Studi Riil: Pasien Obesitas Tetap Turun Berat Badan Usai Beralih dari Suntikan ke Pil Wegovy
Baca dalam 60 detik
- Analisis data dunia nyata dari platform telehealth Ro menunjukkan pasien yang beralih dari suntikan Wegovy atau Zepbound ke tablet Wegovy kehilangan sekitar 4% berat badan tambahan dalam tiga bulan.
- Temuan ini mengindikasikan pasien tidak harus bergantung pada injeksi mingguan selamanya, karena formulasi oral menawarkan kenyamanan tanpa mengorbankan efektivitas.
- Novo Nordisk juga memaparkan data awal CagriSema yang menurunkan 'food noise' dan memperbaiki kesehatan organ, memperkuat pipeline obat obesitas generasi berikutnya.

Pasien obesitas yang menghentikan suntikan mingguan dan beralih ke tablet Wegovy buatan Novo Nordisk dilaporkan terus menurunkan berat badan, menurut analisis data dunia nyata yang dipresentasikan perusahaan pada Rabu (30/9). Studi observasional terhadap 194 pasien pengguna platform telehealth Ro itu menemukan rata-rata penurunan berat badan tambahan sekitar 4%—setara 8,8 pon—setelah tiga bulan mengonsumsi pil, dengan berat awal rata-rata 221 pon.
Analisis ini menjadi salah satu bukti pertama yang memetakan hasil beralih dari injeksi populer seperti Wegovy dan Zepbound milik Eli Lilly ke formulasi oral. Sekitar separuh partisipan memulai dengan suntikan Wegovy, sisanya menggunakan Zepbound. Setelah beralih ke pil dan bertahan tiga bulan, dua dari lima peserta mencapai penurunan berat badan 5% atau lebih. Proporsi peserta dengan indeks massa tubuh (BMI) di atas 30—ambang obesitas—menyusut lebih dari 21%.
Martin Holst Lange, Chief Scientific Officer Novo Nordisk, menilai temuan ini menandai pergeseran preferensi pasien. "Kami melihat gambaran yang berbeda sekarang. Ada preferensi yang jelas terhadap obat oral," ujarnya dalam wawancara, seraya mencontohkan pasien yang sering bepergian dan enggan repot menyimpan suntikan di lemari pendingin. Ia menambahkan bahwa Wegovy suntik dan tablet dapat dipertukarkan dengan profil tolerabilitas serta keamanan serupa, bahkan memberikan penurunan berat badan sedikit lebih banyak.
Meski menjanjikan, studi dunia nyata ini memiliki keterbatasan: waktu dan kelengkapan data dari perawatan telehealth rutin bervariasi, data yang dilaporkan sendiri rentan bias, dan hasilnya tidak dapat digeneralisasi ke populasi yang lebih luas. Novo juga menekankan bahwa studi observasional tidak bisa menetapkan hubungan sebab-akibat.
Selain data pil Wegovy, Novo memaparkan hasil uji CagriSema—kombinasi semaglutide dan cagrilintide—yang mengurangi "food noise" atau pikiran terus-menerus tentang makanan. Berdasarkan pencitraan fMRI selama setahun, CagriSema mengubah respons otak terhadap makanan tinggi kalori di area yang terkait dengan keinginan, kesenangan, dan kontrol diri. Obat ini juga mengurangi lemak berbahaya di sekitar organ perut, termasuk hati dan pankreas, pada orang dewasa dengan diabetes tipe 2, serta menjaga kesehatan tulang meski terjadi penurunan berat badan signifikan. CagriSema dijadwalkan meluncur awal tahun depan, disusul cagrilintide mandiri dan versi dosis lebih tinggi pada 2028.
"Sinyal di otak berubah dengan cara yang benar-benar terkait dengan peningkatan kualitas hidup," kata Lange.
Bagi Indonesia, perkembangan ini berpotensi mengubah lanskap penanganan obesitas yang selama ini bergantung pada perubahan gaya hidup dan intervensi terbatas. Dengan prevalensi obesitas yang terus meningkat—Riskesdas 2018 mencatat 21,8% orang dewasa mengalami obesitas—ketersediaan opsi oral yang lebih praktis dapat memperluas akses, terutama di daerah dengan rantai dingin terbatas. Namun, harga dan regulasi BPOM akan menjadi penentu utama. Jika Novo mendaftarkan tablet Wegovy di Indonesia, persaingan dengan produsen lokal dan obat generik bisa menekan biaya, meski tantangan edukasi tenaga kesehatan tetap besar.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah obat obesitas bisa berbentuk pil, melainkan seberapa cepat sistem kesehatan Indonesia siap mengadopsinya. Dengan pipeline Novo yang mengarah pada terapi kombinasi dan dosis lanjutan, standar perawatan obesitas global berpotensi berubah dalam dua hingga tiga tahun. Akankah Indonesia masuk dalam gelombang pertama peluncuran, atau kembali tertinggal dalam antrean regulasi?



