Ruben Onsu Buka Suara: Staf Kelab Bantah Tuduhan Kekerasan Seksual Betrand Peto
Baca dalam 60 detik
- Ruben Onsu merilis kesaksian dua petugas kelab yang membantah adanya kekerasan seksual oleh Betrand Peto.
- Kesaksian menyebut insiden dipicu oleh cekcok antar-pengunjung, bukan tindakan asusila.
- Polisi masih menyelidiki laporan ANW, sementara publik menanti kejelasan hukum.

Ruben Onsu akhirnya angkat bicara menanggapi laporan dugaan kekerasan seksual yang menyeret nama putranya, Betrand Peto. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, ia menyebarkan rekaman keterangan dari sejumlah petugas kelab yang bertugas pada malam kejadian. Langkah ini diambil untuk memberikan sudut pandang lain di tengah derasnya pemberitaan yang menimpa keluarganya.
Dalam video tersebut, dua orang staf—Jakaria dan Revi—menuturkan kronologi yang mereka saksikan langsung. Keduanya kompak menyatakan tidak melihat adanya tindakan kekerasan seksual seperti yang dituduhkan. Mereka justru menggambarkan situasi yang memanas akibat perselisihan antar-pengunjung, yang berujung pada keributan fisik.
Jakaria, yang bertugas sebagai server, mengungkapkan bahwa malam itu tiga perempuan masuk ke ruangan bersama Betrand dan kawan-kawan. Suasana awalnya cair, namun berubah ketika salah satu perempuan menangis. Ia sempat menanyakan kondisi tersebut kepada Betrand, yang menurutnya menenangkan perempuan itu. "Tidak ada apa-apa, biar saya yang menenangkan," ujar Jakaria menirukan respons Betrand.
Namun, seorang teman dari perempuan yang menangis—disebut mengalami luka robek di kuping—mendatangi ruangan dengan emosi tinggi. Ia tidak terima melihat temannya menangis dan memicu keributan. Jakaria bersama manajer kelab berusaha meredam, tetapi situasi memuncak menjadi perkelahian antar-perempuan. "Saya pisahkan, tapi dia tetap tidak terima. Akhirnya saya panggil manajer," jelasnya.
Menurut Jakaria, perempuan yang terluka itu sempat mengancam akan memviralkan kejadian tersebut. Manajer kelab kemudian memutuskan untuk mengeluarkan mereka dan membawa yang terluka ke rumah sakit. Terkait tuduhan pelecehan seksual, Jakaria menegaskan tidak ada kejadian seperti itu. "Mereka dari awal memang ingin bersenang-senang. Mungkin karena mabuk, merasa dilecehkan, padahal tidak ada," tegasnya.
Senada dengan Jakaria, Revi yang juga bertugas malam itu menceritakan bahwa para pengunjung tampak menikmati suasana—berjoget, bernyanyi, dan bersorak bersama. Saat ia kembali ke ruangan setelah menangani ruangan lain, ia melihat seorang perempuan menangis. Tak lama kemudian, teman perempuan itu datang dan memicu cekcok. "Kekerasan oleh Kak BP tidak ada. Malah saat perempuan itu menangis, dia yang menghampiri dan bertanya, 'Kakak kenapa menangis?'" ujar Revi.
Kasus ini mencuat setelah ANW melaporkan Betrand Peto ke Polda dengan tuduhan kekerasan seksual. Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian mengenai perkembangan penyelidikan. Publik pun terbelah antara mempercayai laporan korban atau kesaksian yang dibeberkan pihak Ruben Onsu.
"Berita yang beredar terlalu melebih-lebihkan. Tidak ada hal seperti itu. Saya yang jaga ingin menyelesaikan baik-baik, tapi pihak mereka tidak mau," kata Jakaria.
Bagi publik Indonesia, kasus ini bukan sekadar drama selebritas. Ia menyentuh isu sensitif tentang kekerasan seksual, yang sering kali sulit dibuktikan karena minimnya saksi dan bukti. Di sisi lain, kesaksian para staf kelab bisa menjadi titik terang, namun tetap harus diuji dalam proses hukum. Masyarakat diingatkan untuk tidak menghakimi sebelum ada putusan pengadilan.
Yang tak kalah penting, kasus ini juga menyoroti bagaimana media sosial dapat menjadi ruang untuk membangun narasi tandingan. Ruben Onsu memanfaatkan platformnya untuk menyebarkan versi yang menguntungkan putranya. Namun, publik perlu kritis: apakah kesaksian ini cukup untuk membebaskan Betrand dari tuduhan, atau justru menjadi bagian dari upaya pembentukan opini?
Ke depan, penyidik dituntut bekerja profesional dan transparan. Jika tuduhan tidak terbukti, nama Betrand harus dipulihkan. Sebaliknya, jika ada bukti kuat, proses hukum harus berjalan tanpa pandang bulu. Publik menanti apakah kasus ini akan berakhir di meja hijau atau menemukan titik damai di luar pengadilan.



