Lisa BLACKPINK Minta Maaf atas Ucapan Rasial di Masa Trainee, Soroti Minimnya Edukasi di Industri K-Pop
Baca dalam 60 detik
- Lisa BLACKPINK menyampaikan permintaan maaf terbuka setelah video lamanya menggunakan kata rasial saat masih trainee muncul di dokumenter Always Lalisa.
- Ia mengaku tidak tahu karena tumbuh di Thailand yang minim edukasi soal sensitivitas ras, dan berjanji tidak akan mengulangi.
- Dokumenter Always Lalisa tayang di TIFF dan akan masuk bioskop 12 Oktober, menyoroti perjalanan karier serta komitmennya pada BLACKPINK.

Lisa BLACKPINK akhirnya angkat bicara soal kontroversi video lamanya yang menampilkan penggunaan kata rasial saat ia masih berstatus trainee di YG Entertainment. Permintaan maaf itu ia sampaikan dalam wawancara dengan Variety, beberapa hari setelah dokumenter Always Lalisa tayang perdana di Toronto International Film Festival (TIFF), Senin (14/9).
Dalam dokumenter tersebut, ada cuplikan berdurasi pendek yang direkam lebih dari satu dekade lalu. Lisa dan rekan-rekannya sesama trainee terdengar melafalkan kata yang merujuk pada ras kulit hitam dalam sebuah rap. Klip itu sendiri sempat bocor ke publik menjelang penampilan solo Lisa di Coachella 2025, memicu gelombang kritik dari penggemar internasional.
Menanggapi hal itu, Lisa tidak mencari pembenaran. Ia mengakui bahwa dirinya tumbuh di Thailand dan tidak pernah mendapat pendidikan soal sejarah rasialisme di Amerika Serikat. "Saya benar-benar harus minta maaf. Saya orang Thailand dan besar di sana. Tidak ada edukasi soal itu, jadi saat itu saya tidak tahu," ujarnya. Kini, setelah mempelajari isu tersebut, ia menegaskan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Kasus ini bukan yang pertama menimpa artis K-pop. Sejumlah idola lain pernah tersandung isu serupa, mulai dari penggunaan kata rasial hingga budaya apropriasi. Bagi Lisa, tekanan psikologis dari kebocoran video itu cukup berat. Ia mengaku sedih karena saat itu tengah fokus mempersiapkan penampilan solo di Coachella. "Saya hanya ingin fokus pada pertunjukan, tapi hal-hal terjadi dan tidak bisa dikontrol," tuturnya.
"Saya sudah belajar dan mendapat edukasi soal itu. Tidak akan saya ulangi. Ini tidak benar. Serius." — Lisa
Di sisi lain, dokumenter Always Lalisa juga menampilkan sisi rentan Lisa. Ia berbicara tentang ambisinya yang tak pernah lepas dari BLACKPINK. Meski karier solonya moncer dan ia sempat membintangi musim ketiga The White Lotus, Lisa menegaskan tidak akan meninggalkan grup yang membesarkan namanya. "Kalau saya berusia 50 tahun, saya masih ingin bersama BLACKPINK. Kami baru menyelesaikan tur tahun ini, tapi kami sering bicara soal istirahat sejenak—seperti yang saya lakukan hampir dua tahun lalu—tapi kami akan selalu bersama," ucapnya sambil tersenyum.
Keputusan Lisa membuka diri lewat dokumenter ini bukan tanpa alasan. Ia merasa sudah lebih percaya diri dan ingin membagikan kisahnya kepada penggemar yang punya mimpi besar. "Sepertinya sudah waktunya. Saya lebih percaya diri sekarang, jadi saya ingin berbagi cerita kepada penggemar yang punya mimpi seperti saya. Semoga ini bisa menginspirasi mereka," katanya.
Bagi industri hiburan Indonesia, kasus Lisa menjadi cermin penting. Edukasi soal sensitivitas ras dan budaya masih jarang diberikan secara sistematis di sekolah maupun lembaga pelatihan artis. Ketika artis Indonesia mulai menembus pasar global—baik lewat K-pop, platform digital, maupun kolaborasi internasional—pemahaman lintas budaya menjadi modal wajib, bukan pelengkap. Kesalahan kecil di masa lalu bisa menjadi bom waktu ketika rekam jejak digital semakin mudah diakses.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Lisa bisa move on dari kontroversi ini, tetapi apakah agensi dan industri hiburan secara luas akan menjadikan insiden semacam ini sebagai pemicu perbaikan kurikulum pelatihan. Sebab, di era di mana setiap unggahan lama bisa muncul kembali, literasi rasial dan budaya bukan lagi pilihan, melainkan prasyarat bagi siapa pun yang ingin bertahan di panggung global.



