Travis Barker Akui Tak Pernah Menonton The Kardashians: Saya Tak Sadar Sedang Difilmkan
Baca dalam 60 detik
- Travis Barker, suami Kourtney Kardashian, mengaku tidak pernah menonton reality show The Kardashians meski kerap tampil di dalamnya.
- Dalam podcast Popcast, musisi Blink-182 itu memilih mengabaikan kamera dan tidak pernah menyetujui episode yang ditayangkan.
- Di balik itu, ia tengah mempromosikan dokumenter 'Louder Than Fear' yang mengisahkan perjuangannya mengatasi trauma terbang pasca kecelakaan pesawat 2008.

Travis Barker, drummer Blink-182 yang juga suami dari Kourtney Kardashian, mengaku tidak pernah menonton The Kardashians, reality show yang menampilkan kehidupan keluarganya. Dalam wawancara terbaru di podcast Popcast, pria berusia 50 tahun itu menyebut dirinya sering tidak menyadari sedang direkam kamera, dan memilih untuk tidak terlibat dalam proses kreatif acara tersebut.
"Saya rasa cara terbaik untuk menghadapi hal semacam ini adalah dengan tidak mengakui bahwa saya sedang difilmkan atau ada yang berbeda," ujarnya. Ia bahkan tidak pernah menyetujui episode yang ditayangkan, sebuah sikap yang jarang dimiliki oleh anggota keluarga Kardashian-Jenner yang dikenal sangat mengontrol citra publik mereka.
Menariknya, Barker justru merasa nyaman dengan perannya yang tidak menjadi "karakter utama" dalam acara tersebut. Hal ini kontras dengan istrinya, Kourtney, yang justru menjadi pusat perhatian dalam beberapa musim terakhir. Sikap Barker ini menunjukkan bagaimana ia menjaga batas antara kehidupan pribadi dan tuntutan industri hiburan, sebuah dilema yang juga dialami banyak figur publik di Indonesia.
Di tengah kesibukannya sebagai musisi dan bintang reality show, Barker juga tengah mempromosikan dokumenter terbarunya, Travis Barker: Louder Than Fear, yang disutradarai oleh Justin Krook dan Michael Dwyer. Film ini mengupas perjalanan hidup dan karier musiknya, termasuk trauma mendalam yang ia alami setelah kecelakaan pesawat pada 2008. Dalam wawancara dengan People, Barker mengungkapkan bahwa proses pembuatan film tersebut sempat terhenti karena ia tidak bisa menemukan akhir yang memuaskan.
"Pada satu titik, film ini hampir tidak dirilis. Tidak ada ending, dan ending impian adalah saya berjalan mendekati pesawat, yang sangat saya benci. Saya bahkan berkata pada manajer saya, 'Dokumenter ini akan rilis saat saya mati. Saya benci ending-nya,'" kenangnya. Ketakutan itu, menurut Barker, adalah bentuk kekuatan yang dimiliki rasa takut atas dirinya. Ia sadar bahwa selama ia menolak terbang, rasa takut itu akan terus mengendalikan hidupnya.
Butuh waktu bertahun-tahun bagi Barker untuk pulih dan akhirnya berani terbang lagi. Titik baliknya datang ketika ia menjalin hubungan dengan Kourtney, yang ia sebut sebagai salah satu sahabat terbaiknya. "Saya tahu di lubuk hati, ending dokumenter ini adalah saya naik pesawat lagi dan menghadapi ketakutan saya. Saya tidak pernah membayangkan itu mungkin terjadi. Tapi bertahun-tahun kemudian, saya jatuh cinta pada salah satu sahabat terbaik saya dan hal-hal luar biasa terjadi. Siapa yang menyangka?" ujarnya.
Kisah Barker ini relevan bagi banyak orang Indonesia yang bergumul dengan kecemasan dan trauma. Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental di Tanah Air, perjalanan Barker menunjukkan bahwa pemulihan adalah proses yang panjang dan sering kali membutuhkan dukungan orang terdekat. Fenomena ini juga mengingatkan kita pada pentingnya terapi dan konseling, yang kini semakin mudah diakses melalui layanan kesehatan mental daring.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: apakah keterbukaan Barker akan menginspirasi lebih banyak figur publik untuk berbicara tentang perjuangan psikologis mereka? Atau justru sebaliknya, ia akan semakin menjaga privasi di tengah sorotan kamera? Yang jelas, langkah Barker untuk berdamai dengan masa lalunya menjadi pengingat bahwa ketenaran tidak selalu sejalan dengan kebahagiaan pribadi.



