Drake Rilis Film FOMO di YouTube, Kolaborasi Country dengan Ella Langley Hilang dalam Hitungan Jam
Baca dalam 60 detik
- Drake mengunggah film FOMO ke YouTube pada Selasa (15/09/26) malam, menampilkan lagu baru bernuansa country yang menginterpolasi single Ella Langley, Choosin' Texas.
- Video tersebut menghilang tak lama setelah tayang, memicu spekulasi tentang strategi perilisan atau masalah hak cipta, sementara lagu-lagu baru belum tersedia di platform streaming.
- Kolaborasi lintas genre ini berpotensi memperluas jangkauan Drake ke pasar country dan membuka peluang bagi musisi Indonesia untuk menjajaki crossover serupa.

Film pendek berjudul Fear of Missing Out (FOMO) yang digarap Drake sempat tayang perdana di YouTube pada Selasa (15/09/26) malam, namun lenyap dari platform tersebut dalam waktu singkat. Kemunculan dan hilangnya video itu menyisakan tanda tanya besar, terutama karena proyek tersebut memuat sejumlah lagu baru yang belum pernah dirilis, termasuk satu trek bernuansa country yang menginterpolasi singel Choosin' Texas milik Ella Langley.
Menurut keterangan yang dihimpun, film ini menggabungkan klip-klip musik dari trilogi album musim panas Drake dan menampilkan beberapa kolaborasi anyar, seperti dengan Don Toliver dan Yeat. Selain Ella Langley, sejumlah nama lain turut muncul, antara lain Sexyy Red, Winnie Harlow, Lena the Plug, serta figur viral Pinkchyu dan ibunda Drake, Sandi Graham. Hingga Rabu (16/09/26) pagi, FOMO belum kembali ke YouTube dan belum ada penjelasan resmi apakah film akan diunggah ulang atau lagu-lagu barunya akan dirilis terpisah.
Insiden ini bukan sekadar kejadian teknis biasa. Langkah Drake menyelipkan elemen country ke dalam karya hip-hop menunjukkan pergeseran selera pasar musik global, di mana batas antar genre semakin kabur. Choosin' Texas sendiri telah mencetak prestasi luar biasa dengan menduduki puncak tangga lagu Amerika Serikat, dan nama Ella Langley mendapat pujian dari legenda country Shania Twain yang menyebutnya sebagai penulis lagu autentik. Kolaborasi semacam ini berpotensi memperluas basis penggemar kedua belah pihak, sekaligus menguji sejauh mana penonton menerima eksperimen lintas genre.
"Tidak ada yang datang menyelamatkanmu. Kamu harus menggunakan setiap hari untuk memilah siapa yang kamu cintai dan percayai, lalu melangkah maju bersama mereka," tulis Drake di Instagram, seraya menambahkan bahwa ia tetap peduli pada format video musik meski banyak yang menganggapnya sudah usang.
Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa Drake ingin menegaskan komitmennya pada video musik sebagai medium bercerita, di tengah anggapan bahwa format itu kian ditinggalkan. Namun, hilangnya FOMO dari YouTube justru memunculkan spekulasi tentang strategi pemasaran yang disengaja atau kendala hak cipta. Sebelumnya, Drake sempat membocorkan remix Choosin' Texas dalam sebuah DJ set di Toronto, dan ia bahkan menghadiri konser Ella di Arkansas. Interaksi keduanya di media sosial juga hangat, dengan Drake memuji kemampuan menulis Ella, dan Ella membalas dengan video lip-sync lagu Drake dan Lil Wayne.
Bagi industri musik Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bahwa kolaborasi lintas genre dapat menjadi kunci untuk menembus pasar yang lebih luas. Beberapa musisi Tanah Air sudah mulai menggabungkan pop dengan dangdut, hip-hop dengan musik tradisional, atau bahkan country dengan sentuhan lokal. Keberhasilan Drake dan Ella Langley menunjukkan bahwa batas geografis dan genre bukan lagi tembok pemisah, asalkan ada keaslian dan cerita yang kuat. Namun, tantangan utamanya adalah konsistensi dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman, seperti yang dilakukan Drake dengan mengusung nuansa country di tengah dominasi hip-hop.
Ke depan, publik menantikan apakah FOMO akan kembali tayang secara utuh atau justru dipecah menjadi beberapa rilisan tunggal. Jika lagu-lagu baru itu akhirnya tersedia di platform streaming, ada peluang besar bagi Drake untuk mencetak hits lintas genre dan memperkuat posisinya sebagai inovator. Sebaliknya, jika proyek ini tetap hilang, misteri justru bisa meningkatkan rasa penasaran dan nilai jual di kemudian hari. Yang jelas, manuver Drake kali ini telah memicu diskusi tentang masa depan video musik dan kolaborasi antargenre, sebuah percakapan yang juga relevan bagi industri musik Indonesia yang sedang mencari bentuk baru untuk menjangkau audiens global.



