Miley Cyrus Kenang Dolly Parton: Dari Bathtub di Bus Tur hingga Pelajaran Soal Persona
Baca dalam 60 detik
- Miley Cyrus mengungkap kebingungannya terhadap kebiasaan Dolly Parton yang selalu membawa bathtub di bus tur.
- Di balik perbedaan gaya hidup, Miley menyebut Dolly Parton sebagai sosok yang mengajarinya tentang keaslian dan persona.
- Percakapan terakhir mereka menjadi momen haru yang mengungkap sisi manusiawi Dolly Parton.

Miley Cyrus tidak pernah benar-benar memahami keputusan Dolly Parton untuk memasang bathtub di dalam bus turnya. Dalam wawancara dengan Zane Lowe dari Apple Music, penyanyi berusia 33 tahun itu mengaku bingung dengan kebiasaan mendiang ibu baptisnya tersebut. “Dolly punya bathtub. Aku selalu bertanya, ‘Kapan kamu akan mandi? Di tempat parkir atau di jalan tol?’ Kalau di tempat parkir, mendingan ke hotel saja,” ujarnya, seperti dikutip dari wawancara tersebut.
Dolly Parton, yang meninggal pada Agustus lalu setelah sakit singkat di usia 80 tahun, memang dikenal eksentrik. Namun bagi Miley, keanehan itu justru menjadi bukti betapa berbedanya mereka. “Kami memang orang yang berbeda,” tambahnya. Meski demikian, perbedaan itulah yang membuat hubungan mereka istimewa. Miley baru saja merilis album terbarunya, Bass Persuades, dan kehilangan Dolly menjadi pukulan berat baginya.
Dalam wawancara tersebut, Miley juga mengenang percakapan terakhirnya dengan Dolly. Saat itu, ia sedang bercerita tentang album barunya. “Kami memang sangat berbeda, tapi itulah yang membuat kami sempurna satu sama lain. Dia tahu itu, dan aku juga,” kenangnya. Miley menilai keaslian Dolly adalah daya tarik utamanya. “Dia terkenal dengan segala hal yang palsu—rambut, riasan, pertunjukan—tapi ada sisi dirinya yang membuat orang tertarik: betapa nyatanya dia,” ujarnya.
Miley mengaku banyak belajar dari Dolly tentang menghadapi persona publik. Sebagai bintang Disney yang tumbuh besar lewat serial Hannah Montana, Miley merasa Dolly membantunya menavigasi kehidupan sebagai idola remaja. “Aku bisa melihat bahwa kamu tetap bisa memiliki persona dan tetap menjadi dirimu sendiri, karena aku punya Dolly,” katanya. Dolly sendiri memerankan Bibi Dolly, ibu baptis fiktif dari karakter Miley Stewart, yang mencerminkan hubungan mereka di dunia nyata.
Miley juga mengungkap nasihat Dolly saat ia menangis di atas panggung. “Dia bilang, ‘Musik itu pelarian. Biarkan mereka menangis. Lewati saja.’ Aku bilang, ‘Aku tahu, tapi inilah aku,’ dan dia mencintaiku karena itu,” tuturnya. Miley mengaku selalu menangis saat membawakan lagu “End of the World” di acara My Next Guest Needs No Introduction with David Letterman. Dolly menonton penampilan itu dan bertanya mengapa ia menangis. Miley menjelaskan bahwa lagu itu tentang dunia yang berakhir dan tidak pernah melihat ibunya lagi.
Bagi industri musik Indonesia, kisah Miley dan Dolly menjadi cermin tentang pentingnya mentor dalam membentuk identitas artis. Di tengah tekanan industri yang menuntut citra tertentu, sosok seperti Dolly Parton mengingatkan bahwa keaslian tetap menjadi kunci. Penyanyi muda Indonesia seperti Raisa atau Isyana Sarasvati juga kerap berbicara tentang pentingnya menjadi diri sendiri di tengah ekspektasi publik. Hubungan lintas generasi semacam ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi perkembangan musik tanah air.
Ke depan, warisan Dolly Parton akan terus hidup melalui musik dan pengaruhnya terhadap generasi penerus. Miley Cyrus, dengan album barunya, tampaknya berusaha meneruskan semangat itu. Namun, akankah industri musik global tetap menghargai keaslian di tengah arus komersialisasi yang semakin deras? Pertanyaan itu relevan tidak hanya bagi Miley, tetapi juga bagi musisi Indonesia yang tengah mencari jati diri.



