Chase Infiniti Sebut Perempuan Kulit Berwarna Paling Rentan dalam Kekerasan
Baca dalam 60 detik
- Aktris Chase Infiniti mengkritik keras minimnya perlindungan bagi perempuan kulit berwarna dalam situasi kekerasan.
- Pengalaman syuting film The Julia Set membuka mata Infiniti tentang beban ganda yang ditanggung perempuan kulit berwarna.
- Kesuksesan di Hollywood justru membawa tekanan mental dan fisik yang tak terduga bagi Infiniti.

Aktris Chase Infiniti melontarkan kritik tajam terhadap perlakuan masyarakat terhadap perempuan kulit berwarna. Dalam wawancaranya dengan Variety, ia menyatakan bahwa kelompok tersebut termasuk yang paling tidak terlindungi ketika terjebak dalam hubungan yang tidak sehat. Pernyataan ini muncul saat ia membahas perannya sebagai Julia dalam film The Julia Set, di mana karakter mahasiswinya terlibat asmara beracun dengan asisten dosen, Pascal, yang diperankan Christopher Briney.
Infiniti menilai bahwa perempuan kulit berwarna kerap menanggung beban psikologis berlapis. "Julia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk Pascal. Sayangnya, perempuan kulit berwarna tidak punya kemewahan untuk hanya memikirkan diri sendiri. Mereka memikirkan semua orang di sekitarnya," ujarnya. Kondisi ini, lanjut dia, semakin parah dalam relasi penuh kekerasan. "Perempuan kulit berwarna adalah sebagian dari kelompok yang paling tidak terlindungi di masyarakat," tegasnya.
Pernyataan Infiniti bukan sekadar komentar sinis. Ia menyoroti realitas sosial yang sering luput dari perhatian publik: perempuan dari ras minoritas menghadapi risiko lebih tinggi menjadi korban kekerasan dalam pacaran atau rumah tangga, namun akses terhadap perlindungan hukum dan dukungan sosial masih timpang. Data dari organisasi advokasi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa perempuan kulit berwarna, terutama kulit hitam dan Hispanik, mengalami tingkat kekerasan fisik dan seksual yang lebih tinggi dibandingkan perempuan kulit putih, namun laporan mereka sering diabaikan oleh aparat.
Dalam film tersebut, ada adegan di mana Julia memberikan kejutan makan malam di apartemen Pascal menggunakan kunci yang diberikan. Proses syuting adegan itu ternyata sangat emosional. Penulis sekaligus sutradara Niki Byrne mengungkapkan, "Malam itu banyak air mata di lokasi. Dari semua adegan yang kami ambil, kru menangis tersedu-sedu saat adegan itu. Kami melakukan beberapa kali pengambilan gambar, dan dia (Pascal) masuk dan bersikap sangat tidak baik kepada Julia, lalu Julia hancur, dan kami semua terpukul."
Infiniti sendiri sedang menikmati lonjakan popularitas setelah tampil dalam film One Battle After Another bersama Leonardo DiCaprio. Namun, ia mengakui bahwa perhatian mendadak itu sulit dikelola. Kepada The Sunday Times, ia mengaku, "Banyak hal yang saya capai sekarang bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiran saya. Jadi sebagian besar dari diri saya masih berusaha memahami bahwa ini adalah kenyataan saya." Ia juga mengaku menjadi lebih percaya diri dalam bersosialisasi, meski mengaku sebagai pemalu. "Dulu saya tidak suka menghadiri acara karena tidak mengenal siapa pun dan tidak ada yang mengenal saya. Saya pemalu, jadi ruangan seperti itu sangat menakutkan. Tapi sekarang saya lebih baik dalam menyapa orang."
Meski begitu, Infiniti tidak menampik bahwa proses promosi film yang melelahkan sempat membuatnya kewalahan. Ia bercerita kepada The Hollywood Reporter bahwa Paul Thomas Anderson dan Leonardo DiCaprio sempat mengingatkannya bahwa promosi film adalah maraton. "Awalnya saya pikir itu biasa. Tapi setelah menjalani hari-hari wawancara dan perjalanan, saya sadar ini benar-benar melelahkan dengan cara yang belum pernah saya alami. Saya tidak tahu seperti apa musim penghargaan. Saya belum pernah mempromosikan apa pun sebelumnya," tuturnya.
Kisah Infiniti mencerminkan tekanan yang dihadapi aktor muda, terutama mereka yang berasal dari kelompok minoritas, di industri hiburan yang serba cepat. Di Indonesia, isu serupa juga relevan: perempuan dari kelompok marginal sering kali menghadapi hambatan ganda dalam mendapatkan keadilan, baik di ranah domestik maupun publik. Kesadaran akan pentingnya perlindungan bagi perempuan kulit berwarna, seperti yang disuarakan Infiniti, bisa menjadi cermin bagi masyarakat Indonesia untuk lebih peka terhadap kerentanan perempuan dari berbagai latar belakang.
Ke depan, apakah industri film akan semakin banyak mengangkat narasi semacam ini, atau justru sekadar menjadikannya komoditas tanpa perubahan nyata? Yang jelas, suara Infiniti menambah daftar panjang seruan agar perempuan kulit berwarna tidak lagi menjadi kelompok yang paling terabaikan.



