Neville Murka, Teknologi Offside Semi-Otomatis FIFA Kembali Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Gary Neville mengkritik keras keputusan wasit yang mengesahkan gol Erling Haaland ke gawang Manchester United, menyoroti keterlambatan teknologi offside semi-otomatis.
- Pro Ref mengakui adanya kesalahan penilaian dalam insiden tersebut dan telah menyampaikan permintaan maaf kepada pihak United.
- Kontroversi ini menambah daftar panjang keluhan terhadap efektivitas teknologi garis offside yang dinilai memperlambat permainan dan mengurangi transparansi.

Legenda Manchester United, Gary Neville, meluapkan kemarahannya terhadap keputusan wasit yang mengesahkan gol kemenangan Erling Haaland di Old Trafford, Minggu (6/4/2025). Neville menilai insiden tersebut diperparah oleh keterlambatan teknologi offside semi-otomatis yang digunakan FIFA, sehingga penonton dan komentator dibiarkan menebak-nebak selama beberapa menit.
Pro Ref, badan perwasitan Liga Inggris, mengeluarkan pernyataan resmi pada Minggu malam yang mengakui bahwa gol Haaland seharusnya dianulir karena adanya kesalahan penilaian. Mereka menyatakan bahwa VAR, Matt Donohue, keliru menilai Patrick Dorgu sebagai pemain yang membuat Haaland onside, dan mengabaikan pengaruh posisi offside Enzo Fernandez terhadap bek Lisandro Martinez. Pro Ref telah menghubungi Manchester United untuk menyampaikan permintaan maaf.
"Telah ditetapkan bahwa Enzo Fernandez tidak memainkan bola, sehingga pelanggaran offside menjadi subjektif. Namun, dalam kesempatan ini, VAR tidak mengenali dampak posisinya dan seharusnya merekomendasikan tinjauan lapangan," ujar juru bicara Pro Ref.
Neville, dalam podcastnya, tidak hanya menyoroti kesalahan keputusan tetapi juga mengkritik sistem semi-otomatis yang menurutnya menyembunyikan proses pengambilan keputusan. Ia menyayangkan hilangnya garis-garis virtual yang dulu ditampilkan di layar, yang membuat penonton dapat melihat sendiri apakah seorang pemain offside atau tidak.
"Kami tidak lagi melihat garis-garis di lapangan dan kamera, sehingga penggemar di rumah dan kami semua hanya bisa menduga-duga. Kami semua membayangkan Haaland offside karena dari tayangan biasa ia terlihat offside. Mengapa PGMOL dan Pro Ref tidak langsung menampilkan teknologi otomatis itu untuk menunjukkan bahwa Haaland onside?" kata Neville.
Menurut aturan FIFA, keputusan memang bisa memakan waktu karena grafik 3D yang dihasilkan dari data posisi pemain memerlukan waktu untuk diproses sebelum ditayangkan. Namun, keterlambatan ini telah menjadi sumber frustrasi berulang. Sebelumnya, The Telegraph melaporkan bahwa wasit Liga Inggris semakin kesal dengan teknologi tersebut dan mendesak klub untuk mempertimbangkan penyedia lain, menyusul penundaan lima menit dalam pertandingan semifinal Carabao Cup antara Newcastle dan Manchester City pada Februari lalu.
Kontroversi ini juga menyoroti performa Manchester United yang dinilai mengecewakan. Meski bermain dengan keunggulan jumlah pemain setelah Phil Foden diusir pada menit ke-23 karena tindakan kekerasan terhadap Bruno Fernandes, pasukan Michael Carrick hanya mampu menciptakan 0,04 expected goals. Roy Keane, dalam analisisnya di Sky Sports, bahkan menilai bahwa Bruno Fernandes yang seharusnya dianggap melakukan provokasi.
"Bagi saya, Bruno yang melakukan kekerasan di sini. Saya harus mengatakannya. Saya pernah menyoroti Kyle Walker beberapa tahun lalu. Saya tidak berpikir itu kartu merah untuk Foden," ujar Keane.
Hasil ini membuat Carrick baru mengumpulkan empat poin dari empat pertandingan, dengan dua di antaranya melawan tim yang baru promosi. Pertanyaan pun muncul tentang apakah INEOS, sebagai pemilik baru, cukup mendukung manajer dengan mendatangkan pemain di bursa musim panas, terutama di posisi bek sayap yang tampil kurang mengancam.
Ke depan, tekanan untuk mereformasi teknologi offside akan semakin besar. Jika keterlambatan dan kurangnya transparansi terus berlanjut, bukan tidak mungkin klub-klub Liga Inggris akan menuntut perubahan besar dalam sistem perwasitan. Akankah FIFA dan IFAB segera mengevaluasi penggunaan teknologi ini demi menjaga integritas dan pengalaman menonton sepak bola?



