Pipa Minyak Arab Saudi Ditutup, Ancaman Krisis Energi Global Menguat
Baca dalam 60 detik
- Arab Saudi menghentikan sementara operasional pipa minyak Timur-Barat sepanjang 1.200 km setelah serangan drone, memangkas jalur alternatif utama saat Selat Hormuz terganggu.
- Ketegangan di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb memperparah risiko pasokan, dengan Houthi merebut Pulau Perim dan harga diesel AS menembus rekor.
- Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak dunia berpotensi memperlebar defisit anggaran dan menekan rupiah, sementara impor minyak mentah dan BBM tetap tinggi.

Arab Saudi menangguhkan pengoperasian pipa minyak Timur-Barat sepanjang 1.200 kilometer menyusul serangan drone yang menghantam fasilitas vital tersebut. Penutupan ini menimbulkan kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global, terutama karena pipa tersebut menjadi salah satu jalur alternatif utama ketika Selat Hormuz—gerbang pelayaran minyak paling strategis di dunia—sebagian besar tidak dapat dilalui akibat konflik berkepanjangan.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan langkah itu diambil sebagai tindakan pencegahan. Serangan drone yang menurut otoritas Baghdad dan Riyadh berasal dari Irak menyebabkan sejumlah korban luka dan kerusakan yang masih dalam penilaian. Pipa Timur-Barat, yang membentang dari Provinsi Timur hingga Laut Merah, memiliki kapasitas mengalirkan 4 juta–5 juta barel per hari, setara 4%–5% pasokan minyak global. Penutupan ini memukul mundur kemampuan Arab Saudi mengalihkan ekspor saat jalur laut utama terancam.
Tekanan terhadap pasar energi kian berat karena kelompok Houthi di Yaman memperketat cengkeraman di Laut Merah. Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi melaporkan proyektil yang ditembakkan Houthi melukai dua orang di Jazan dan merusak sejumlah bangunan. Sementara itu, empat sumber pemerintah Yaman menyebut Houthi telah merebut Pulau Perim di tengah Selat Bab el-Mandeb, memperlebar kendali mereka atas jalur pelayaran internasional.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding Iran berada di balik serangan terhadap pipa Saudi. Di saat yang sama, Putra Mahkota Mohammed bin Salman dikabarkan meminta bantuan militer AS untuk menghadapi Houthi, tetapi Washington untuk sementara memilih tidak turun langsung dan hanya menawarkan dukungan intelijen. Situasi ini memperuncing ketegangan geopolitik di kawasan, dengan diplomasi yang masih buntu. Pejabat senior Iran menyatakan pertemuan dengan negara-negara Teluk di Oman pada Senin akan membahas masa depan Selat Hormuz, namun tidak diharapkan menghasilkan kesepakatan tertulis. "Selama pihak Amerika tidak menerima semua syarat Iran, dialog dan negosiasi tidak ada gunanya," kata Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Azizi.
Dampak langsung terasa pada harga energi. Dalam sepekan terakhir, harga minyak melonjak, dan harga diesel ritel di Amerika Serikat menembus rekor US$6 per galon. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat pasokan minyak mentah Arab Saudi telah turun ke level terendah dalam lebih dari tiga dekade. Kombinasi gangguan pipa, blokade Laut Merah, dan ketidakpastian diplomatik meningkatkan risiko terbentuknya krisis pasokan yang lebih luas—sebuah skenario yang oleh sebagian analis disebut sebagai "Kiamat Minyak" bagi pasar energi dunia.
Bagi Indonesia, eskalasi ini bukan sekadar berita internasional. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak dunia akan langsung menekan defisit anggaran melalui subsidi energi dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Rupiah berpotensi melemah seiring meningkatnya permintaan dolar AS sebagai aset safe haven. Pemerintah perlu mengantisipasi lonjakan harga BBM nonsubsidi dan biaya logistik yang dapat memicu inflasi. Sektor energi dalam negeri, terutama perusahaan migas dan batu bara, mungkin diuntungkan oleh harga komoditas yang lebih tinggi, tetapi beban fiskal dan daya beli masyarakat menjadi taruhan.
Ke depan, pertemuan di Oman menjadi satu-satunya harapan meredakan ketegangan, meski peluang kesepakatan konkret tipis. Jika Houthi terus menguasai Bab el-Mandeb dan Iran memperkuat posisinya, jalur energi global akan semakin rentan. Pasar minyak mungkin belum sepenuhnya memperhitungkan skenario terburuk: penutupan total Selat Hormuz. Dalam situasi itu, harga minyak bisa melampaui US$150 per barel, memicu resesi global. Akankah diplomasi mampu mencegahnya, atau kita sedang menuju krisis energi yang lebih dalam?



