Freiburg Puncaki Bundesliga dengan Start Sempurna: Ancaman Baru bagi Hegemoni Bayern?
Baca dalam 60 detik
- Freiburg mengalahkan Borussia Mönchengladbach 5-0 dan kini memimpin klasemen Bundesliga berkat selisih gol atas Borussia Dortmund.
- Rekor enam kemenangan beruntun di semua kompetisi diraih lewat kontribusi 11 pencetak gol berbeda dan sembilan gol dari bola mati.
- Pelatih Julian Schuster menepis ekspektasi tinggi, tetapi konsistensi Freiburg berpotensi mengubah peta persaingan gelar dan tiket Liga Champions.

FREIBURG mencatat start terbaik dalam sejarah keikutsertaan mereka di Bundesliga setelah menggulung Borussia Mönchengladbach 5-0 pada pekan ketiga di Europa-Park Stadion. Kemenangan tersebut mengangkat tim asuhan Julian Schuster ke puncak klasemen, unggul selisih gol atas Borussia Dortmund, dan memastikan mereka setidaknya bertahan di posisi teratas hingga sepekan ke depan.
Dua gol Yannik Engelhardt dan Igor Matanović, ditambah satu gol Maximilian Eggestein, menjadi penentu kemenangan besar yang menyamai rekor kemenangan terbesar era Schuster. Freiburg kini mengoleksi poin sempurna dari tiga laga pembuka, sebuah capaian yang belum pernah mereka raih sebelumnya di kompetisi ini.
Menariknya, keberhasilan ini tidak bertumpu pada satu atau dua pemain. Sebanyak 11 pemain berbeda telah mencetak gol untuk Freiburg musim ini, dengan sembilan di antaranya lahir dari situasi bola mati, termasuk enam dari tendangan sudut. Derry Scherhant, penyerang berusia 23 tahun, menjadi eksekutor utama dengan enam tendangan sudut yang ia ambil, menggeser posisi veteran Vincenzo Grifo dalam hierarki spesialis bola mati. Pergantian generasi juga terlihat di posisi bek kiri, di mana Jordy Makengo mulai menggeser kapten senior Christian Günter.
Kembalinya Engelhardt ke Freiburg menjadi salah satu kisah paling menarik. Setelah meninggalkan klub untuk memperkuat tim cadangan, ia menghabiskan tiga musim bersama Fortuna Düsseldorf, Como, dan Gladbach sebelum kembali pada musim panas ini. Gelandang berusia 25 tahun itu mengaku laga melawan mantan rekan setimnya berjalan istimewa. "Itu menyenangkan, dan pertandingan yang spesial bagi saya melawan mantan rekan setim. Fakta bahwa laga berjalan luar biasa dengan banyak gol dan dua gol saya membuatnya semakin baik," ujarnya. "Untuk saat ini, ini keren dan kami menikmatinya, tapi ini baru pekan ketiga."
Start gemilang Freiburg bukan kebetulan semata. Dalam lima musim terakhir, mereka empat kali finis di posisi tujuh besar Bundesliga dan bahkan mencapai final Liga Europa 2025/26 sebelum dikalahkan Aston Villa di Istanbul. Meski ekspektasi perlahan naik, Schuster tetap berusaha menahan euforia. "Ini konsekuensi logis dari kerja yang sangat teliti. Kami beruntung para pemain juga menjadi bagian dari klub ini dalam jangka panjang, dan ketika ada kontinuitas, hal-hal tertentu bisa menyatu," kata pelatih berusia 41 tahun itu. "Kami baru di pekan ketiga; jika ini pekan ke-32, ceritanya akan berbeda. Untuk saat ini tidak apa-apa, kami tampil baik, dan Anda bisa melihat beberapa hal mulai menyatu. Tapi keadaan bisa berbalik secepat itu juga. Kami bekerja untuk mendapatkan momentum ini, tapi level usaha kami tidak boleh turun."
Konsistensi Freiburg dalam beberapa musim terakhir menunjukkan bahwa klub berjuluk Black Forest ini serius mengancam peta kekuatan tradisional Bundesliga. Dengan komposisi pemain yang merata dan kedalaman skuad yang solid, mereka tidak hanya mengandalkan satu bintang. Keberhasilan mencetak gol dari berbagai posisi, termasuk bek Matthias Ginter yang telah menyumbang tiga assist, menjadi bukti nyata kerja kolektif yang matang.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kebangkitan Freiburg menawarkan perspektif baru: bahwa klub dengan sumber daya terbatas tetap bisa bersaing di liga top Eropa asalkan memiliki stabilitas kepelatihan dan identitas permainan yang jelas. Hal ini relevan dengan diskursus pengembangan sepak bola nasional yang kerap mengandalkan pembinaan usia muda dan konsistensi filosofi permainan.
Ke depan, Freiburg akan menghadapi ujian sesungguhnya: mempertahankan performa di tengah jadwal padat dan tekanan dari klub-klub besar. Jika mampu finis di empat besar, mereka berpeluang mencicipi Liga Champions untuk pertama kalinya. Akankah Freiburg menjadi kuda hitam yang mengganggu dominasi Bayern Munich dan Dortmund, ataukah ini hanya euforia awal musim yang akan sirna seiring berjalannya waktu?



