Purbaya Dicopot, Pengamat Sebut Faktor Kesehatan Jadi Pertimbangan Prabowo
Baca dalam 60 detik
- Purbaya Yudhi Sadewa resmi diberhentikan dari kursi Menteri Keuangan pada Senin (14/9/2026) dan posisinya digantikan Suahasil Nazara.
- Pengamat politik CITRA Institute, Efriza, menilai kondisi kesehatan Purbaya—yang sempat mengeluh sakit pinggang dan berat badan turun 14 kilogram—turut dipertimbangkan Istana.
- Pola reshuffle era Prabowo dinilai sebagai respons atas isu pengunduran diri pejabat, bukan sekadar evaluasi kinerja.

Presiden Prabowo Subianto resmi mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan pada Senin (14/9/2026), dan menunjuk Suahasil Nazara—sebelumnya Wakil Menteri Keuangan—sebagai penggantinya. Purbaya hanya bertahan sekitar satu tahun satu pekan sejak dilantik pada 8 September 2025 menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Pencopotan ini menandai perombakan pertama di posisi bendahara negara pada era pemerintahan Prabowo-Gibran.
Pengamat politik dari CITRA Institute, Efriza, menilai bahwa faktor kesehatan menjadi salah satu pertimbangan Istana. Ia menyoroti pengakuan Purbaya pada awal September 2026 yang mengeluhkan sakit pinggang akibat kelelahan dan penurunan berat badan hingga 14 kilogram, dari 102 kilogram menjadi 88 kilogram. Menurut Efriza, kondisi tersebut tidak bisa diabaikan dalam pengambilan keputusan strategis.
"Kalau kita lihat Pak Purbaya itu kemarin sakit, berat badannya menurun 14 kilogram, dan kemudian ia menyatakan sakit pinggang dan ada isu ia mengundurkan diri, ternyata tidak mengundurkan diri," ujar Efriza dalam program Tribunnews On Focus, Senin (14/9/2026).
Efriza juga melihat pola dalam reshuffle kabinet era Prabowo. Ia menduga perombakan ini merupakan jawaban atas isu pengunduran diri sejumlah pejabat, bukan semata evaluasi kinerja. Sebelumnya, Sri Mulyani sempat diisukan mundur sebelum akhirnya dicopot pada 8 September 2025, dan Hasan Nasbi yang meminta mundur dari Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) juga akhirnya diberhentikan pada 17 September 2025. Purbaya sendiri sempat diisukan mundur pada Juni 2026 meski membantah, namun akhirnya dicopot juga.
"Pak Prabowo memungkinkan sudah menerima kalau diskusi itu benar menerima surat pengunduran diri dan kita melihat flashback, ada Ibu Sri Mulyani, ada Hasan Nasbi, tapi Presiden punya hak prerogatif. Jadi, pengunduran diri itu tidak direspons dengan mengiyakan, tapi melakukan reshuffle," kata Efriza.
Bagi pelaku pasar dan investor di Indonesia, pergantian mendadak di kursi Menteri Keuangan berpotensi menimbulkan gejolak jangka pendek, terutama terkait arah kebijakan fiskal dan pengelolaan utang. Suahasil Nazara bukan nama baru di Kementerian Keuangan—ia pernah menjabat Wamenkeu dan memiliki pengalaman birokrasi yang mumpuni. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga stabilitas APBN di tengah tekanan global dan ekspektasi pasar yang tinggi. Kepercayaan investor akan sangat bergantung pada kesinambungan program prioritas dan komunikasi kebijakan yang jelas.
Selain itu, isu kesehatan pejabat publik menjadi sorotan tersendiri. Beban kerja menteri di kabinet Prabowo dikenal padat, dengan agenda nasional yang menuntut kehadiran fisik dan mental prima. Jika pola ini berlanjut, bukan tidak mungkin reshuffle berikutnya juga akan mempertimbangkan aspek serupa. Publik berhak menuntut transparansi mengenai alasan resmi pencopotan, agar tidak menimbulkan spekulasi liar di pasar keuangan.
Ke depan, fokus utama adalah bagaimana Suahasil Nazara mengelola ekspektasi pasar dan melanjutkan reformasi fiskal yang sempat tertunda. Apakah pergantian ini akan membawa angin segar atau justru menimbulkan ketidakpastian baru? Hanya waktu yang akan membuktikan, tetapi satu hal yang pasti: stabilitas ekonomi Indonesia sedang diuji.



