Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda, Polisi Tangerang Perluas Patroli Laut
Baca dalam 60 detik
- Satuan Polairud Polresta Tangerang dikerahkan menyisir perairan Pulau Cangkir hingga batas laut Serang untuk mencari lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput Gunung Anak Krakatau.
- Hingga patroli terakhir, tidak ada petunjuk keberadaan korban di wilayah hukum Tangerang; operasi SAR di perairan Pandeglang tetap menjadi poros pencarian.
- Cuaca dan gelombang di sekitar Selat Sunda menjadi faktor krusial yang terus dipantau, seiring aktivitas vulkanik Anak Krakatau yang belum surut.

Lima jurnalis yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau masih belum ditemukan. Kepolisian Resor Kota Tangerang melalui Satuan Polisi Air dan Udara (Polairud) memperluas penyisiran hingga perairan perbatasan Tangerang–Serang, dari kawasan Pulau Cangkir sampai batas laut Kabupaten Serang. Langkah ini diambil meski lokasi kejadian berada di wilayah hukum Pandeglang, sebagai bentuk kesiapsiagaan dan kepedulian terhadap keselamatan jiwa.
Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspadalah Amirullah menegaskan, patroli dilakukan untuk memastikan kondisi perairan di wilayah hukumnya tetap aman dan kondusif. "Kami tetap melakukan pemantauan di wilayah perairan kami. Sampai dengan patroli dilakukan, situasi perairan terpantau aman," ujarnya di Tangerang, Senin. Namun, ia mengakui, hasil penyisiran belum menemukan tanda-tanda yang mengarah pada keberadaan kelima jurnalis tersebut.
Meski tidak menemukan petunjuk baru, kepolisian menyatakan komitmennya untuk terus memantau perkembangan situasi. Menurut Indra, pemantauan preventif akan dilanjutkan guna mengantisipasi kemungkinan terburuk. Ia juga mengingatkan masyarakat yang beraktivitas di laut agar senantiasa memperhatikan kondisi cuaca, gelombang, serta mengikuti arahan otoritas setempat.
"Kami mengimbau masyarakat yang melakukan aktivitas di laut agar tetap memperhatikan kondisi cuaca dan gelombang serta mengikuti informasi dan arahan dari pihak berwenang," kata Indra.
Hilangnya lima jurnalis ini menyita perhatian publik, terutama karena mereka tengah menjalankan tugas jurnalistik meliput salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Insiden ini menggarisbawahi risiko yang dihadapi awak media saat meliput bencana alam, sekaligus mempertanyakan standar keselamatan dan protokol peliputan di kawasan berbahaya. Sebelumnya, Polda Banten memastikan temuan tim SAR bukan milik kelima jurnalis, dan operasi pencarian telah diperpanjang.
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya investor dan pelaku bisnis di sektor pariwisata serta transportasi laut, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kondisi perairan Selat Sunda sangat dinamis. Aktivitas vulkanik Anak Krakatau dapat memengaruhi rute pelayaran, jadwal penyeberangan, dan kenyamanan wisata bahari. Otoritas pelabuhan dan operator kapal perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada musim gelombang tinggi. Selain itu, kejadian ini menuntut evaluasi menyeluruh terhadap prosedur keselamatan jurnalis yang bertugas di zona rawan bencana, termasuk penyediaan peralatan komunikasi darurat dan asuransi jiwa.
Ke depan, keberhasilan pencarian sangat bergantung pada koordinasi lintas institusi: Basarnas, TNI AL, Polairud, dan pemerintah daerah. Peran teknologi pemantauan laut, seperti radar dan citra satelit, bisa dioptimalkan untuk mempersempit area pencarian. Jika cuaca memburuk, operasi SAR berisiko tertunda. Publik pun menanti apakah insiden ini akan mendorong lahirnya regulasi lebih ketat tentang peliputan di kawasan vulkanik, atau justru menjadi preseden buruk bagi kebebasan pers. Pertanyaan besarnya: sejauh mana negara menjamin keselamatan wartawan yang mengemban tugas memberi informasi kepada publik?



