DBS Indonesia: Nikel dan Tembaga Jadi Modal, tapi Ekosistem EV Butuh Investasi, Kapabilitas, dan Kolaborasi
Baca dalam 60 detik
- Bank DBS Indonesia menilai kekayaan nikel dan tembaga memberi Indonesia posisi strategis dalam rantai pasok kendaraan listrik, namun hilirisasi hanya efektif jika didukung ekosistem end-to-end.
- Perbankan berperan sebagai mitra pembiayaan di seluruh rantai nilai otomotif, dari hulu hingga diler, dengan fokus pada komponen yang tetap relevan di kendaraan listrik maupun mesin pembakaran.
- Keberhasilan transisi energi di sektor otomotif akan bergantung pada sinergi investasi, pengembangan kapabilitas SDM, dan konektivitas regional untuk mendorong ekspansi lintas negara.

Bank DBS Indonesia menegaskan bahwa kekayaan mineral nikel dan tembaga yang dimiliki Indonesia menjadi fondasi penting bagi pengembangan industri kendaraan listrik (EV) di dalam negeri. Namun, menurut Direktur Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Antonius Sehonamin, keunggulan sumber daya alam saja tidak cukup untuk membangun industri otomotif yang tangguh. Diperlukan ekosistem yang menyeluruh, mulai dari manufaktur canggih, produksi baterai, penyimpanan energi, hingga daur ulang.
Dalam diskusi bertajuk "Building a Resilient Automotive Ecosystem Beyond EV Amid Global Supply Chain Shift" yang digelar CNBC Indonesia bersama DBS Indonesia, Kamis (17/9/2026), Antonius memaparkan tiga pilar utama yang harus dipenuhi untuk mengembangkan ekosistem EV: investasi, kapabilitas, dan pengembangan ekosistem itu sendiri. "Industri otomotif tidak bisa dilihat sebagai segmen-segmen terpisah. Ini satu kesatuan rantai nilai yang saling terhubung," ujarnya.
Antonius menambahkan bahwa perbankan, termasuk DBS, memiliki peran strategis untuk mendukung seluruh rantai nilai tersebut. "Kami ingin menjadi mitra perbankan bagi para pelaku industri, dari sektor hulu, produsen kendaraan (OEM), hingga distributor dan diler," jelasnya. DBS juga mengandalkan konektivitas regionalnya untuk memfasilitasi transaksi lintas negara bagi pelaku industri otomotif Indonesia yang ingin berekspansi.
Senada dengan Antonius, Executive Director, Head of Large Corporates, and ESG Lead, Institutional Banking Group, Bank DBS Indonesia, Ello Hanson, menegaskan bahwa sektor otomotif menjadi salah satu fokus pembiayaan DBS, termasuk untuk EV. Menurut Ello, pihaknya menilai risiko dan peluang secara cermat. "Kami melihat potensi Indonesia yang besar, terutama pada komponen yang akan terus digunakan, seperti ban, sistem kelistrikan, AC, audio, dan rem. Komponen-komponen ini tetap relevan baik untuk kendaraan berbahan bakar fosil maupun listrik," paparnya.
Pandangan DBS ini muncul di tengah tren global yang semakin mengarah pada elektrifikasi. Indonesia, dengan cadangan nikel terbesar dunia, memiliki peluang untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok baterai dan kendaraan listrik. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal kesiapan infrastruktur, teknologi, dan sumber daya manusia. Hilirisasi nikel yang digenjot pemerintah baru menyentuh tahap pengolahan bijih menjadi bahan baku baterai; sementara produksi sel baterai dan kendaraan listrik secara terintegrasi masih memerlukan investasi besar.
Bagi investor dan pelaku industri di Indonesia, sinyal dari DBS ini memperkuat narasi bahwa sektor otomotif—khususnya EV—bukan sekadar tren jangka pendek, melainkan pergeseran struktural yang membutuhkan pendekatan holistik. Perbankan pun dituntut untuk tidak hanya menyediakan kredit, tetapi juga memahami dinamika rantai pasok global dan memberikan solusi keuangan yang fleksibel. Konektivitas regional DBS, misalnya, dapat menjadi jembatan bagi perusahaan Indonesia yang ingin menjalin kemitraan dengan pemasok atau pembeli di negara lain.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat Indonesia dapat membangun ekosistem yang benar-benar terintegrasi. Apakah investasi di sektor hulu akan diikuti oleh pengembangan kapabilitas di sektor hilir, termasuk riset dan pengembangan baterai? Tanpa itu, kekayaan nikel dan tembaga hanya akan menjadi komoditas ekspor, bukan fondasi industri otomotif yang berkelanjutan. DBS Indonesia tampaknya ingin memastikan bahwa mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi mitra strategis dalam perjalanan tersebut.


