Newcastle Dihajar Leeds: Botman Jadi Beban Gaji, Jaissle Diingatkan Targett
Baca dalam 60 detik
- Newcastle United menelan kekalahan telak di Elland Road, membuka celah keraguan pada proyek Matthias Jaissle.
- Sven Botman, bek bergaji £90 ribu per pekan, tampil rapuh dengan empat kesalahan langsung dalam empat laga.
- Manajemen Toon berisiko mengulang kesalahan Matt Targett jika tak segera mencari solusi untuk Botman.

Kekalahan Newcastle United di markas Leeds United, Selasa dini hari WIB, bukan sekadar kehilangan tiga poin. Hasil itu mengupas tuntas kerentanan skuad asuhan Matthias Jaissle, terutama di lini belakang, dan menempatkan Sven Botman sebagai pusat sorotan yang tak terhindarkan.
Bek asal Belanda itu didatangkan dari Olympique Lyonnais pada 2022 dengan banderol £35 juta. Saat itu, ia dianggap sebagai fondasi pertahanan jangka panjang. Namun, rangkaian cedera membuat performanya menurun drastis. Dalam empat pertandingan terakhir, Botman tercatat melakukan empat kesalahan langsung yang berujung peluang emas bagi lawan. Angka itu menempatkannya sebagai salah satu pemain dengan rasio kesalahan tertinggi di Premier League musim ini.
Yang memberatkan, Botman masih terikat kontrak hingga 2030 dengan gaji £90 ribu per pekan—lebih dari dua kali lipat upah Jacob Murphy. Jika performa buruk berlanjut, Newcastle berpotensi menghadapi skenario serupa dengan Matt Targett: pemain bergaji tinggi yang sulit dilepas karena cedera dan penurunan kualitas.
Analis sepak bola Raj Chohan menyoroti penurunan teknis Botman. "Bahkan kemampuan mengumpan bolanya tidak lagi sama seperti dulu. Menyedihkan," ujarnya seusai laga. Komentar itu menggarisbawahi bahwa masalah Botman bukan hanya soal fisik, tetapi juga kepercayaan diri dan ketajaman pengambilan keputusan.
Di sisi lain, Jacob Murphy juga menuai kritik. Winger 31 tahun itu kehilangan bola 14 kali dan gagal menciptakan peluang berarti. Kontraknya habis akhir musim, sehingga ia lebih mudah dilepas. Namun, Botman adalah persoalan jangka panjang yang bisa mengunci ruang gaji dan menghambat regenerasi skuad.
Fabian Schar disebut siap merebut kembali posisinya. Namun, Jaissle tidak punya kemewahan untuk sekadar menepikan Botman. Dengan kompetisi yang padat, ia butuh stabilitas di jantung pertahanan. Jika Botman terus tampil di bawah standar, bukan tidak mungkin Newcastle harus mencari bek baru pada bursa transfer mendatang—sebuah langkah yang membutuhkan biaya besar dan negosiasi rumit.
Bagi penggemar di Indonesia, kasus Botman menjadi cermin bagaimana klub Liga Inggris mengelola ekspektasi dan investasi jangka panjang. Newcastle yang dimiliki konsorsium PIF asal Arab Saudi tengah membangun fondasi menuju status elite. Kesalahan dalam mempertahankan pemain yang tidak lagi produktif bisa memperlambat proyek tersebut, mirip dengan yang dialami klub-klub besar lain yang terjebak kontrak mahal pemain cedera.
Pertanyaannya, apakah Jaissle akan memberi Botman kesempatan hingga akhir musim, atau mulai melirik opsi lain? Keputusan ini tidak hanya menentukan nasib pemain, tetapi juga arah ambisi Newcastle di bawah kendali PIF.



