Tiga Chinook Jepang di Langit Mempawah: Bantuan Karhutla atau Soft Selling Alutsista?
Baca dalam 60 detik
- Jepang mengerahkan kapal JS Kunisaki dan tiga helikopter CH-47 Chinook untuk mendukung operasi water bombing karhutla di Kalimantan Barat.
- Kerja sama ini merupakan implementasi Defence Cooperation Arrangement (DCA) yang diteken Mei 2026, sekaligus ajang unjuk kemampuan alutsista Jepang di kawasan.
- Operasi akan digeser ke Kabupaten Ketapang, sementara pengamat menilai bantuan ini memperkuat diplomasi pertahanan Indonesia yang bebas aktif.

Kapal pendarat tank milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang, JS Kunisaki, bersandar di Terminal Kijing, Mempawah, Kalimantan Barat, sejak Kamis (10/9/2026). Kapal itu membawa tiga helikopter CH-47 Chinook yang diterbangkan untuk mendukung operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari udara. Kehadiran armada Jepang di perairan Kalimantan bukan sekadar misi kemanusiaan, melainkan penanda berlakunya Defence Cooperation Arrangement (DCA) yang diteken kedua negara pada 4 Mei 2026.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin meninjau langsung JS Kunisaki pada Selasa (15/9/2026). Dalam kunjungan itu, ia berdialog dengan sejumlah perwira tinggi Jepang, termasuk Joint Force Commander Kolonel Nakahara Syunzi dan Komandan Skuadron CH-47 Letnan Kolonel Wakatsuki. Sjafrie juga melakukan panggilan video dengan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi, yang kemudian memberi instruksi kepada pasukannya di lapangan.
"Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi atas respons cepat dalam memberikan bantuan helikopter CH-47 yang dilengkapi kemampuan pemadaman kebakaran," ujar Sjafrie dalam keterangan tertulis.
Pengajar Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Anton Aliabbas, menilai bantuan Jepang sebagai bentuk diplomasi pertahanan berkategori low politics. Menurutnya, langkah tersebut memiliki risiko politik rendah, tetapi daya jangkau strategisnya luas karena melibatkan aset militer kedua negara. "Ini punya jangkauan strategis yang cukup luas mengingat ada keterlibatan militer dari kedua negara," tuturnya.
Anton menambahkan, kehadiran militer Jepang terjadi atas permintaan Indonesia, bukan inisiatif sepihak. Hal ini, katanya, justru menegaskan prinsip kedaulatan bebas aktif yang dianut Jakarta. Ia juga menyoroti dimensi lain: Jepang ingin memamerkan kapabilitas industri pertahanannya. "Meskipun ini bantuan kemanusiaan, ini juga bentuk soft selling kapasitas alutsista Jepang di kawasan," ucap Anton.
Dalam konteks regional, bantuan serupa pernah dilakukan Jepang pada 2013 saat mengirim pasukan ke Filipina pascataifun Haiyan. Bagi TNI, kerja sama ini menjadi ajang latihan bersama dalam teknik water bombing, sekaligus memperkuat memori institusi antarangkatan bersenjata. Koordinasi di lapangan melibatkan tiga safety officer dari TNI AD, AL, dan AU yang ditempatkan di setiap helikopter, sementara pengawasan operasional dan flight clearance berada di tangan TNI, dengan misi penerbangan dikoordinasikan bersama BNPB.
Bagi Indonesia, kehadiran Chinook Jepang memperlihatkan diversifikasi mitra pertahanan di tengah ketegangan geopolitik Asia Pasifik. Kerja sama ini tidak hanya mendatangkan bantuan fisik, tetapi juga transfer pengetahuan teknis dan standar operasi yang dapat memperkaya kemampuan TNI dalam penanggulangan bencana. Di sisi lain, Jepang memperoleh panggung untuk memperlihatkan keandalan alutsistanya, yang berpotensi membuka peluang pasar di kawasan ASEAN.
Setelah beroperasi di Mempawah, satuan tugas akan menggeser wilayah operasi ke Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, yang dinilai lebih optimal untuk penerbangan CH-47. Perpindahan ini menandakan bahwa operasi masih akan berlangsung dalam waktu dekat, seiring dengan belum padamnya titik-titik api di sejumlah wilayah. Sjafrie menegaskan, prioritas utama adalah perlindungan masyarakat dan percepatan pemadaman. "Yang paling penting adalah bagaimana seluruh kemampuan yang ada dapat digunakan untuk melindungi masyarakat, mempercepat pemadaman, dan mengurangi dampak karhutla," katanya.
Ke depan, publik akan menantikan apakah DCA RI–Jepang benar-benar menjadi fondasi kerja sama pertahanan yang setara, atau sekadar instrumen diplomasi simbolik. Efektivitas operasi di Ketapang akan menjadi ujian pertama: seberapa besar bantuan asing mampu mempercepat penanganan karhutla yang kerap melanda Kalimantan setiap musim kemarau. Jika berhasil, bukan tidak mungkin model kerja sama ini direplikasi untuk bencana lain di masa mendatang.



