Aktris Samantha Morton: Usia 49 Jadi Penghalang Karier, Meski Sudah Main di Film Nolan
Baca dalam 60 detik
- Samantha Morton mengaku menganggur setahun setelah syuting The Odyssey, meski memiliki agen dan manajer yang mumpuni.
- Aktris 49 tahun itu menilai industri film berubah drastis dan usia menjadi faktor diskriminatif yang sulit dihindari.
- Meski demikian, ia optimistis tetap berkarya hingga usia 80-an dan merasa terpilih seperti atlet Olimpiade saat dipercaya Nolan.

Samantha Morton, aktris yang memerankan Circe dalam film epik garapan Christopher Nolan, The Odyssey, mengungkapkan kenyataan pahit industri hiburan: ia telah menganggur selama setahun terakhir. Padahal, namanya sempat melambung berkat nominasi Oscar dan kerja sama dengan sutradara papan atas seperti Steven Spielberg. Namun, di usia 49 tahun, tawaran peran seolah menghilang, meski ia didukung agen dan manajer yang kompeten.
Dalam wawancara terbaru dengan podcast Happy, Sad, Confused, Morton blak-blakan menyalahkan faktor usia sebagai biang keladi. "Saya sudah setahun tidak bekerja sejak syuting The Odyssey. Saya punya agen dan manajer yang bagus, tapi pada akhirnya usia saya 49 tahun," ujarnya. Ia menambahkan bahwa dinamika politik industri perfilman telah berubah secara masif, membuat aktor seusianya kian terpinggirkan.
Fenomena ini bukan hanya dialami Morton. Banyak aktor dan aktris berusia di atas 40 tahun, terutama perempuan, kerap kesulitan mendapatkan peran yang menantang. Mereka sering tersingkir oleh aktor muda yang dianggap lebih 'bankable' oleh studio. Morton, yang pernah dinominasikan Oscar lewat film In America (2003) dan Sweet and Lowdown (1999), mengaku tetap percaya diri dengan kemampuannya. Ia bahkan yakin akan terus berkarya hingga usia 80-an, meski harus menghadapi pasang surut karier.
Di tengah kekeringan tawaran, kabar baik datang dari Christopher Nolan. Morton mengaku menangis saat timnya memberi kabar bahwa Nolan ingin bertemu. "Saya benar-benar menangis. Ini seperti terpilih untuk Olimpiade. Chris sedang memilih skuadnya, dan setelah bertahun-tahun bekerja, akhirnya saya terpilih," katanya kepada The Sunday Times. Ia merasa kerja sama ini menjadi validasi atas dedikasi dan kualitas aktingnya selama ini.
Bagi Morton, kesempatan bekerja dengan Nolan adalah impian yang akhirnya terwujud. Sejak lama ia mengincar peran dalam film The Prestige (2006), namun tak pernah mendapat panggilan audisi. Kini, di usianya yang matang, ia merasa kemampuan aktingnya justru berada di puncak. "Sekarang keterampilan dan kemampuan saya sudah matang. Saya merasa menjadi yang terbaik yang pernah ada," tegasnya. Ia juga menyinggung gaya hidupnya yang jauh dari gemerlap Hollywood, memilih tinggal di Hastings dan fokus membesarkan tiga anaknya.
Kisah Morton menyoroti isu ageism yang masih mengakar di industri hiburan global. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi, di mana aktor dan aktris di atas usia 40 tahun kerap kesulitan mendapatkan peran utama, terutama di industri film dan sinetron yang didominasi wajah muda. Padahal, pengalaman dan kedalaman akting justru menjadi nilai tambah yang tak ternilai. Pertanyaannya, mampukah industri perfilman Indonesia belajar dari kasus ini dan mulai memberi ruang lebih bagi talenta senior? Atau justru akan terus mengulang pola yang sama, mengabaikan potensi besar yang dimiliki para aktor dan aktris mumpuni di usia matang?



