Prabowo Resmikan LRT Kelapa Gading–Manggarai: 12,2 Km, 11 Stasiun, 28 Menit
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto meresmikan jalur LRT Jakarta penghubung Kelapa Gading–Manggarai, memperluas jangkauan angkutan massal di Ibu Kota.
- Jalur sepanjang 12,2 km dengan 11 stasiun ini memangkas waktu tempuh dari kawasan Jakarta Utara ke pusat kota menjadi sekitar 28 menit.
- Peresmian menandai babak baru integrasi transportasi publik, namun tantangan pembiayaan dan okupansi masih menanti.

Presiden Prabowo Subianto meresmikan pengoperasian LRT Jakarta rute Kelapa Gading–Manggarai di Stasiun Manggarai, Jakarta, Rabu (16/9/2026). Jalur sepanjang 12,2 kilometer dengan 11 stasiun ini menjadi penanda perluasan layanan angkutan massal yang menghubungkan Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan.
Sebelum seremoni, Prabowo bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjajal langsung perjalanan dari Kelapa Gading menuju Manggarai. Setelah peresmian, Presiden menyempatkan diri menyapa warga di sekitar stasiun, membagikan kaus kepada anak sekolah, dan meladeni permintaan swafoto. Momen tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungannya, sekaligus sinyal bahwa proyek infrastruktur ini mendapat perhatian politik tingkat tinggi.
Jalur ini melayani 11 stasiun: Kelapa Gading, Boulevard Utara, Boulevard Selatan, Pulomas, Equestrian, Velodrome, Rawamangun, Pramuka, Matraman, Proklamasi, dan Manggarai. Waktu tempuh dari ujung ke ujung diperkirakan sekitar 28 menit—alternatif yang jauh lebih cepat dibandingkan perjalanan darat pada jam sibuk yang kerap menelan waktu hingga dua kali lipat.
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya investor dan profesional yang beraktivitas di Jakarta, kehadiran jalur ini berpotensi mengubah peta mobilitas harian. Kawasan Kelapa Gading dan sekitarnya selama ini dikenal sebagai kantong permukiman padat dengan akses terbatas ke angkutan massal berbasis rel. Dengan terhubungnya jalur ini ke Manggarai—salah satu simpul transportasi tersibuk di Jakarta—pengguna dapat beralih ke KRL, MRT, maupun TransJakarta tanpa harus terjebak kemacetan di jalan tol dalam kota.
Dari sisi properti, konektivitas baru ini kerap menjadi katalis kenaikan nilai lahan di sekitar stasiun. Namun, dampaknya tidak serta-merta merata. Pemerintah daerah perlu memastikan adanya integrasi antarmoda yang mulus, tarif yang terjangkau, dan kapasitas angkutan pengumpan (feeder) yang memadai. Tanpa itu, risiko "last mile problem" bisa menggerus minat masyarakat beralih ke LRT.
Pengamat transportasi publik menilai peresmian ini sebagai langkah maju, tetapi menggarisbawahi bahwa keberlanjutan operasional menjadi ujian sesungguhnya. Biaya operasi dan perawatan jalur layang, serta kebutuhan subsidi agar tarif tetap kompetitif, akan membebani APBD DKI. Okupansi penumpang pun harus dijaga di atas ambang batas ekonomi agar layanan tidak sekadar menjadi proyek mercusuar.
"Konektivitas adalah kunci, tetapi tanpa integrasi yang baik, masyarakat akan kembali memilih kendaraan pribadi," ujar seorang analis transportasi perkotaan, mengingatkan pentingnya sinergi antarmoda.
Peresmian ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mengejar target pengurangan emisi dan kemacetan di kawasan metropolitan. Jika berhasil, model LRT Kelapa Gading–Manggarai bisa direplikasi di kota-kota lain yang tengah merancang sistem angkutan massal berbasis rel. Namun, pertanyaan besarnya: apakah pemerintah mampu menjaga konsistensi layanan dan mendorong peralihan moda secara signifikan, ataukah jalur ini hanya menjadi pelengkap yang ramai di awal operasi?



