Golkar dan PKS Jalin Poros Baru: Koalisi Prabowo-Gibran Makin Solid, Sinyal Revisi UU Pemilu Menguat
Baca dalam 60 detik
- Golkar dan PKS resmi memperkuat kerja sama politik untuk menopang stabilitas pemerintahan Prabowo-Gibran.
- Kedua partai menyepakati pembahasan lanjutan soal revisi UU Pemilu, UMKM, energi, hingga dukungan kemerdekaan Palestina.
- Sekjen kedua partai ditugaskan merumuskan format kerja sama, membuka jalan koordinasi legislatif yang lebih rapat.

Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyatakan komitmen untuk memperkuat koalisi pendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Kesepakatan itu mengemuka dalam pertemuan pimpinan kedua partai di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (14/9), yang menjadi sinyal bahwa poros politik pendukung pemerintah semakin solid menjelang agenda legislasi besar.
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menilai PKS memiliki posisi strategis dalam koalisi. Menurutnya, Presiden Prabowo memberikan apresiasi tinggi terhadap eksistensi partai berbasis massa Islam tersebut. "PKS memiliki positioning yang bagus dalam koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran dan sejauh yang saya tahu, Presiden Prabowo sangat menghargai eksistensi PKS dalam koalisi," ujar Bahlil dalam siaran pers yang diterima Selasa.
Dari sisi PKS, Presiden partai Al Muzzammil Yusuf menegaskan bahwa keputusan bergabung dalam koalisi bukan sekadar hitung-hitungan kekuasaan, melainkan didasari kesamaan visi. Ia menyebut Presiden Prabowo akomodatif terhadap aspirasi umat dan tidak pernah meminggirkan kepentingan kelompok mana pun. "Kesuksesan Presiden Prabowo juga menjadi tanggung jawab seluruh partai pendukung koalisi," kata Al Muzzammil.
Pertemuan tersebut tidak berhenti pada pernyataan dukungan. Kedua partai membahas sejumlah isu strategis yang berpotensi menjadi agenda bersama di parlemen, termasuk penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kebijakan sektor energi, serta dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Namun, sorotan utama tertuju pada rencana pembahasan revisi Undang-Undang Pemilu yang disebut-sebut akan menjadi salah satu prioritas legislasi.
Bahlil menegaskan bahwa revisi UU Pemilu harus tetap menjamin representasi suara rakyat tanpa mengorbankan kualitas anggota legislatif. "Kita ingin suatu sistem pemilu yang tetap mencerminkan suara rakyat, tetapi juga memungkinkan hadirnya anggota DPR yang berkualitas," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa pembahasan revisi akan menjadi medan negosiasi yang kompleks, terutama terkait ambang batas parlemen, sistem proporsional terbuka, dan mekanisme konversi suara.
Bagi pelaku pasar dan investor, arah koalisi ini memberikan sinyal stabilitas politik yang positif. Pemerintahan yang didukung mayoritas kursi di DPR cenderung lebih mudah mendorong agenda reformasi struktural, termasuk di sektor energi dan pengembangan UMKM. Namun, revisi UU Pemilu juga membawa ketidakpastian jangka menengah karena dapat mengubah peta kompetisi elektoral dan strategi partai politik dalam menghadapi pemilu berikutnya.
Pengamat politik menilai langkah Golkar dan PKS sebagai upaya memperkuat kohesi koalisi menjelang tahun politik. "Pertemuan semacam ini penting agar kita bisa berkolaborasi untuk saling menghadirkan manfaat, apalagi kita sebagai partai koalisi yang menginginkan kesuksesan pemerintahan," kata Bahlil. Kolaborasi ini juga dipandang sebagai upaya meredam potensi gesekan antarpartai pendukung pemerintah yang kerap muncul dalam pembahasan kebijakan teknis.
Sebagai tindak lanjut, Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji dan Sekretaris Jenderal PKS Muhammad Kholid ditugaskan untuk merumuskan format kerja sama yang lebih konkret. Keduanya diharapkan menyusun mekanisme koordinasi, mulai dari penyelarasan sikap di parlemen hingga kerja sama di tingkat daerah. Hasil pembahasan ini akan menjadi indikator seberapa dalam integrasi politik kedua partai dalam koalisi Prabowo-Gibran.
Dengan komposisi koalisi yang semakin gemuk, pertanyaan berikutnya adalah sejauh mana soliditas ini mampu bertahan ketika kepentingan elektoral jangka panjang mulai berbenturan. Revisi UU Pemilu akan menjadi ujian pertama: apakah Golkar dan PKS benar-benar sejalan dalam merumuskan aturan main pemilu, atau justru menjadi titik gesekan yang menguji kekuatan poros pendukung pemerintah?



