Alonso Dihujat Usai Chelsea Dihancurkan Brentford 3-0: Keputusan Estêvão Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Chelsea menelan kekalahan telak 0-3 di markas Brentford, memperpanjang tren tanpa clean sheet di bawah Xabi Alonso.
- Keputusan Alonso menahan Estêvão hingga menit ke-87 dinilai lambat dan menjadi pola pergantian pemain yang meresahkan.
- Posisi Chelsea di klasemen melorot ke peringkat tujuh dengan tujuh poin dari lima laga, memicu tekanan publik terhadap proyek Alonso.

Kekalahan 0-3 Chelsea di kandang Brentford, Sabtu dini hari WIB, bukan sekadar kehilangan tiga poin. Hasil itu menyingkap kerentanan taktis dan manajemen pergantian pemain Xabi Alonso yang mulai dipertanyakan publik Stamford Bridge.
Bermain imbang di babak pertama, The Blues kehilangan kendali setelah jeda. Brentford membuka keunggulan lewat skema sepak pojok pada menit 61: umpan Mikkel Damsgaard disundul Moritz Schuster ke tiang jauh, diselesaikan Jaidon Anthony dari jarak dekat. Dua gol tambahan lahir dari transisi cepat—Igor Thiago memanfaatkan rebound setelah tembakan Kevin Schade ditepis Emi Martinez, lalu Fábio Carvalho menutup pesta di menit tambahan keempat. Ini kemenangan kandang pertama Brentford atas Chelsea sejak 1938.
Bagi Alonso, angka-angka itu mengganggu. Chelsea telah kebobolan 12 gol liga dan belum pernah mencatat clean sheet sejak ia mengambil alih. Posisi mereka di klasemen turun ke peringkat tujuh dengan koleksi tujuh poin dari lima pertandingan—sebuah awal yang jauh dari ekspektasi klub yang menghabiskan dana besar di bursa transfer.
Kritik paling tajam mengarah pada manajemen waktu Alonso. Estêvão, winger muda Brasil yang digadang-gadang sebagai pembeda, baru dimasukkan pada menit 87 menggantikan Pedro Neto. Padahal, Chelsea butuh kreativitas sejak awal babak kedua. Alonso sebelumnya sudah melakukan dua pergantian pada menit 72 dengan memasukkan Geovany Quenda dan Josh Acheampong, tetapi keputusan menahan Estêvão dinilai kontraproduktif.
"Saya tetap percaya pada Xabi dan tidak ikut panik, tapi Neto bertahan terlalu lama dan Estêvão masuk sangat terlambat—itu membingungkan. Ini sudah jadi pola; pergantian pemain Xabi terlalu lambat," ujar influencer Chelsea, Alex Goldberg, di X.
Kritik Goldberg mewakili keresahan sebagian besar suporter. Estêvão memang bukan solusi tunggal, tetapi ia memiliki kemampuan dribel dan kecepatan untuk membongkar pertahanan rapat. Memberinya waktu kurang dari sepuluh menit—termasuk injury time—nyaris tidak memberi ruang untuk mengubah permainan. Manajemen Stamford Bridge disebut menaruh harapan besar pada pemain muda itu, sehingga minimnya menit bermainnya menjadi tanda tanya.
Meski demikian, kepanikan dini belum sepenuhnya beralasan. Alonso mewarisi skuad yang dihantam cedera dan masih mengintegrasikan beberapa pemain baru. Namun, pola substitusi yang lambat mulai menjadi tema berulang. Dalam konteks Premier League yang semakin kompetitif, kemampuan seorang manajer membaca momentum pertandingan sama pentingnya dengan taktik awal.
Bagi penggemar di Indonesia, kekalahan ini menjadi pengingat bahwa proyek besar di klub elite Eropa tidak selalu berjalan mulus. Chelsea akan menghadapi jadwal padat, dan jika tren tanpa clean sheet berlanjut, tekanan pada Alonso bisa meningkat. Pertanyaannya: apakah ia akan mengubah pendekatan pergantian pemain, atau justru bersikukuh pada pola yang mulai dipertanyakan?



