Derbi Manchester: Mbeumo, Dalot, dan Dorgu Jadi Biang Kerok Kekalahan United
Baca dalam 60 detik
- Manchester United takluk 0-1 dari Manchester City meski bermain dengan keunggulan jumlah pemain sejak menit ke-23.
- Bryan Mbeumo, Diogo Dalot, dan Patrick Dorgu tampil di bawah standar, dengan Mbeumo kehilangan penguasaan bola 17 kali.
- Kekalahan ini menekan posisi Michael Carrick dan mempertanyakan strategi rekrutmen klub di bursa transfer mendatang.

Manchester United menelan kekalahan memalukan 0-1 dari rival sekota Manchester City dalam laga derbi yang berlangsung di Old Trafford, Minggu (5/4/2026). Padahal, Setan Merah bermain dengan keunggulan jumlah pemain sejak menit ke-23 setelah Phil Foden diganjar kartu merah karena menendang Bruno Fernandes. Gol tunggal Erling Haaland di babak kedua memastikan tiga poin bagi City, sekaligus mempertegas krisis performa di kubu tuan rumah.
Keputusan manajer Michael Carrick menurunkan Diogo Dalot dan Patrick Dorgu di sektor bek sayap menjadi sorotan tajam. Keduanya gagal mengantisipasi serangan balik cepat City. Dalot hanya memenangkan 43% duel darat dan tiga kali melakukan pelanggaran, sementara Dorgu juga melakukan tiga pelanggaran dan dilewati pemain lawan dua kali. Kombinasi ini membuat lini pertahanan United rapuh, terutama saat menghadapi kecepatan Antoine Semenyo dan Iliman Ndiaye.
Di lini serang, Bryan Mbeumo tampil paling mengecewakan. Penyerang asal Kamerun itu tercatat sebagai pemain United yang paling banyak kehilangan bola, yakni 17 kali. Ia juga gagal melepaskan satu pun umpan sukses ke area berbahaya dan kalah dalam 75% duel udara maupun darat. Meski mencatat tembakan terbanyak bersama pemain lain, hanya 33% yang mengarah ke gawang, sehingga kiper Gianluigi Donnarumma nyaris tidak bekerja keras.
Kekalahan ini bukan sekadar insiden tunggal. Sejak awal musim 2026/27, United telah beberapa kali kesulitan menembus pertahanan lawan, terutama ketika mengandalkan serangan dari sayap. Mbeumo, yang didatangkan dengan harga mahal, baru mencetak satu gol dalam enam penampilan terakhir. Sementara Dalot dan Dorgu kerap menjadi titik lemah dalam skema pertahanan Carrick yang mengandalkan overlap penuh dari bek sayap.
"Kami kehilangan fokus setelah gol mereka. Seharusnya dengan keunggulan pemain, kami bisa mengontrol permainan. Ini tanggung jawab saya," ujar Carrick dalam konferensi pers usai laga, seperti dikutip dari Sky Sports.
Dari kacamata taktik, Carrick dinilai terlalu memaksakan formasi 4-2-3-1 yang tidak sesuai dengan karakter pemain. Bruno Fernandes dan Matheus Cunha juga tampil di bawah performa, sehingga kreativitas di lini tengah macet. Alih-alih menambah daya gedor, United justru terlihat kebingungan membongkar pertahanan rapat City yang dipimpin Josko Gvardiol.
Bagi penggemar di Indonesia, kekalahan ini menjadi pengingat bahwa klub-klub besar Premier League tidak lagi bisa mengandalkan nama besar semata. Liga Inggris musim ini menunjukkan bahwa kedalaman skuad dan adaptasi taktik menjadi kunci. United, dengan segala sumber dayanya, masih tertinggal dalam hal efisiensi rekrutmen dan pengembangan pemain muda. Sementara City, meski kehilangan satu pemain, tetap mampu menunjukkan kelasnya sebagai juara bertahan.
Ke depan, Carrick dihadapkan pada tekanan besar untuk segera melakukan perombakan. Laga melawan Brighton akhir pekan depan bisa menjadi penentu apakah manajemen akan tetap mendukungnya atau mulai mencari pengganti. Jika Mbeumo, Dalot, dan Dorgu kembali diturunkan tanpa perbaikan signifikan, bukan tidak mungkin Old Trafford akan kembali bergemuruh dengan protes suporter. Akankah Carrick berani mengambil keputusan tegas, atau justru terjebak dalam zona nyaman yang membahayakan posisinya?



