Pasca Penembakan Sopir di Jayawijaya, Polisi Sisir Titik Pengadangan 4 Km
Baca dalam 60 detik
- Aparat gabungan TNI-Polri mengevakuasi jenazah Aris Sanda yang tewas ditembak dan dibakar bersama mobilnya di Jayawijaya, Papua Pegunungan.
- Olah TKP menemukan selongsong amunisi kaliber 5,56 mm dan dokumen korban; lokasi penemuan jenazah berjarak 4 km dari titik pengadangan.
- TPNPB-OPM mengklaim bertanggung jawab dan mengancam akan menembak pendatang yang masuk zona konflik, memicu kekhawatiran eskalasi keamanan.

Aparat gabungan TNI-Polri mengevakuasi jenazah Aris Sanda, sopir yang ditembak dan dibakar bersama kendaraannya oleh kelompok bersenjata di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Rabu (16/9/2026). Penemuan jasad korban berjarak sekitar empat kilometer dari titik pengadangan awal, menurut hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) kepolisian.
Insiden penembakan terjadi pada Selasa (15/9/2026) pagi di Jalan Trans Wamena-Nduga, Distrik Trikora. Tim gabungan yang terdiri dari personel Polres Jayawijaya, Satgas Damai Cartenz, dan Komando Operasi TNI Habema baru menemukan jenazah korban di kawasan Danau Habema, Rabu sekitar pukul 13.15 WIT. Kepala Polres Jayawijaya Ajun Komisaris Besar Anak Agung Made Satriya Bimantara mengungkapkan bahwa mobil Strada Triton hangus terbakar sekitar 13 meter dari badan jalan. Di dalam kabin, jenazah ditemukan dalam kondisi terbakar berat dengan sebagian besar jaringan tubuh mengalami karbonisasi sehingga ciri fisik sulit dikenali.
Dari olah TKP, personel mengamankan satu butir selongsong amunisi kaliber 5,56 mm serta satu tas berisi dokumen pribadi dan kendaraan milik korban. Pemeriksaan juga dilanjutkan ke lokasi yang diduga sebagai titik awal pengadangan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat kejadian Aris dan sejumlah penumpangnya tengah dalam perjalanan dari Wamena menuju Mbuah, Kabupaten Nduga. Di tengah perjalanan, mereka diadang kelompok bersenjata. Para penumpang dilepaskan dan diarahkan kembali ke Wamena, sementara Aris disandera.
"Jenazah korban ditemukan di dalam kabin kendaraan, pada posisi sekitar kursi kemudi dengan kondisi terbakar berat. Sebagian besar jaringan tubuh mengalami karbonisasi dan ciri-ciri fisik sulit dikenali secara visual," kata Satriya.
Setelah rangkaian olah TKP selesai, jenazah dievakuasi ke RSUD Wamena dan tiba sekitar pukul 15.30 WIT. Pemeriksaan awal dilakukan untuk mengetahui kondisi medis serta sebab dan mekanisme kematian korban. Setelah pemeriksaan selesai, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga. Hingga kini, personel gabungan terus berupaya mengungkap dan mengejar pelaku.
Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, menyatakan pihaknya bertanggung jawab atas penyerangan ini. Sebby menyebut informasi tersebut telah dilaporkan oleh pimpinan TPNPB-OPM Nduga, Egianus Kogoya. Dalam laporan yang diterimanya, sopir yang ditembak diklaim sebagai intelijen militer Indonesia. "Kami melakukan ini untuk membatasi mereka masuk teritorial kami. Orang imigran masuk, mereka menjadi mata-mata dan disamarkan TNI atau Polri," ujar Sebby.
Sebby juga menegaskan bahwa semua pendatang yang memasuki zona perang akan ditembak. Di Papua Pegunungan, wilayah tersebut mencakup Jalan Trans-Papua yang menghubungkan Jayawijaya dengan sejumlah daerah seperti Nduga, Lanny Jaya, Tolikara, dan Yalimo. "Wilayah itu hanya boleh dilewati sopir dan penumpang orang asli Papua. Selain itu, orang pendatang sebagai tukang ojek, sopir, dan pegawai akan kami tembak jika memasuki zona ini," kata Sebby.
Insiden ini hanya berselang kurang dari sepekan dari peristiwa serupa di Jayawijaya. Pada Rabu (9/9/2026), gerombolan TPNPB-OPM Egianus Kogoya memberhentikan rombongan yang berjumlah 11 orang dari Dinas Pertanian Jayawijaya. Delapan orang di antaranya, yang merupakan orang asli Papua, dilepaskan. Namun, tiga perantau asal Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan ditembak mati. Mereka yang tewas yakni calon pegawai negeri sipil Willi Mbuik (24), dokter hewan Alfonsius Albinus Mehan (35), serta Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan di Dinas Pertanian Jayawijaya Aprida Rapi (49). Aprida dan Alfonsius meninggal di lokasi kejadian, sementara Willi sempat menjalani perawatan medis di RSUD Wamena tetapi dinyatakan meninggal di hari yang sama. TPNPB-OPM mengklaim ketiga korban sebagai mata-mata Indonesia.
Rangkaian kekerasan ini memperlihatkan pola yang mengkhawatirkan: kelompok bersenjata tidak hanya menargetkan aparat keamanan, tetapi juga warga sipil pendatang yang dianggap bagian dari intelijen. Jalan Trans-Papua, yang menjadi urat nadi perekonomian dan mobilitas di wilayah pegunungan, kini berisiko menjadi zona konflik terbuka. Dampaknya tidak hanya pada keselamatan jiwa, tetapi juga pada distribusi logistik, layanan publik, dan aktivitas ekonomi sehari-hari. Pemerintah daerah dan aparat keamanan menghadapi dilema antara penegakan hukum dan perlindungan warga sipil di tengah klaim kedaulatan yang dilontarkan kelompok separatis.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah aparat mampu menangkap pelaku dan mencegah eskalasi lebih lanjut, sekaligus menjaga agar Jalan Trans-Papua tetap aman bagi semua pengguna. Tanpa penanganan menyeluruh yang menyentuh akar konflik, siklus kekerasan di Papua Pegunungan berpotensi terus berulang.



