Krisis Bek Sayap Liverpool: Tsimikas Jadi Lovren Baru, Iraola Diuji
Baca dalam 60 detik
- Liverpool kembali menuai hasil imbang tanpa gol melawan Fulham, memperpanjang tren negatif di Anfield sepanjang 2026.
- Kelemahan di posisi bek sayap, terutama Milos Kerkez dan Kostas Tsimikas, menjadi sorotan utama di balik performa buruk tim.
- Manajemen Liverpool dinilai gagal merencanakan skuad dengan baik, meninggalkan Iraola tanpa opsi mumpuni di sektor pertahanan.

Liverpool harus puas berbagi angka tanpa gol dengan Fulham dalam laga yang berakhir tanpa gol di Anfield, Sabtu (5/9/2026). Hasil ini menjadi pukulan telak bagi ambisi The Reds yang baru mengumpulkan satu kemenangan dari lima pertandingan awal musim 2026/27 di bawah asuhan Andoni Iraola. Lebih dari sekadar kehilangan dua poin, pertandingan tersebut membuka borok pertahanan yang selama ini tersembunyi: posisi bek sayap.
Sepanjang 2026, Liverpool tercatat hanya mampu meraih empat kemenangan liga di kandang sendiri. Angka ini mencoreng reputasi Anfield yang dulunya angker. Sorotan tajam tertuju pada duet bek sayap, Milos Kerkez dan Jeremie Frimpong, yang dianggap belum layak berseragam merah. Kerkez, yang didatangkan dari Bournemouth dengan harga ยฃ40 juta, tampil di bawah standar. Pemain asal Hongaria itu kerap kehilangan posisi dan terlihat ragu dalam mengambil keputusan, terutama saat menghadapi tekanan lawan.
Di sisi kanan, Frimpong juga menuai kritik. Mantan pemain Bayer Leverkusen itu dinilai kurang memiliki kekuatan fisik dan kesadaran taktis untuk bersaing di Premier League. Alhasil, muncul usulan kontroversial untuk mendatangkan Dani Carvajal, bek veteran berusia 34 tahun yang kini berstatus bebas transfer, sebagai solusi sementara. Usulan ini mencerminkan betapa rapuhnya lini belakang Liverpool saat ini.
Keputusan manajemen untuk melepas Andy Robertson dan mengandalkan Kostas Tsimikas sebagai pelapis pun dipertanyakan. Tsimikas, yang sempat dipinjamkan ke Roma, tampil buruk saat diberi kesempatan melawan Fulham. Menurut analis The Athletic, James Pearce, pemain asal Yunani itu seharusnya ditarik keluar pada babak pertama karena performanya yang mengecewakan. Statistik menunjukkan Tsimikas kehilangan bola 17 kali dan tidak menciptakan satu pun peluang dari empat umpan silang yang ia lepaskan.
"Tsimikas tampil sangat buruk. Ia seharusnya diganti pada jeda babak," ujar James Pearce dalam analisisnya.
Performa Tsimikas mengingatkan pada sosok Dejan Lovren, bek tengah yang pernah menjadi langganan kesalahan di era awal Jurgen Klopp. Meski berbeda posisi, keduanya memiliki kemiripan dalam hal inkonsistensi dan kesalahan elementer. Lovren menghabiskan enam musim di Liverpool dengan catatan naik-turun, dan kini Tsimikas seolah mengulang pola yang sama. Kehadiran pemain seperti ini di skuad Liverpool pada 2026 dinilai sebagai cerminan penurunan kualitas pengambilan keputusan di level manajemen.
Krisis bek sayap ini bukan sekadar masalah individu, melainkan buah dari perencanaan transfer yang buruk selama beberapa jendela transfer terakhir. Liverpool terkesan reaktif dan tidak memiliki visi jangka panjang dalam membangun kedalaman skuad. Ketika Robertson menua, tidak ada penerus yang benar-benar siap. Kerkez yang diharapkan menjadi solusi justru masih membutuhkan waktu adaptasi, sementara Tsimikas tidak pernah konsisten sebagai starter.
Bagi penggemar Liverpool di Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa kejayaan sebuah klub tidak hanya ditentukan oleh bintang-bintang mahal di lini serang, tetapi juga oleh soliditas pertahanan. Tanpa perbaikan di sektor bek sayap, ambisi Liverpool untuk kembali bersaing di papan atas Premier League dan kompetisi Eropa akan sulit terwujud. Iraola dituntut segera menemukan formula yang tepat, tetapi ia juga perlu dukungan dari manajemen untuk mendatangkan pemain yang sesuai dengan filosofinya.
Ke depan, Liverpool akan menghadapi jadwal berat yang bisa memperparah krisis jika tidak segera diatasi. Apakah manajemen akan bergerak di bursa transfer musim dingin, atau justru membiarkan Iraola berjuang dengan sumber daya yang ada? Waktu akan menjawab, tetapi tekanan publik semakin besar.



