Indonesia Pionir B50, Jepang dan Eropa Antre Belajar Teknologi Biodiesel Sawit
Baca dalam 60 detik
- Indonesia resmi mengoperasikan solar dengan campuran biodiesel 50% (B50) sejak Juli 2026, menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan level campuran tersebut.
- Keberhasilan ini menarik minat Jepang, Malaysia, dan sejumlah negara Eropa yang ingin mempelajari skema teknis dan regulasi B50 dari Indonesia.
- Program B50 diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp170 triliun, menyerap 2,1 juta tenaga kerja, dan mendorong nilai tambah industri sawit domestik.

Indonesia mencatatkan sejarah baru dalam pengembangan energi terbarukan dengan menjadi negara pertama yang mengimplementasikan campuran biodiesel 50% (B50) pada solar. Keberhasilan ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga memicu minat negara-negara maju seperti Jepang dan sejumlah negara Eropa untuk mempelajari skema teknis serta regulasi yang diterapkan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa posisi Indonesia kini menjadi rujukan dunia dalam pengembangan bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit. "Berbagai uji ketahanan telah dibuktikan oleh pengguna, dan saat road test B50, banyak mesin bermerek Eropa ikut serta. Ini pertama kalinya Indonesia melakukan pengujian ini, dan kini negara-negara lain, termasuk Jepang, Malaysia, dan Eropa, datang belajar ke kami," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Implementasi B50 yang diresmikan Presiden pada 1 Juli 2026 ini merupakan lompatan besar dibandingkan negara lain. Malaysia baru saja mengumumkan B20, sementara Eropa rata-rata menggunakan 7% FAME (Fatty Acid Methyl Ester), dan beberapa negara lain sekitar 10%. Indonesia, dengan B50, telah melampaui capaian tersebut, menunjukkan komitmen kuat dalam transisi energi.
Hingga 7 September 2026, penyaluran biodiesel nasional mencapai 10,69 juta kiloliter (KL), terdiri dari 7,273 juta KL B40 pada semester I-2026 dan 3,4 juta KL B50 sejak Juli. Sebanyak 90% jaringan distribusi, atau sekitar 6.050 SPBU di seluruh Indonesia, telah menyalurkan B50. Pemerintah juga memastikan 76 dari 104 titik serah terminal bahan bakar aktif mendistribusikan produk ini.
Secara ekonomi, program B50 diharapkan memberikan dampak signifikan. Selain menghemat devisa hingga Rp170 triliun, kebijakan ini mampu menyerap 2,1 juta tenaga kerja dan mendorong nilai tambah industri kelapa sawit domestik hingga Rp20,92 triliun. Eniya menekankan bahwa B50 meningkatkan pemanfaatan energi berbasis bahan baku domestik, yang pada akhirnya memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Bagi Indonesia, keberhasilan B50 bukan hanya soal energi, tetapi juga strategi geopolitik. Dengan menjadi rujukan global, Indonesia memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam kerja sama internasional, sekaligus membuka peluang ekspor teknologi dan investasi di sektor hilirisasi sawit. Namun, tantangan tetap ada, seperti memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku dan menjaga keseimbangan antara kebutuhan pangan dan energi.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Indonesia dapat mempertahankan posisi pionir ini dengan mengembangkan B100 atau varian lainnya, serta bagaimana negara-negara lain akan merespons dengan kebijakan serupa. Yang jelas, langkah Indonesia ini telah mengubah peta persaingan energi terbarukan global.



