Roger Waters Serang Ed Sheeran, Konser Loop Memanas Usai Macklemore Dicoret
Baca dalam 60 detik
- Roger Waters melontarkan kritik pedas kepada Ed Sheeran setelah Macklemore dikeluarkan dari tur Loop karena menyuarakan dukungan untuk Palestina.
- Sejumlah musisi pendukung lain seperti Finneas, Lukas Graham, dan Aaron Rowe turut mundur, memicu spekulasi boikot terhadap penyelenggara konser.
- Kontroversi ini menyoroti tekanan politik dan komersial di industri musik global, dengan implikasi pada kebebasan berekspresi dan potensi dampak di pasar musik Indonesia.

Roger Waters, ikon Pink Floyd, secara terbuka menyerang Ed Sheeran setelah rapper Macklemore dicopot dari tur Loop. Serangan itu muncul sebagai reaksi atas keputusan tim Sheeran yang dinilai tidak berpihak pada solidaritas kemanusiaan.
Macklemore, yang sebelumnya tampil sebagai pembuka di MetLife Stadium, New Jersey, menyampaikan dukungan untuk Palestina di atas panggung. Tak lama kemudian, ia mengumumkan bahwa dirinya dikeluarkan dari daftar penampil. Sheeran kemudian memberikan pernyataan yang menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan wewenang promotor, dan ia memilih untuk tidak menggunakan panggung profesionalnya sebagai alat politik demi menjaga rasa aman bagi semua penggemar.
Waters merespons melalui klip berjudul "Ed Who?" yang berisi kecaman tajam. Ia menyebut ada dua tipe orang: mereka yang melakukan hal benar, seperti Macklemore, dan mereka yang melakukan hal salah. Waters menutup pesannya dengan kata "selamat tinggal" yang menyiratkan kekecewaan mendalam.
Kontroversi ini bukan sekadar perselisihan antarpribadi. Keputusan mengeluarkan Macklemore memicu reaksi berantai: sejumlah musisi pendukung lain memilih mundur dari tur. Finneas, Lukas Graham, Aaron Rowe, dan band pengiring Sheeran, Beoga, menyatakan tidak akan tampil di sisa jadwal. Langkah ini memperlihatkan solidaritas di antara para seniman, sekaligus menandakan bahwa isu politik dan kemanusiaan semakin sulit dipisahkan dari industri hiburan.
"Saya tidak menyalahkan Ed. Ini keputusan promotor. Tapi saya ingin kita tidak melupakan korban sebenarnya, yaitu rakyat Palestina," tulis Macklemore dalam pernyataan di Instagram.
Macklemore juga mengungkapkan bahwa Robert Kraft, pemilik Gillette Stadium, berperan besar dalam keputusan tersebut. Menurut Macklemore, Kraft mengancam akan melarang Sheeran tampil di stadionnya jika Macklemore tetap ikut tur. Ultimatum itu, kata Macklemore, menempatkan Sheeran dalam posisi sulit. Ia menegaskan tidak ingin menyerang karakter Sheeran, namun ia merasa perlu mengungkap tekanan yang terjadi di balik layar.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin bagaimana isu global dapat memengaruhi industri kreatif. Meskipun tidak ada jadwal tur langsung di Indonesia, gaung kontroversi ini bisa memengaruhi persepsi penggemar terhadap artis internasional yang tampil di Tanah Air. Penyelenggara konser dalam negeri perlu mencermati dinamika semacam ini, terutama jika ingin menghadirkan musisi yang vokal terhadap isu politik. Di sisi lain, penggemar musik Indonesia yang kritis terhadap isu kemanusiaan mungkin akan menuntut transparansi dari promotor mengenai kebijakan yang diambil.
Industri musik global sedang diuji: apakah panggung hiburan tetap netral, atau justru menjadi arena perdebatan politik? Ke depan, tekanan dari pemilik venue dan sponsor bisa semakin menentukan siapa yang boleh bersuara. Sementara itu, solidaritas antarseniman seperti yang ditunjukkan Finneas dan Lukas Graham berpotensi menjadi preseden baru dalam menyikapi intervensi komersial. Akankah gelombang mundurnya para pendukung ini memaksa promotor meninjau ulang keputusan mereka, atau justru mempertegas batas antara bisnis dan politik?



