Evakuasi KM Virgo: 22 Korban Selamat Dipindahkan, 129 Masih Dicari di Laut Jawa
Baca dalam 60 detik
- Kapal RBB Lanal Banjarmasin mengevakuasi 22 orang selamat dari KRI Nala ke Pelabuhan Trisakti dalam dua sortie.
- Basarnas mencatat 114 korban ditemukan (108 selamat, 6 meninggal), sementara 129 orang masih dalam pencarian.
- Tunda evakuasi akibat gelombang tinggi di Tabunio menjadi preseden penting bagi keselamatan pelayaran dan respons bencana laut.

Sebanyak 22 korban selamat KM Virgo Transport 8 akhirnya tiba di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Selasa pagi, setelah sebelumnya tertahan di KRI Nala akibat cuaca ekstrem. Proses pemindahan menggunakan Rigid Bouyancy Boat (RBB) milik Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Banjarmasin ini menandai babak baru operasi SAR yang berlangsung sejak kapal dilaporkan hilang kontak di perairan Masalembo, Laut Jawa, Minggu dini hari.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin, I Putu Sudayana, yang juga bertindak sebagai SAR Mission Coordinator, mengungkapkan bahwa evakuasi dilakukan melalui dua sortie. Rombongan pertama membawa 16 pria dan tiba sekitar pukul 09.45 Wita, disusul sortie kedua dengan enam orang—satu perempuan dan lima laki-laki. Setibanya di darat, seluruh korban langsung menjalani pemeriksaan kesehatan awal untuk menilai dampak perjalanan laut yang melelahkan.
Penundaan pemindahan pada Senin (14/9) bukan tanpa alasan. Sudayana menjelaskan bahwa alun dan gelombang tinggi di wilayah Tabunio serta waktu transfer yang sudah malam memaksa tim mengutamakan keselamatan jiwa. "Kami mengedepankan safety," ujarnya. Baru pada Selasa pagi, ketika cuaca membaik dan gelombang di Muara Barito relatif landai, proses transfer dari KRI Nala ke RBB dapat dilaksanakan dengan risiko minimal.
Hingga berita ini diturunkan, Basarnas masih menyisir perairan Masalembo dan sekitarnya. Enam korban meninggal yang belum dievakuasi akan diangkut menggunakan armada udara, sementara dua jenazah lainnya sudah berada di darat. Operasi SAR melibatkan sejumlah unsur, termasuk KRI Nala yang menjadi titik transit sementara bagi para korban sebelum dipindahkan ke kapal yang lebih kecil.
"Korban yang mengalami luka atau membutuhkan penanganan medis akan melalui triase di rumah sakit untuk menentukan prioritas perawatan, dengan penandaan warna hijau, kuning, atau merah sesuai tingkat kegawatan," jelas Sudayana.
KM Virgo Transport 8 berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9) dan dilaporkan hilang kontak pada Minggu (13/9) sekitar pukul 02.00 Wita. Insiden ini menyoroti kembali kerentanan jalur pelayaran rakyat di perairan Indonesia, terutama saat musim cuaca ekstrem. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia sangat bergantung pada transportasi laut, namun infrastruktur keselamatan dan pemantauan cuaca di jalur padat seperti Laut Jawa masih menjadi tantangan.
Bagi pelaku usaha dan investor, peristiwa ini berpotensi memicu pengetatan regulasi keselamatan pelayaran, terutama untuk kapal penumpang berkapasitas besar. Kementerian Perhubungan mungkin akan mengevaluasi standar operasional, termasuk kewajiban pelaporan posisi real-time dan peningkatan sistem peringatan dini. Di sisi lain, industri asuransi dan logistik perlu mengantisipasi risiko yang lebih tinggi pada rute-rute rawan, yang bisa berdampak pada biaya operasional dan premi.
Pemerintah daerah dan Basarnas juga menghadapi tekanan untuk mempercepat respons di wilayah terpencil. Koordinasi lintas lembaga—dari TNI AL, Polri, hingga otoritas pelabuhan—menjadi kunci. Ke depan, pertanyaannya bukan hanya berapa korban yang bisa diselamatkan, tetapi sejauh mana Indonesia mampu membangun sistem transportasi laut yang aman dan andal, terutama di jalur-jalur sibuk yang menghubungkan pusat ekonomi seperti Surabaya dan Banjarmasin.



