Monica Bellucci: Peran Kecil Bukan Soal Ukuran, tapi Kebebasan Berekspresi
Baca dalam 60 detik
- Aktris 61 tahun itu menegaskan bahwa memilih peran baginya adalah soal insting dan elemen kejutan, bukan besar kecilnya porsi tampil.
- Ia menilai industri film mulai memberi ruang lebih bagi aktris senior, sesuatu yang nyaris mustahil beberapa dekade lalu.
- Melalui film terbarunya 'Ketticè', Bellucci menantang stereotip perempuan dengan memerankan sosok yang kompleks dan jauh dari citra glamor.

Monica Bellucci kembali membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk tetap relevan di industri film. Dalam wawancara terbarunya dengan Variety, aktris berusia 61 tahun itu mengungkapkan bahwa ia memilih peran berdasarkan insting, bukan berdasarkan besarnya porsi tampil. Ia bahkan dengan senang hati menerima peran kecil asalkan menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda.
Bagi Bellucci, elemen kejutan adalah daya tarik utama dalam berkarya. Ia mengaku masih merasakan kegembiraan dan gairah yang sama seperti saat memulai karier, bahkan setelah puluhan tahun berkecimpung di dunia akting. "Yang saya sukai dari pekerjaan ini adalah elemen kejutan. Saya suka ketika sutradara datang dengan ide yang belum pernah saya pikirkan, meskipun saya sudah lama berkarier," ujarnya.
Pengalaman bermain dalam satu adegan di serial 'Twin Peaks' arahan David Lynch menjadi bukti bahwa kuantitas bukan segalanya. Menurut Bellucci, yang terpenting adalah kebebasan untuk mengeksplorasi karakter. "Terkadang, tidak masalah jika perannya kecil. Saya hanya suka merasa bebas," tambahnya.
Di tengah industri yang kerap mengagungkan kemudaan, Bellucci merasa beruntung masih bisa bekerja di usia yang tidak lagi muda. Ia percaya bahwa aktor dan aktris senior membawa kedalaman yang tidak bisa diberikan oleh versi muda mereka. "Tubuh kita berubah, tentu saja, tapi kita bisa mengekspresikan aspek kehidupan lain yang sebelumnya tidak bisa. Saya tidak akan pernah bisa memerankan 'The Birthday Party' saat berusia 30 atau 40 tahun. Saya butuh lebih banyak pengalaman untuk memerankan emosi seperti itu," jelasnya.
Bellucci juga menyoroti perubahan positif dalam industri film, di mana aktris dewasa kini memiliki lebih banyak kesempatan untuk tetap berkarya. "Saat ini, kami para aktris sangat beruntung bisa terus bekerja bahkan sebagai wanita dewasa. Di masa lalu, mustahil memiliki karier setelah usia 40. Perubahannya memang lambat, tapi sedang terjadi," katanya.
Meski begitu, Bellucci menegaskan bahwa kehidupan pribadinya tetap lebih penting daripada karier. "Saya mencintai apa yang saya lakukan dan sangat bersyukur masih punya kesempatan melakukan hal-hal menarik. Tapi hidup lebih penting," ujarnya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap industri hiburan, ada keseimbangan yang harus dijaga.
Dalam film terbarunya, 'Ketticè', Bellucci mengambil peran yang sangat berbeda dari sebelumnya. Ia memerankan seorang ibu yang terjebak dalam frustrasi dan kemarahan di balik kesempurnaan sosialita kelas atas yang mulai membusuk. "Saya tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Di lokasi syuting, saya mengenakan piyama, memegang pisau, dan memakai sandal. Wanita ini telah meninggalkan feminitasnya," ungkap Bellucci.
Karakter tersebut digambarkan sebagai sosok yang tidak bahagia, pahit, dan penuh amarah tanpa saluran. "Dia mencoba mengimbangi frustrasinya dengan makan kue kecil dan berteriak terus-menerus. Terkadang situasinya menjadi hampir lucu. Ada kesalahpahaman antargenerasi yang nyata di antara mereka," jelasnya. Peran ini menjadi tantangan tersendiri bagi Bellucci, yang selama ini identik dengan peran-peran glamor.
Bagi penikmat film Indonesia, fenomena Bellucci bisa menjadi cermin pergeseran industri perfilman global yang mulai menghargai kompleksitas karakter perempuan dewasa. Di tengah maraknya film yang menonjolkan aktris muda, kehadiran Bellucci membuktikan bahwa pasar tetap membutuhkan narasi yang lebih dalam dan beragam. Pertanyaannya, akankah industri film Indonesia juga memberikan ruang serupa bagi aktris seniornya?



