Lulu Ungkap Perjuangan Melawan Alkoholisme: 'Aku Tidak Malu Lagi'
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi veteran Lulu, 77 tahun, secara terbuka mengakui dirinya seorang alkoholik dan telah bebas alkohol sejak rehabilitasi pada 2013.
- Ia menegaskan tidak bangga dengan masa lalunya, tetapi menolak rasa malu yang dulu membelenggunya, dan menyebut penulisan memoar sebagai terapi yang traumatis namun katarsis.
- Kesaksian Lulu menyoroti pentingnya dukungan kesehatan mental dan spiritual dalam pemulihan kecanduan, sekaligus menginspirasi diskusi tentang alkoholisme fungsional yang sering tersembunyi.

Penyanyi legendaris asal Skotlandia, Lulu, mengejutkan publik dengan pengakuan jujur bahwa dirinya adalah seorang alkoholik. Perempuan berusia 77 tahun itu menyatakan tidak lagi merasa malu dengan kondisinya, meski ia juga tidak bangga dengan perjalanan kelam yang pernah dilaluinya. Pengakuan ini pertama kali ia sampaikan dalam memoar berjudul If Only You Knew, yang kemudian ia elaborasi dalam wawancara dengan surat kabar i.
Lulu, yang telah aktif di industri musik sejak era 1960-an, mengungkapkan bahwa ia menjalani rehabilitasi pada 2013 dan sejak itu tidak pernah menyentuh alkohol. Keputusan untuk membuka diri bukan tanpa risiko. Menulis buku tersebut, katanya, seperti "pergi ke neraka dan kembali"โsebuah proses intens yang memaksanya berhadapan dengan trauma masa lalu. Namun, ia menyebut pengalaman itu katarsis. "Sekarang saya telah jujur dan vokal tentang menjadi alkoholik, saya tidak bangga, tapi saya tidak malu. Karena dulu saya sangat malu," ujarnya.
Pengakuan ini bukan sekadar curhat seorang selebriti. Alkoholisme, terutama yang bersifat fungsional, sering kali tidak terdeteksi karena penderitanya masih mampu menjalankan rutinitas sehari-hari. Lulu sendiri mengaku sebagai "highly-functioning alcoholic"โia bisa tampil di panggung, merekam lagu, dan memenuhi jadwal kerja, tetapi setiap malam ia tidur dalam keadaan mabuk. "Saya sangat tertutup, saya sangat malu. Saya pergi keluar, minum beberapa gelas, pulang, minum lagi. Anda tahu Anda alkoholik jika tidak bisa berhenti," kenangnya. Bahkan putranya dan sahabatnya, Elton John, tidak menyadari pergulatan batinnya selama bertahun-tahun.
Dalam wawancara di podcast On The Mend yang dipandu Matt Willis, Lulu berbicara tentang rasa takutnya akan kambuh. "Saya memiliki rasa takut yang sehat terhadap relapse, tapi saya tidak terus-menerus merasa cemas. Saya sadar itu bisa terjadi," tuturnya. Ia mengakui bahwa berada di antara orang-orang yang menikmati anggur berkualitas terkadang menggoda, tetapi ia tahu harga yang harus dibayar. "Itu seperti memotong lengan Anda sendiri... Saya akan langsung kolaps. Itu akan menjadi akhir hidup saya."
"Saya selalu memiliki iman yang luar biasa. Saya menyebutnya lebih sebagai spiritualitas daripada agama. Setiap pagi saya berlutut dan bersyukur kepada Tuhan atas apa yang saya miliki... Saya percaya ada sesuatu yang lebih besar dari diri saya." โ Lulu
Perjalanan Lulu juga menyoroti pentingnya kesehatan mental dalam proses pemulihan. Ia mengaku bahwa menulis buku memoarnya sangat mengguncang jiwanya hingga ia harus kembali menjalani terapi. "Saya perlu kembali ke terapi, serius. Buku itu membuat saya trauma," akunya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa berbicara terbuka tentang kecanduan bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi membebaskan, di sisi lain membangkitkan luka lama.
Di Indonesia, isu alkoholisme masih sering dipandang sebagai aib yang tabu untuk dibicarakan. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan jumlah pengguna alkohol di kalangan remaja dan dewasa muda, namun layanan rehabilitasi dan dukungan kesehatan mental masih terbatas. Kisah Lulu bisa menjadi cermin bahwa kecanduan tidak memandang status sosial atau profesi. Dukungan spiritual dan terapi profesional, seperti yang ia jalani, menjadi kunci untuk bertahan dalam pemulihan.
Ke depannya, terbukanya publik figur seperti Lulu tentang perjuangan mereka dapat mengurangi stigma dan mendorong lebih banyak orang mencari bantuan. Namun, tantangan tetap ada: bagaimana memastikan akses layanan kesehatan mental yang memadai, terutama di negara-negara dengan budaya malu yang kuat? Kisah Lulu mengingatkan bahwa pemulihan adalah proses seumur hidup, dan keberanian untuk jujur adalah langkah pertama menuju penyembuhan.



