Efek Domino Pembungkaman: Finneas hingga Lukas Graham Hengkang dari Tur Ed Sheeran
Baca dalam 60 detik
- Finneas, Lukas Graham, Aaron Rowe, dan band pengiring Beoga kompak mundur dari tur Loop Ed Sheeran buntut pemecatan Macklemore.
- Mereka menolak kompromi dengan tekanan pihak ketiga yang dianggap membungkam solidaritas kemanusiaan untuk Palestina.
- Aksi kolektif ini berpotensi mengubah lanskap industri tur global, memaksa promotor dan artis menegosiasikan ulang batas antara bisnis dan etika.

Gelombang solidaritas di dunia musik internasional kembali memanas. Sejumlah musisi pendukung dan band pengiring Ed Sheeran—Finneas, Lukas Graham, Aaron Rowe, serta grup folk Irlandia Beoga—secara serentak mengundurkan diri dari tur Loop setelah rapper Macklemore dicoret dari daftar penampil. Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi Sheeran, yang tengah berupaya meredam kontroversi politik di panggungnya.
Kontroversi bermula ketika Macklemore, yang tampil sebagai pembuka di New Jersey awal bulan ini, menyuarakan dukungan untuk Palestina. Tak lama berselang, ia mengumumkan bahwa dirinya telah dikeluarkan dari line-up. Sheeran berdalih keputusan itu diambil oleh promotor demi menyelamatkan jalannya tur, namun langkah tersebut justru memicu reaksi berantai dari para kolaboratornya.
Finneas, yang dijadwalkan tampil di Amerika Selatan bersama Sheeran, menegaskan bahwa seniman tidak boleh dibungkam ketika membela yang tertindas. "Saya memutuskan untuk mundur dari jadwal tur mendatang dengan Ed Sheeran. Saya berdiri bersama Palestina dan rakyatnya," tulisnya di Instagram. Sikap serupa diambil Aaron Rowe, yang menyatakan tidak bisa berpura-pura normal di tengah apa yang disebutnya sebagai genosida. "Saya tidak bisa tinggal diam dan membiarkan miliarder menggunakan posisi mereka untuk membungkam suara-suara yang benar," ujarnya.
Beoga, yang telah menjadi band pengiring Sheeran selama satu dekade, menyatakan bahwa mereka tidak bisa melanjutkan tur setelah apa yang mereka sebut sebagai pembungkaman oleh lobi Zionis. "Kami adalah orang Irlandia yang memahami kolonialisme. Sebagai pendiri gerakan Irish Artists for Palestine, kami berkomitmen untuk terus memperjuangkan keadilan," tegas mereka. Sementara itu, Lukas Graham menyoroti ketimpangan kekuasaan dalam industri. "Uang tidak memberi hak untuk memiliki percakapan. Tidak ada saldo bank yang boleh menentukan siapa yang boleh berbicara atau penderitaan mana yang boleh kita akui," kata Lukas Forchhammer, vokalis grup asal Denmark itu.
"Saya tidak bisa menempatkan kata-kata ini ke dunia dan melanjutkan tur ini. Ini keputusan sulit, tapi saya harus berdiri di belakangnya." — Lukas Graham
Sheeran sebelumnya telah merilis pernyataan panjang yang menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dalam keputusan pemecatan Macklemore. Ia mengaku "terkejut dan sedih" dengan konflik Israel-Palestina, namun menolak menggunakan panggungnya sebagai forum politik. "Saya memilih menggunakan ketenaran dan platform saya sebagai tempat aman dan perlindungan, untuk menjaga diplomasi dan percakapan tetap terbuka," tulisnya. Ia juga menyebut bahwa venue mengancam akan membatalkan pertunjukan jika Macklemore tetap tampil.
Bagi industri musik Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin bagaimana tekanan politik global dapat merembet ke ranah hiburan. Promotor dalam negeri yang sering mendatangkan artis internasional perlu mencermati dinamika ini, terutama terkait kebebasan berekspresi di panggung. Meski konteks politik Indonesia berbeda, isu solidaritas kemanusiaan kerap menjadi sensitif dan dapat memengaruhi kelancaran acara. Ke depan, kolaborasi lintas negara mungkin akan semakin mempertimbangkan kesesuaian nilai antara artis dan penyelenggara.
Dengan hengkangnya para pendukung utama, tur Loop dipastikan akan mengalami perubahan besar, baik dari segi penampilan maupun narasi yang dibawa. Apakah ini akan memicu gerakan serupa di kalangan musisi lain? Dan bagaimana Sheeran akan menavigasi sisa tur tanpa dukungan para kolaborator yang selama ini setia? Publik menanti langkah berikutnya.



