De Zerbi Buka Suara, Richarlison Berbalik Arah: Opsi Pemutusan Kontrak Sepihak Kembali Menguat
Baca dalam 60 detik
- Kepindahan Richarlison ke Vasco da Gama batal pada hari terakhir bursa transfer Brasil karena aturan batas pemain pinjaman FIFA dan ketidakcocokan durasi kontrak.
- Pernyataan publik Roberto De Zerbi yang menegaskan Richarlison tidak akan bermain memicu kemarahan kubu pemain dan menghidupkan kembali rencana pemutusan kontrak sepihak.
- Langkah hukum Richarlison berpotensi membuka jalan pendaftaran ke Vasco, tetapi Tottenham Hotspur bisa menantang dan belum ada restu dari FIFA maupun otoritas Brasil.

Kepindahan Richarlison ke Vasco da Gama resmi gagal pada detik-detik terakhir bursa transfer Brasil, dan kini ketegangan antara pemain dan Tottenham Hotspur justru memanas setelah manajer Roberto De Zerbi melontarkan pernyataan tajam di depan publik. Situasi ini tidak hanya meninggalkan penyerang asal Brasil itu tanpa menit bermain di Premier League, tetapi juga membuka kembali opsi pemutusan kontrak secara sepihak yang sempat ia batalkan.
Rencana awal sebenarnya sederhana: Richarlison dipinjamkan ke Vasco hingga Desember. Namun opsi itu terganjal regulasi FIFA yang membatasi jumlah pemain yang dipinjamkan ke klub di asosiasi sepak bola negara lain. Tottenham disebut telah mencapai kuota tersebut, sehingga jalur pinjaman tertutup. Vasco lalu beralih ke skenario transfer permanen dengan tawaran kontrak tiga setengah tahun, tetapi Richarlison menolak karena ia hanya ingin bertahan di São Januário sampai akhir 2026 sebelum mempertimbangkan kembali karier di Eropa. Vasco enggan membeli tanpa jaminan jangka panjang, dan negosiasi pun kandas sebelum tenggat Jumat.
Kegagalan itu meninggalkan Richarlison dalam posisi canggung. Ia sudah meminta hengkang, namanya dicoret dari daftar 25 pemain Premier League, dan ia berlatih terpisah dari skuad utama asuhan De Zerbi. Piala Carabao sebenarnya bisa menjadi peluang bermain karena aturan registrasinya berbeda, tetapi De Zerbi menutup pintu itu sebelum laga melawan Liverpool. "Di awal musim, saya berbicara berkali-kali untuk meyakinkannya bertahan dan dia tidak mau. Saya tidak bisa setiap hari berdoa agar dia bertahan," ujar De Zerbi kepada media. "Saya sudah menawarkan perpanjangan kontrak. Jika dia bilang 'tidak, terima kasih', maka tugas saya selesai."
Menurut jurnalis Lucas Moret, pernyataan De Zerbi memicu kemarahan kubu Richarlison dan mendorong pemain itu untuk menghidupkan kembali pendekatan konfrontatif. Sebelumnya, Richarlison sempat mengirimkan pemberitahuan pemutusan kontrak secara sepihak dengan alasan yang sah setelah tersingkir dari skuad liga. Ia kemudian mundur dan memilih jalur kesepakatan bersama yang lebih tenang. Namun, sikap De Zerbi dianggap membuktikan bahwa Richarlison tidak diberi kesempatan bekerja secara penuh meski masih terikat kontrak. Moret juga mengklaim pemberitahuan awal diajukan sebelum tenggat Brasil, dan pandangan hukum dalam laporannya menyebut tanggal tersebut dapat memungkinkan Richarlison didaftarkan ke Vasco jika keputusan kemudian membebaskannya.
"Saya sudah menawarkan perpanjangan kontrak. Jika dia bilang 'tidak, terima kasih', maka tugas saya selesai." — Roberto De Zerbi
Bagi Tottenham, langkah hukum Richarlison bisa menjadi preseden buruk. Klub berpotensi menantang setiap tindakan sepihak, sementara FIFA dan otoritas Brasil belum memberikan persetujuan resmi. Vasco juga harus memutuskan apakah mereka ingin membuka kembali negosiasi setelah kekecewaan di hari terakhir bursa transfer. Jalur Richarlison ke Brasil memang masih sempit, tetapi pernyataan De Zerbi telah membuatnya kembali terlihat.
Dari kacamata Indonesia, kasus ini menjadi cermin bagaimana dinamika transfer global dapat memengaruhi klub-klub di liga domestik. Regulasi FIFA soal batas pemain pinjaman dan potensi pemutusan kontrak sepihak adalah isu yang juga relevan bagi klub-klub Liga 1 yang kerap meminjamkan pemain ke luar negeri. Jika Richarlison berhasil memaksa keluar, maka pemain lain di seluruh dunia—termasuk di Indonesia—mungkin akan melihatnya sebagai celah untuk menekan klub. Sebaliknya, jika Tottenham menang, klub-klub akan semakin berhati-hati dalam menyusun kontrak dan strategi transfer.
Yang jelas, saga ini belum berakhir. Pertanyaannya sekarang: akankah Richarlison benar-benar menempuh jalur hukum, atau justru bertahan di Tottenham hingga jendela transfer berikutnya? Dan jika ia pergi, apakah Vasco masih berminat setelah drama yang melelahkan ini?



