Kamis malam.



