Eberechi Eze dan Bayang-Bayang Nicolas Pepe: Rekrutmen Arsenal di Persimpangan
Baca dalam 60 detik
- Eberechi Eze dibeli Arsenal seharga ยฃ67 juta dari Crystal Palace, tetapi performanya belum konsisten meski mencetak 10 gol dan 6 assist di musim debut.
- Kisah Eze mengingatkan pada Nicolas Pepe, rekrutan mahal yang gagal memenuhi ekspektasi dan akhirnya hengkang gratis.
- Manajemen Arsenal di bawah Andrea Berta menghadapi ujian: apakah Eze bisa bangkit atau justru menjadi kesalahan investasi berikutnya.

Arsenal kembali menuai sorotan tajam atas kebijakan transfer mereka. Eberechi Eze, yang didatangkan dari Crystal Palace dengan harga ยฃ67 juta, dinilai belum mampu membayar mahal kepercayaan yang diberikan. Performa pemain berusia 28 tahun itu di awal musim 2026/27 memicu perbandingan dengan Nicolas Pepe, rekrutan mahal yang gagal bersinar di Emirates Stadium.
Eze tiba pada 2025 dengan penuh euforia. Arsenal berhasil menyalip Tottenham Hotspur untuk mendapatkan pemain yang sempat dilepas dari akademi Hale End saat masih anak-anak. Kembalinya Eze ke klub masa kecilnya disambut gembira para pendukung. Namun, satu tahun berselang, ekspektasi tinggi itu belum terwujud. Meski mencatatkan 10 gol dan 6 assist di musim pertamanya, kontribusinya dianggap tidak stabil. Momen gemilang seperti hat-trick melawan Tottenham Hotspur menjadi pengecualian, bukan kebiasaan.
Dalam laga melawan Napoli di Liga Champions pekan lalu, Eze mendapat kesempatan start pertama musim ini. Ia ditarik keluar pada menit ke-66 setelah tampil kurang meyakinkan. Statistik menunjukkan ia hanya memenangkan dua dari tujuh duel dan tidak menyelesaikan satu pun dari dua percobaan dribelnya. Satu peluang besar tercipta melalui umpan sundulan untuk Mikel Merino, tetapi secara keseluruhan ia minim kontribusi.
Kisah Pepe menjadi peringatan nyata. Pada 2019, Arsenal memecahkan rekor transfer klub dengan mendatangkan Pepe dari Lille seharga ยฃ72 juta. Saat itu, manajer Unai Emery sebenarnya menginginkan Wilfried Zaha, yang dianggap lebih siap beradaptasi dengan Liga Inggris. Namun, manajemen memilih Pepe karena lebih muda. Keputusan itu berujung bencana finansial. Pepe mencatatkan 8 gol dan 10 assist di musim pertama, lalu meningkat menjadi 16 gol di musim berikutnya. Meski demikian, konsistensinya diragukan, dan ia perlahan tersingkir seiring munculnya Bukayo Saka. Pada akhirnya, Pepe meninggalkan Arsenal dengan status bebas transfer.
"Saya menginginkan Zaha karena saya bisa melihat dia memenangkan banyak pertandingan sendirian. Saya sudah menonton 20 pertandingan Zaha, beberapa penampilan luar biasa, dan saya katakan bahwa inilah pemain yang saya inginkan. Tapi klub memutuskan Pepe lebih muda; dia untuk masa depan," ujar Emery, seperti dikutip dari pengakuannya.
Rekrutmen Arsenal dalam tiga tahun terakhir memang tergolong cemerlang. Kedatangan Jurrien Timber, Declan Rice, Kai Havertz, David Raya, Riccardo Calafiori, Mikel Merino, Martin Zubimendi, Piero Hincapie, dan Viktor Gyokeres disebut-sebut sebagai fondasi kebangkitan. Klub akhirnya mengakhiri penantian dua dekade untuk gelar Premier League. Namun, sejumlah pembelian yang dilakukan Andrea Berta setahun lalu kini mulai dipertanyakan. Tak satu pun dari mereka menjadi langganan starting XI. Gyokeres hanya bermain 12 menit di Premier League musim ini, Madueke 23 menit, dan Eze 68 menit.
Bagi penggemar Arsenal di Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bagaimana klub besar Eropa mengelola tekanan ekspektasi. Liga Premier yang kompetitif menuntut pemain mahal untuk segera beradaptasi. Kegagalan Eze bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang mulai berinvestasi besar pada pemain asing: pentingnya kesesuaian gaya bermain dan mentalitas, bukan sekadar nama besar. Di sisi lain, keberhasilan Arsenal memenangkan gelar setelah belanja besar menunjukkan bahwa rekrutmen yang tepat adalah kunci, tetapi tidak semua pembelian bisa langsung bersinar.
Masa depan Eze di Arsenal kini dipertanyakan. Dengan kontrak yang masih panjang, ia memiliki waktu untuk membalikkan keadaan. Namun, jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin ia akan menyusul jejak Pepe: hengkang lebih cepat dari yang diharapkan. Akankah Eze mampu membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar bayang-bayang Pepe? Hanya performa di lapangan yang bisa menjawab.



