De Zerbi Dihantam Media Italia, Tekanan di Tottenham Memuncak Jelang Laga Krusial
Baca dalam 60 detik
- Tottenham belum mencetak gol di Premier League musim ini setelah empat pertandingan, memicu spekulasi masa depan Roberto De Zerbi.
- Media Italia, Il Messaggero, merespons sindiran De Zerbi dengan menyebut posisinya di London Utara dalam 'masalah serius'.
- Laga Carabao Cup melawan Liverpool di Anfield menjadi ujian penentu yang bisa mempercepat atau meredakan tekanan terhadap De Zerbi.

Roberto De Zerbi menghadapi pekan terberat sejak menangani Tottenham Hotspur. Klub London Utara itu masih belum mencetak satu gol pun di Premier League musim ini, dan hasil imbang 0-0 melawan Everton akhir pekan lalu memperpanjang rekor tanpa kemenangan menjadi empat pertandingan. Tekanan terhadap manajer asal Italia itu kini tidak hanya datang dari dalam klub, tetapi juga dari media di negara asalnya.
Krisis gol Tottenham menjadi sorotan utama. Dari 92 klub di empat divisi teratas sepak bola Inggris, hanya Spurs dan Coventry City yang belum mencetak gol di liga masing-masing musim ini. Padahal, manajemen telah menggelontorkan dana besar untuk mendatangkan pemain di lini tengah dan serang. Namun, para rekrutan mahal itu belum mampu menemukan ketajaman, dan paceklik gol ini mulai mendefinisikan awal kepemimpinan De Zerbi.
Dalam konferensi pers usai laga melawan Everton, De Zerbi mengakui adanya hambatan mental. "Blok mental, karena empat pertandingan, tanpa kemenangan, tanpa gol," ujarnya. Ia menambahkan bahwa para pemain juga merasakan tekanan karena mereka manusia biasa. De Zerbi menegaskan timnya memiliki kualitas untuk mencetak gol, terutama melalui umpan silang dari bek sayap, dan menyebut Andy Robertson tampil baik meski tidak mencetak gol. Namun, pernyataannya yang menyindir media Italia justru memicu reaksi keras.
De Zerbi menyatakan bahwa jika ia melatih di Italia, dua clean sheet dalam dua pertandingan akan membuatnya dianggap sebagai pelatih terbaik. Ia menantang media untuk menulis tentang clean sheet atau tidaknya gol. Pernyataan ini memicu kemarahan di Italia. Il Messaggero, salah satu surat kabar terkemuka di sana, membalas dengan menyebut bahwa De Zerbi tidak perlu khawatir lama karena posisinya di London Utara kini dalam "masalah serius". Media tersebut mengisyaratkan bahwa kepercayaan Spurs kepada De Zerbi mungkin tidak akan bertahan hingga kebangkitan performa terjadi.
Pekan ini menjadi penentu bagi De Zerbi. Tottenham akan bertandang ke Anfield untuk menghadapi Liverpool di Carabao Cup. Liverpool sendiri sedang tidak dalam performa terbaik, setelah ditahan imbang 0-0 oleh Fulham di kandang. Namun, Spurs memiliki rekor buruk di Anfield: terakhir kali menang di sana pada Mei 2011, ketika Rafael van der Vaart dan Luka Modric mencetak gol dalam kemenangan 2-0 di bawah asuhan Harry Redknapp.
Laga ini bisa menjadi peluang bagi De Zerbi untuk merotasi pemain, memberikan kesempatan kepada mereka yang kurang percaya diri, dan menghasilkan performa yang bisa meredakan tekanan. Namun, jika hasilnya buruk, spekulasi tentang masa depannya akan semakin kencang. Di Indonesia, para penggemar Premier League dan Tottenham Hotspur tentu mengikuti perkembangan ini dengan saksama. Banyak dari mereka yang begadang menonton laga Spurs, dan krisis gol ini menjadi bahan perbincangan di media sosial. Selain itu, dinamika kepelatihan di klub besar Eropa sering menjadi acuan bagi pelatih lokal dalam mengelola tekanan dan ekspektasi.
"Di Italia, saya seharusnya menjadi pelatih terbaik, bukan? Dua pertandingan, dua clean sheet. Apa yang akan ditulis La Gazzetta dello Sport? Dua clean sheet. Apa yang akan Anda tulis besok - clean sheet atau tanpa gol? Katakan apa yang sebenarnya ingin Anda tulis." - Roberto De Zerbi
Pernyataan De Zerbi ini menunjukkan betapa ia berusaha membela diri di tengah kritik. Namun, media Italia tidak menerima sindiran tersebut. Il Messaggero menilai bahwa De Zerbi sebaiknya tidak terlalu banyak berbicara dan fokus pada hasil. Mereka menyoroti bahwa Tottenham telah mengeluarkan banyak uang untuk pemain, tetapi belum menunjukkan hasil. Ini menambah tekanan pada De Zerbi yang sebelumnya sukses bersama Brighton & Hove Albion.
Ke depan, masa depan De Zerbi di Tottenham akan sangat bergantung pada hasil dalam beberapa pertandingan mendatang. Jika Spurs gagal meraih kemenangan melawan Liverpool, tekanan akan semakin besar. Manajemen klub mungkin mulai mempertimbangkan opsi lain. Sementara itu, para penggemar berharap De Zerbi bisa segera menemukan formula untuk mengatasi krisis gol. Pertanyaannya, apakah De Zerbi mampu bertahan dan membalikkan keadaan, atau akankah ia menjadi korban berikutnya dari ketidakstabilan kursi pelatih di Premier League?



