Shaquille Ali-Yebuah dari Death in Paradise: Tiga Operasi dalam Sebulan, Kabar Duka di Meja Operasi
Baca dalam 60 detik
- Aktor Shaquille Ali-Yebuah menjalani tiga operasi dalam empat minggu akibat pneumotoraks spontan berulang saat berada di Los Angeles.
- Di tengah krisis kesehatan, ia menerima kabar sepupunya tewas ditembak polisi di Jamaika, menambah beban psikologis yang berat.
- Kisahnya menyoroti pentingnya kesadaran kesehatan paru dan dukungan mental bagi pekerja seni di industri hiburan global.

Aktor asal Inggris, Shaquille Ali-Yebuah, yang dikenal sebagai Officer Sebastien Rose dalam serial komedi kriminal BBC Death in Paradise, mengungkap pengalaman traumatis yang nyaris merenggut nyawanya. Pria 31 tahun itu harus menjalani tiga operasi dalam kurun empat minggu setelah mengalami dua kali pneumotoraks spontan saat berada di Los Angeles, Amerika Serikat. Yang lebih mengguncang, tepat sebelum operasi darurat pertama, ia mendapat kabar bahwa sepupunya tewas ditembak polisi di Jamaika.
Dalam unggahan di Instagram pada 11 September, Ali-Yebuah menceritakan bahwa kunjungan singkat ke Los Angeles berubah menjadi perjuangan hidup dan mati selama empat pekan. Awalnya ia mengira hanya mengalami infeksi dada, namun pemeriksaan medis mengungkap paru-parunya telah kolaps selama lima hari tanpa disadari. "Saya berjalan-jalan dengan paru-paru yang kolaps selama lima hari," tulisnya, seraya menambahkan bahwa rasa sakit itu dianggapnya sebagai gejala infeksi biasa.
Setelah operasi pertama, ia dinyatakan harus tetap di LA sampai mendapat izin terbang. Namun, dalam pemeriksaan lanjutan dua minggu kemudian, hasil rontgen menunjukkan paru-parunya kembali kolaps. Kondisi ini memaksanya menjalani operasi kedua dan ketiga. "Tiga operasi dalam empat minggu... saya yang dulu takut jarum, kini harus disuntik dua kali sehari untuk pengambilan darah. Ketakutan berubah menjadi rutinitas," ujarnya.
Tekanan mental yang dialami Ali-Yebuah tidak hanya datang dari kondisi fisiknya. Ia mengaku harus menandatangani surat persetujuan operasi yang memuat risiko tidak sadarkan diri, tepat setelah menerima berita kematian sepupunya. "Bayangkan harus memproses kematian seseorang sementara orang lain meminta Anda menandatangani dokumen untuk kemungkinan Anda tidak bangun lagi," kenangnya. Setelah operasi, ia kembali mendapat kabar buruk bahwa sepupunya yang lain ditahan.
Selama dirawat, Ali-Yebuah merasa kematian begitu dekat. Televisi rumah sakit terus menayangkan berita duka tentang selebritas yang ia kenal semasa kecil. "Kematian terasa sangat hadir saat saya berbaring berjuang bernapas, sendirian dengan pikiran saya," tuturnya. Pengalaman ini membuatnya merenungkan kembali ritme hidupnya yang serba cepat. "Saya selalu mengejar mimpi, penerbangan berikutnya, versi diri berikutnya. Mungkin Tuhan memaksa saya untuk diam," ujarnya.
"Mereka bilang kamu hanya hidup sekali, tapi saya tidak setuju. Kamu hanya mati sekali, tapi hidup setiap hari. Buatlah berarti."
— Shaquille Ali-Yebuah
Ali-Yebuah juga menyebut bahwa dokter utama yang menangani operasi pertamanya adalah penggemar berat Death in Paradise. "Apa peluangnya? Kami bersyukur, tidak larut dalam kesedihan, semua ini bagian dari perjalanan," katanya. Ia menegaskan bahwa pneumotoraks spontan tidak dapat dicegah, sehingga kejadian beruntun ini dianggapnya sebagai isyarat untuk berhenti sejenak dari kehidupan yang serba bergerak.
Konteks Indonesia: Kesadaran Kesehatan Paru dan Beban Mental Pekerja Seni
Kisah Ali-Yebuah menjadi cermin bagi industri hiburan Indonesia yang kerap menuntut mobilitas tinggi dan jam kerja tidak teratur. Pneumotoraks spontan, meski jarang, dapat menyerang siapa saja, terutama pria muda bertubuh kurus dan perokok. Gejalanya sering diabaikan sebagai nyeri dada biasa, padahal bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Di Indonesia, kesadaran akan kondisi ini masih rendah, dan akses ke layanan gawat darurat paru di daerah belum merata.
Selain itu, tekanan psikologis yang dialami Ali-Yebuah menyoroti pentingnya dukungan kesehatan mental bagi pekerja seni. Industri hiburan Tanah Air belum memiliki sistem perlindungan kesehatan mental yang mapan. Banyak aktor dan kru produksi bekerja tanpa jaminan kesehatan yang memadai, sementara tuntutan syuting intensif sering mengabaikan kondisi fisik dan emosional. Kisah ini bisa menjadi pemicu diskusi tentang perlunya regulasi jam kerja dan layanan konseling di lingkungan produksi film dan televisi.
Ke depan, apakah industri hiburan global—termasuk Indonesia—akan lebih serius menempatkan kesehatan fisik dan mental sebagai prioritas, bukan sekadar tuntutan profesional? Ali-Yebuah telah memberi pelajaran berharga: tubuh bisa saja kolaps, tetapi semangat untuk bangkit harus tetap menyala.



