Petualang Legendaris Ranulph Fiennes Terisolasi, Keluarga Desak Polisi Selidiki Kesejahteraannya
Baca dalam 60 detik
- Alexander Millington-Cotes, anak tiri Sir Ranulph Fiennes, mengaku dihubungi polisi Cheshire untuk memberikan kesaksian tentang kondisi petualang berusia 82 tahun itu.
- Fiennes yang mengidap Parkinson tak terlihat di publik selama dua tahun dan diduga diisolasi oleh istrinya yang memegang kuasa hukum.
- Kasus ini menyoroti celah perlindungan lansia rentan di Inggris, dengan tuduhan pelanggaran kebebasan di panti jompo dan upaya hukum yang tengah berjalan.

Sir Ranulph Fiennes, petualang asal Inggris yang dikenal karena ekspedisi ekstremnya, kini menjadi sorotan setelah keluarganya menyuarakan keprihatinan mendalam tentang kondisi kesehatannya. Alexander Millington-Cotes, anak tiri Fiennes, mengungkapkan bahwa ia telah dihubungi oleh kepolisian Cheshire untuk membahas kekhawatiran tersebut. Dalam wawancara eksklusif, Millington-Cotes menyatakan bahwa panggilan dari seorang detektif pekan lalu memberinya harapan bahwa masalah ini akhirnya ditangani dengan serius.
Fiennes, yang kini berusia 82 tahun, menderita Parkinson dan berada dalam perawatan istrinya, Louise, yang memegang surat kuasa. Selama dua tahun terakhir, ia tidak pernah muncul di depan publik, memicu pertanyaan dari kerabat dan sahabat. Joseph Fiennes, aktor dan kerabatnya, bahkan telah mengirim surat kepada Kantor Wali Amanat Publik (Office of the Public Guardian) pada Januari lalu, menyoroti kekhawatiran bahwa Ranulph terputus dari lingkaran sosialnya.
Millington-Cotes, seorang insinyur kedirgantaraan berusia 31 tahun, mengkritik pernyataan awal polisi Cheshire yang dinilainya "serampangan" dan "mengecewakan". Polisi sebelumnya menyatakan tidak menemukan masalah perlindungan terhadap Fiennes dan yakin ia tinggal di tempat yang layak dengan pengawasan profesional. Namun, Millington-Cotes dan sejumlah teman Fiennes menduga polisi belum memiliki gambaran utuh. Mereka mengklaim bahwa Fiennes telah lebih dari setahun hidup dengan nama samaran di berbagai panti jompo, dan upaya Raja Charles untuk memeriksa kondisinya pun ditolak oleh istri Fiennes.
Michael Kobold, sahabat Fiennes, mengungkapkan bahwa isolasi yang dialami petualang itu semakin ketat, terutama saat berada di panti jompo di Wales. Staf di sana disebut mendapat instruksi ketat tentang aktivitas harian Fiennes. Ketika pemilik panti melaporkan kekhawatiran ke regulator, Care Inspectorate Wales mengonfirmasi bahwa protokol yang benar tidak diterapkan. Dalam emailnya, mereka menulis bahwa Fiennes "sedang dirampas kebebasannya secara tidak sah karena tidak ada otorisasi yang sesuai dengan tempat tinggal dan pembatasan yang berlaku."
"Saya mungkin masih punya satu jalan lagi dengan polisi. Saya baru saja mendapat telepon dari seorang detektif yang ingin berbicara dengan saya, yang menarik dan menggembirakan. Mereka ingin mengetahui perspektif saya tentang hal-hal yang saya amati dan apa yang saya yakini sebagai kebenaran," ujar Millington-Cotes.
Arabella Pepper, adik ipar Fiennes dari pernikahan pertamanya, termasuk orang terakhir yang melihatnya. Ia mengklaim bahwa pengunjung diminta menandatangani perjanjian kerahasiaan. Menurutnya, Fiennes tampak "sangat lega" saat bertemu dan berbicara tentang kerinduannya bertemu teman-teman.
Kasus ini menyoroti celah dalam sistem perlindungan lansia rentan, terutama mereka yang memiliki kekayaan dan ketenaran. Di Inggris, undang-undang tentang kapasitas mental dan perlindungan kebebasan (Deprivation of Liberty Safeguards) seharusnya mencegah situasi seperti ini. Namun, temuan Care Inspectorate Wales menunjukkan bahwa pengawasan sering kali gagal. Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya regulasi serupa, terutama dengan populasi lansia yang terus bertambah. UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia memang ada, tetapi penegakannya masih lemah, dan kasus serupa bisa terjadi tanpa pengawasan ketat.
Hingga kini, keberadaan Fiennes tidak diketahui. Louise Millington-Cotes belum memberikan komentar. Sementara itu, Millington-Cotes tengah menggalang dana untuk mengajukan permohonan hukum merebut surat kuasa dari ibunya. Publik menanti apakah polisi akan mengusut tuntas atau justru mengabaikan sinyal-sinyal yang ada. Jika terbukti ada pelanggaran, kasus ini bisa menjadi preseden bagi perlindungan lansia di seluruh dunia.



