Kelly Osbourne Ungkap Pesan Terakhir Ozzy: 'Kamu Dicintai'
Baca dalam 60 detik
- Kelly Osbourne menceritakan percakapan terakhir dengan ayahnya, Ozzy Osbourne, tiga hari sebelum sang legenda Black Sabbath meninggal pada Juli 2025.
- Ia mengaku sempat kembali minum alkohol dan merasa hancur setelah kepergian Ozzy, namun kini telah delapan bulan kembali sadar.
- Kisah ini menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan bahaya relaps bagi individu yang berjuang dengan kesehatan mental dan ketergantungan.

Kelly Osbourne, putri mendiang vokalis Black Sabbath Ozzy Osbourne, mengungkapkan percakapan terakhirnya dengan sang ayah tiga hari sebelum pria 76 tahun itu menghembuskan napas terakhir pada Juli 2025. Dalam wawancara di podcast We Need To Talk, Kelly mengenang bagaimana Ozzy duduk bersamanya dan menyampaikan pesan yang sangat personal.
“Kamu bisa menjalani sisa hidupmu dengan mengetahui bahwa ada satu pria di planet ini yang benar-benar mencintaimu,” ujar Kelly menirukan perkataan ayahnya. Ia pun menangis dan memohon agar Ozzy tidak berbicara seperti itu. Namun Ozzy menegaskan bahwa ia tidak akan selamanya ada. Momen tersebut menjadi titik balik emosional bagi Kelly, yang kemudian terinspirasi oleh cara ibunya, Sharon, mengupayakan konser perpisahan Back To The Beginning di Villa Park beberapa pekan sebelum Ozzy wafat.
Kelly menyebut ibunya bekerja keras agar Ozzy bisa tampil satu kali lagi di atas panggung. “Ibuku membuat ayahku meninggal dalam keadaan paling bahagia yang pernah kulihat. Yang dia inginkan sebelum pergi hanyalah satu pertunjukan terakhir,” katanya. Konser itu dianggap sebagai salah satu momen paling bersejarah dalam musik.
Sharon Osbourne sebelumnya juga mengungkapkan percakapan terakhirnya dengan Ozzy dalam wawancara dengan Piers Morgan pada Desember 2025. Ia menceritakan bahwa pada pukul 04.30 pagi, Ozzy membangunkannya dan meminta untuk dicium serta dipeluk erat. “Seandainya saja aku lebih sering mengatakan bahwa aku mencintainya. Seandainya saja aku memeluknya lebih erat,” ujar Sharon penuh penyesalan.
Di sisi lain, Kelly mengaku sempat terpuruk setelah kepergian ayahnya. Ia yang sebelumnya telah menjalani empat tahun tanpa alkohol, kembali jatuh ke titik terendah. “Aku seperti cangkang kosong. Tidak bisa bicara, tidak bisa makan, tidak bisa melakukan apa pun. Aku hancur dalam setiap cara yang mungkin dialami manusia,” tuturnya. Kelly bahkan mulai minum lagi dan kehilangan kendali. Namun, ia bersyukur kini telah delapan bulan kembali sadar dan dikelilingi orang-orang yang mendukung. Ia juga mengaku mempersempit lingkaran pertemanan karena banyak yang tidak memahami proses berdukanya. “Aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Tidak akan pernah,” tegasnya.
Kisah Kelly Osbourne menyoroti sisi manusiawi dari kehidupan selebritas, terutama dalam menghadapi kehilangan dan perjuangan melawan kecanduan. Bagi publik Indonesia, cerita ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental dan dukungan sosial memainkan peran krusial dalam proses pemulihan. Relaps bukan akhir dari segalanya, tetapi bagian dari perjalanan yang membutuhkan ketahanan dan bantuan profesional.
Ke depannya, terbuka pertanyaan apakah Kelly akan terus membagikan pengalamannya untuk membantu orang lain yang mengalami hal serupa, atau justru memilih untuk lebih privat. Yang jelas, warisan Ozzy Osbourne tidak hanya tentang musik, tetapi juga tentang cinta keluarga yang ia tinggalkan.



