Studi: Puasa 8 Jam Lebih Efektif Turunkan Berat Badan, tapi Tidak Konsisten Tekan Tekanan Darah
Baca dalam 60 detik
- Analisis gabungan lima uji klinis menemukan puasa 8 jam menghasilkan penurunan berat badan 3,7 pon lebih besar dibanding puasa 12 jam.
- Perbaikan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol tidak menunjukkan pola konsisten antar durasi puasa.
- Para ahli mengingatkan hasil ini belum konklusif dan meminta pasien dengan kondisi tertentu berkonsultasi sebelum mencoba.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nutrition & Diabetes mengungkap bahwa puasa intermiten dengan jendela makan 8 jam (16:8) memberikan penurunan berat badan lebih besar dibanding jendela 12 jam, namun tidak diikuti perbaikan konsisten pada indikator kesehatan kardiometabolik seperti tekanan darah, gula darah, dan kolesterol. Temuan ini menjadi sinyal penting bagi masyarakat yang menjadikan puasa sebagai strategi utama menurunkan berat badan sekaligus menurunkan risiko penyakit jantung.
Penelitian tersebut menganalisis data dari lima uji time-restricted eating (TRE) yang melibatkan 124 partisipan. Sebanyak 95 orang menjalani TRE dengan durasi jendela makan bervariasi—11 orang 8 jam, 59 orang 10 jam, dan 25 orang 12 jam—sementara 29 orang lainnya menjadi kelompok kontrol. Sebelum intervensi, seluruh partisipan memiliki kebiasaan makan selama minimal 14 jam per hari. Selama 3–6 bulan, mereka melaporkan asupan melalui aplikasi seluler dengan foto berstempel waktu dan deskripsi teks.
Hasilnya, kelompok TRE rata-rata memangkas jendela makan sekitar 4 jam dan kehilangan bobot sekitar 4,8 pon. Kelompok dengan jendela 8 jam mencatat penurunan berat badan sekitar 3,7 pon lebih banyak dibanding kelompok 12 jam, dan secara signifikan lebih besar daripada kelompok kontrol. Meski demikian, analisis tanpa penyesuaian tidak menemukan perbedaan bermakna antara kelompok 8 jam dan 10 jam. Ketika peneliti mengamati jendela makan yang benar-benar dicapai, jendela lebih pendek memang terkait dengan penurunan berat badan lebih besar, tetapi kaitan itu melemah setelah disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, dan indeks massa tubuh.
Untuk luaran kardiometabolik, peneliti tidak dapat menetapkan hubungan yang konsisten antara durasi jendela makan dan perbaikan pada sebagian besar ukuran, termasuk glukosa puasa, kolesterol HDL, kolesterol LDL, dan trigliserida. Satu-satunya perbedaan signifikan adalah penurunan tekanan darah sistolik yang lebih besar pada kelompok 10 jam dibanding kelompok 12 jam. Temuan ini menggarisbawahi bahwa manfaat TRE mungkin tidak seragam untuk semua indikator kesehatan.
“Kami masih berada di tahap awal memahami potensi efek kesehatan dari time-restricted eating,” ujar Cheng-Han Chen, MD, kardiolog intervensi dan direktur medis Program Jantung Struktural di MemorialCare Saddleback Medical Center, yang tidak terlibat dalam studi. Ia menambahkan bahwa ukuran sampel kecil, perbedaan antaruji, dan periode tindak lanjut yang pendek dapat menjelaskan terbatasnya temuan kardiometabolik.
Senada, Mir Ali, MD, ahli bedah bariatrik dan direktur medis MemorialCare Surgical Weight Loss Center di Orange Coast Medical Center, menilai perbedaan penurunan berat badan antara kelompok 8 jam dan 12 jam tidak sepenuhnya konklusif karena selisihnya moderat dan jumlah partisipan sedikit. “Time-restricted eating dapat bermanfaat, tetapi ada variabilitas individu yang cukup besar terkait efektivitas dan durasi puasa optimal,” kata Ali. Ia juga memperingatkan bahwa kondisi seperti diabetes dapat membuat TRE kurang layak atau bahkan kontraindikasi.
Keterbatasan studi turut menjadi sorotan. Analisis ini tidak memiliki data asupan kalori partisipan, jumlah sampel terbatas, dan masa tindak lanjut relatif singkat. Selain itu, lima uji yang dianalisis tidak semuanya merupakan uji terkontrol acak, dan partisipan tidak diacak langsung ke dalam kelompok jendela makan yang berbeda. Chen dan Ali merekomendasikan agar individu dengan diabetes tipe 1, hipoglikemia, riwayat gangguan makan, serta ibu hamil atau yang sedang program kehamilan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menjalani TRE.
Bagi pembaca di Indonesia, temuan ini relevan di tengah meningkatnya popularitas puasa intermiten sebagai metode penurunan berat badan, termasuk di kalangan pekerja kantoran yang ingin praktis tanpa menghitung kalori. Namun, hasil studi menunjukkan bahwa klaim manfaat menyeluruh—terutama untuk tekanan darah dan profil lipid—belum didukung bukti kuat. Masyarakat disarankan tidak menjadikan TRE sebagai pengganti pengobatan hipertensi atau dislipidemia, melainkan sebagai pelengkap gaya hidup sehat yang tetap dikonsultasikan dengan dokter.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan sekadar berapa lama jendela makan yang ideal, tetapi siapa yang paling diuntungkan dan apakah perbaikan kardiometabolik membutuhkan penurunan berat badan yang lebih besar atau durasi intervensi yang lebih panjang. Studi dengan sampel lebih besar dan periode pemantauan lebih lama akan menjadi kunci untuk menjawabnya.



